Si Molek Membela Pesantren

 

*Abdullah Taruna (abditaruna9@gmail.com)

(Bagian II dari serial tulisan sistem pendidikan pesantren)

 

Hari Ahad (Minggu), 20 Mei 1908, pukul Sembilan pagi, di salah satu ruang perkuliahan Kedokteran STOVIA, Soetomo memaparkan gagasannya dalam mendirikan Boedi Oetomo. Ia dengan optimis menyatakan, bahwa masa depan bangsa, dan tanah air ada di tangan mereka. 

Siapa tak kenal organisasi Boedi Oetomo. Generasi 50-an, generasi 80-an, bahkan generasi milenial pun mafhum. Selain mengenal dari belajar sejarah, juga karena tanggal kelahirannya pada setiap 20 Mei diperingati sebagai  Hari Kebangkitan Nasional. Momentum itu pasti mengundang tanya generasi milenial sehingga mereka memahami apa itu Boedi Oetomo.

Dipelopori para priyayi keraton dan para mahasiswa Jurusan Kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Indlansche Artsen) Jakarta, Boedi Oetomo fokus pada kegiatan sosial, ekonomi dan budaya. Mereka tidak berorientasi politik tetapi gerakan sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Pertama-tama yang menjadi program saat baru berdiri adalah Pencerdasan Kehidupan Bangsa. Kerja-kerja nyata para aktivis Boedi Oetomo untuk mewujudkan hal itu salah satunya dengan memperbanyak taman-taman bacaan. Tampak betul bahwa Boedi Oetomo berkonsentrasi kepada ‘perang’ untuk menghapus buta huruf yang saat itu sangat memprihatinkan. Boedi Oetomo yakin, pemerataan pendidikan yang benar akan mendukung perjuangan untuk kemerdekaan bangsanya.

Tak bisa dipungkiri, Boedi Oetomo memang diinisiasi para aristokrat Jawa Madura, dan para mahasiswa kedokteran STOVIA Jakarta. Melihat siapa para avant garde, memang berkesan masih kedaerahan, dan primordial. Mereka yang berpandangan seperti itu menilai Boedi Oetomo merupakan organisasi pergerakan yang berorientasi kebangsaan, namun nasionalismenya masih berskala lokal.

Betapapun menyandang stigma sebagai kaum nasionalis yang tidak utuh, organisasi pergerakan yang digagas dr. Soetomo, dr. Wahidin Sudirohusodo, Gunawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji pada 20 Mei 1908 itu bergeming. Gerakan Boedi Oetomo pantang surut. Keberpihakannya kepada nasib bangsa Hindia Belanda (Indonesia; sekarang) terus ditunjukkan dengan gerakan sosial ekonomi dan budaya yang dijalankan Boedi Oetomo. Tak terkecuali dalam bentuk analisis sosial budaya situasi pada masa itu, yang disampaikan dalam Polemik Kebudayaan pada tahun 1933, salah satunya oleh dr. Soetomo.

Gagasan pendidikan dr. Soetomo menunjukkan siapa sebenarnya dirinya. Ia adalah seorang nasionalis yang selalu berpikir untuk memajukan dan mensejahterahkan bangsanya. Pantas saja stigma nasinalisme lokal itu kemudian tak menyurutkan kecemasan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Penjajah Nederland itu malah khawatir nasionalisme yang dipupuk Boedi Oetomo bakalan meluas. Hal itu bukannya tanpa alasan. Di kalangan orang-orang Belanda, dan pemerintah kolonial sendiri, Boedi Oetomo dipandang sebagai organisasi oosterse renaissance, atau renaissance (kelahiran kembali) di Timur. Mereka menjuluki Boedi Oetomo sebagai “Si Molek telah Bangun”.  Bahkan kalangan Belanda yang sinis, menyebut kelahiran Boedi Oetono dengan istilah begitu nyinyir: “Orang Jawa banyak cingcong”.

Nah, dr. Soetomo adalah salah seorang penggagas dan penggerak Boedi Oetomo. Ia dan juga kawan-kawan sesama aktivis Boedi Oetomo dikategorikan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai “Si Molek telah Bangun”. Dan Dr. Soetomo memang benar-benar telah bangun. Ia dengan pemikiran pendidikannya berbasis pemahaman kebudayaan tanah air yang sangat kuat. Berangkat dari pemahamannya itu, dr. Soetomo  tiada segan meladeni polemik untuk membela sistem pendidikan pondok pesantren, yang merupakan representasi kebudayaan Timur dalam diskursus pertarungan Kebudayaan Barat vs Timur.

Menurut dr. Soetomo, pendidikan pondok pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan yang bersifat lahiriah, tetapi juga batiniah kepada para muridnya.  Dalam sistem pondok pesantren, pengajian murid-murid bukan hanya terjaga melainkan mendapatkan tuntutan dan pengawasan dari kiai selaku guru/pengasuh santri. Kelebihan lainnya setiap murid bisa mendapatkan pengetahuan di luar jam pembelajaran. Mereka bisa belajar adat-istiadat, sopan santun dari patrap yang dicontohkan kiai selaku guru yang tinggal di lingkungan yang sama saban hari,( Jay Akbar: www.tirto.id 02 Juli 2017)

Penilaian dr. Soetomo atas kelebihan pendidikan pesantren itu membuatnya memberikan kritik atas pendidikan sistem Barat yang hanya membekali siswa dengan kemandirian hidup. Menurut dokter lulusan sekolah kedokteran bermazab kebudayaan Barat -STOVIA itu, lembaga pendidikan seharusnya menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, budi pekerti, dan kasih sayang sesama manusia. Dan pesantren, tambah Soetomo, memberikan semua yang sudah semestinya didapat para murid.

Faktanya, sekolah ala Eropa sebagai buah politik etis, hanya mengajarkan hal-hal yang dibutuhkan birokrasi pemerintah kolonial Belanda. Sistem sekolah sekedar mengajar para peserta didik agar menjadi  pegawai rendahan “Ambtenaar”. Ahmad Baso dalam bukunya “Pesantren Studies 2a”(2012) mengutip watak buruk yang diungkapkan dr. Soetomo sebagai hasil pendidikan ala Barat di Hindia Belanda pada masa itu. “Karena itulah, pemuda-pemuda hasil sekolahan ini kebanyakan mempunyai sifat loba (logistisch-materialistisch), dan kegemarannya akan bekerja merdeka kian lama kian berkurang semangatnya,” kata dr. Soetomo.

Pesona kemanfaatan sistem pendidikan pesantren telah menambat ke hati dr.Soetomo, dan para aktivis pergerakan nasional lainnya, terutama Ki Hajar Dewantoro alias Raden Suwardi Surjoningrat. Pendapat dan kritik tersebut bermuara kepada rekomendasi agar sistem pendidikan pesantren yang asli Indonesia itu menjadi roll model sistem pendidikan nasional.

Merasa bertolak belakang dengan dr. Soetomo,  Ki Hajar Dewantoro dan sejumlah tokoh pergerakan nasional, Sutan Takdir Alisjahbana (S.T.A), Sastrawan Balai Pustaka pun menentang rekomendasi itu. Penolakan itu disampaikan S.T.A dalam artikel berjudul “Didikan Barat dan Didikan Pesantren: Menuju ke Masyarakat yang Dinamis”. S.T.A mengungkapkan pendapatnya yang ditulis dengan kalimat bernada sarkas, bahwa kembali ke pesantren berarti kembali kepada “anti intelektualisme, anti-individualisme, anti-egoisme, anti-materialistik”.

Bahkan kemudian S.T.A menggugat pendapat dr. Soetomo bahwa  pendidikan barat itu menyebabkan polarisasi persatuan yang berpusat kepada kiai.

“Apalabila tuan dr. Soetomo mengatakan terpecah-belahnya persatuan yang berpusat kiai itu racun bagi bangsa kita, saya menyebut perpecahan persatuan yang demikian ini ialah obat yang semujarab-mujarabnya,” kata Takdir.

S.T.A lantas balik menuding. “Agaknya tidak berlebihan jika saya berkata bahwa semangat persatuan yang berpusat pada kiai dan pesantren-lah yang menyebabkan jatuhnya bangsa kita,” tandas S.T.A, yang mempertahankan pendapatnya dalam “perang pikiran” sejak 1933 yang kemudian hari kita mengenalnya sebagai “Polemik Kebudayaan”.

Berbasis literatur dan analisis sosialnya pada masa itu, dr. Soetomo pun menjawab serangan argumen  S.T.A. “Anak-nak dari sekolah desa tercerai dari anak-anak sekolahan standar, sedang anak-anak sekolahan HIS dan ELS sudah merasa dirinya lebih tinggi daripada anak-anak lainnya. Faedah pondok dan pesantren-sistem itu sungguh tidak dapat diabaikan,” kata Soetomo dalam tulisan “National-Onderwijs Congres: Menyambut Pemandangan Tuan S.T.A.

Lawan  polemistnya dengan berani menyebut S.T.A mempertahankan pendapat yang sebenarnya mengungkapkan gambaran “modernism tanpa akar”. Toh, polemist dari Balai Pustaka itu membela diri dengan mengajukan distingsi yang sebenarnya menggemaskan perihal penafian kebudayaan pra Indonesia. Sampai pada akhirnya ia mengatakan tentang mutlaknya bangsa kita lebih bersifat dinamis, rasional hingga ia  membuka selubung metode berpikir positivisme yang diunggulkannya-padahal ia tahu dalam konsepsi Auguste Comte sama halnya harus menilai ajaran agama sebagai tak lebih daripada dongeng untuk konsumsi nalar kanak-kanak, (Benni E. Matindas : 03 April 2016).

*Penulis adalah pemerhati sejarah, Staf Pengajar di Akademi Pariwisata Tridaya (APT) Jakarta.

Artikel ini merujuk berbagai sumber:

  1. ”Polemik Kebudayaan”: Achdiat K. Mihardja (Pustaka Jaya)
  2. “Pesantren Studies 2a (2012): Ahmad Baso
  3. “Saat Soetomo dan St. Takdir Berdebat Soal Pesantren”: Jay Akbar (www.tirto.id 02 Juli 2017)
  4. “80 Tahun Polemik Kebudayaan: Benni E. Matindas (Iverdixon Tinungki, Minggu, 03 April 2016)
  5. “The Interplay of East and West. Points of Conflict and Co-operation” (1962): Barbara Ward
  6. “Eastern and Western Cultural Values” (1975): To Thi Anh

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *