#ProfSetijadiBegawanPendidikan
#Tulisan1

*Abdullah Taruna
Setijadi adalah satu dari sekian nama tokoh pedagogik IKIP Jakarta. Ia pantas menyandang status sebagai Begawan pendidikan karena prestasinya dalam membuat terobosan-terobosan untuk meningkatkan capaian belajar para peserta didik, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Tokoh Pedagogik kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 18 April 1929 menghasilkan dua karya fenomenal dan penting di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), yaitu : Pertama: mengimplementasikan gagasan Sekolah Eksperimen yang kemudian menjadi Labschool IKIP Jakarta (Labschool UNJ: sekarang), kedua, mendirikan Universitas Terbuka (UT). Pada zaman itu, kedua institusi pendidikan tersebut masih tergolong baru di Indonesia. Tentu kedua jenis karya LPTK itu akan diperdalam di artikel berikutnya.
Bagaimana Setijadi bisa menjadi pendidik yang tergolong produktif dalam dunia LPTK? Apakah produktivitas gagasan itu kemudian menjadikan dirinya tokoh yang kaku, saklak, dan otoriter?
Mengawali karir sebagai TNI Angkatan Darat 1945-1951 tidak membuat dirinya menjadi seorang yang otoriter. Berangkat dari karirnya di militer itu, Setijadi lalu kuliah di Fakultas Pedagogik Sastra dan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogya (Sarjana Muda 1954). Tahun 1954 – 1957, Setijadi menjadi Asisten Fakultas Pedagogik Sastra dan Filsafat UGM. Karirnya terus meningkat ketika ia dipercaya pemerintah untuk menjadi Asisten Ahli FKIP Universitas Airlangga di Malang pada 1958-1961. Saat itulah Setijadi kemudian berkesempatan meng-upgrade kapasitasnya dengan mengikuti kuliah di Universitas Colorado, AS 1958 dan mendapatkan gelar Master Secondary Education, dan Doktor Filsafat (Ph.D) dalam Educational Psychology dari Universitas Cornell, New York, AS.
Tiga tahun setelah itu, Setijadi dipercaya menjadi Lektor Muda IKIP Malang pada 1961-1965. Lagi-lagi selama menjabat itu tugas mulia itu pula, Setijadi kemudian mendapat tugas pendidikan. Kali itu di Universitas Cornell, Ithaca, New York, AS hingga mendapat gelar Doktor Filsafat (Ph.D) pada 1964. Kapasitas meningkat bersamaan dengan gelar akademik strata 3 itu, terkerek pula karir Setijadi. Sedari 1965 hingga 1969, berturut-turut Setijadi menjadi menjadi Pembantu Dekan I (Pudek) IKIP Malang, dan Purek I di kampus tersebut. Sampai kemudian, Doktor Filsafat Universitas Cornell AS itu menjadi Pembantu Dekan II Pascasarjana IKIP Jakarta pada 1980 hingga menjadi Rektor Universitas Terbuka (UT) pada 1984.
Biarpun berlatar belakang militer, dalam pandangan Jimmy F. Paat, Pengamat dan Aktivis Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Profesor Setijadi tergolong seorang pendidikan yang demokratis. “Pak Setijadi tidak pernah memaksakan konsepsi berpikirnya. Termasuk saat bekerja bersma para dosen di UT,” kata Jimmy Philip Paat saat berbincang dengan saya di sebuah kafe di bilangan Balai Pustaka, Januari 2019.
Jimmy Philip Paat mengambil contoh, saat ada mahasiswa yang dominan menyelesaikan mata kuliah cenderung ke politik, maka Prof Setijadi kemudian mengusulkan agar nantinya akan mendapat gelar sarjana politik. Tapi kata Jimmy F. Paat, para koleganya di UT tidak bersetuju dengan gagasan itu. Kendatipun beliau bisa saja keukeuh (bersikeras) untuk menggolkan gagasan yang terbilang unik, namun sebagai rektor yang memiliki otoritas Setijadi tidak melakukannya.
Jujur saja, fenomena mahasiswa nyeleneh, jurusan akuntansi, tapi ingin membuat skripsi tentang politik, atau bidang yang keluar dari disiplin keilmuan dari dulu, dan mungkin hingga kini pun selalu ada..
Di antara para mahasiswa yang sering berdiskusi dengan Prof.Dr. Setijadi adalah Lody F Paat, dan Jimmy Philip Paat. Lody F. Paat, sebelum menjadi dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, semasa menjadi Ketua Forum Diskusi Eka Prasetia Panca Karsa pernah mempertemukan Prof Setijadi dengan Prof Conny Semiawan dalam diskusi tentang Teori Fisika Kuantumnya David Bohm.
Pesertanya terbatas di ruang Fodim, Gedung G. antai 3. Bagi para mahasiswa gemar diskusi mendalam, Setijadi, sungguh berkesan karena gagasan pendidikannya begitu berbasis literatur dan analisis sosial. Namun tidak selalu kesan itu tentang literature berat-berat. Sebab tidak semua mahasiswa menyukai diskusi yang berat-berat. Di situlah kelebihan Prof Setijadi, kata Saiful, Mantan Kabagmawa IKIP Jakarta 1990-an.
“Para mahasiswa banyak yang senang berdiskusi dengan Prof Setijadi. Walaupun beliau seorang Guru Besar Pendidikan, tapi tidak pernah meremehkan pertanyaan sesederhana apapun yang disampaikan mahasiswa. Beliau tetap menjawab dan menjelaskan masalah yang ditanyakan itu dengan baik,” kata Saiful, alumni UNJ yang kini sudah pensiun dari PNS/ANS.
Perihal kesan baik yang selalu diingat para mahasiswa dari almarhum Prof Setijadi itu, Jimmy Philip Paat tersenyum saat ditanya tentang hal itu. “Pak Setijadi, kalau kita kenal (sama-sama mengenal: RED.), kalau ngobrol ya tertawa,” ungkapnya.
Hanya saja, kata Jimmy F. Paat, Profesor Setijadi dikenal sebagai guru besar yang unik. “Di antara para profesor dianggap aneh. Katanya di Pascasarjana tidak pernah mengajar,” kata Jimmy Philip Paat.
Jadi Profesor Setijadi adalah tokoh pedagogik yang demokratis. Latar belakang karirnya selama di militer tidak membuatnya menjadi sosok anti dialog. Ia adalah Begawan pendidikan yang bersikap terbuka dan cair dalam berkomunikasi.
Satu-satunya yang membekas dari pendidikannya selama di ketentaraan adalah kedisiplinan dalam hidupnya. “Saat menjadi pejabat Litbang Departemen P & K, kalau berangkat ke kantornya di Senayan, Prof. Setijadi lari Rawamangun ke Senayan. Itu kan jauh, walaupun lalu lintasnya tidak sepadat sekarang,” kata Jimmy Philip Paat.
Prof.Dr. Setijadi menjadi Sekretaris Badan Litbang Pendidikan dan Kebudayaan (BP3K) Departemen P & K ( 1970-1974) dan berkantor di Senayan Jakarta. Sejak saat itu, beliau pun mengajar di IKIP Jakarta dan Tinggal di Komplek Perumahan Dosen UI di Jalan Daksinapati Barat II, No. 8, Rawamangun, Jakarta Timur.