
Di antara dua gedung bernama Dewi Sartika dan R. A Kartini, sekumpulan buku tersusun rapih. Kumpulan buku itu, berada di depan dinding melengkung bertulis “Universitas Negeri Jakarta”. Terlihat, seorang pria duduk sembari membaca Novel Drupadi karya Seno Gumira Ajidarma. Sesekali ia menengok ke depan untuk mengecek kumpulan buku di depanya sembari meneguk kopi.
Tempat itu bernama Taman Baca Masyarakat (TBC). Biasanya TBC berlangsung dari pukul 14.00 WIB hingga 17.00 WIB tiap Rabu. Tujuan adanya TBC untuk mengembangkan budaya literasi dasar mahasiswa UNJ, yaitu membaca, menulis, dan berdiskusi.
Zen Asari, anggota TBC menceritakan dibentuknya TBC. Pada Februari 2018, Zen bersama kawan-kawanya mengumpulkan buku untuk disumbangkan kepada anak-anak yang rumahnya mengalami kebarakaran di Jakarta Timur. Ketika ingin disumbangkan, ternyata kebutuhan buku sudah tercukupi.
Mereka pun bingung. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya tercetus gagasan membuat lapak buku. “Akhirnya, TBC pun berjalan sampai sekarang,” kata Zen.
Kini, bagi Zen, TBC dapat menjadi bacaan alternatif untuk mahasiswa. Menurutnya, selama ini mahasiswa hanya membaca buku rekomendasi dari dosen. Dengan kehadiran TBC, Zen berharap mahasiswa dapat memilih berbagai buku di luar bidang studinya. Tujuanya memupuk semangat membaca mahasiswa. “Padahal mahasiswa punya semangat, tapi tidak diwadahi,” kata mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Pendidikan 2016 ini.
Menurut Zen, TBC mampu menciptakan suasana akademik bagi mahasiswa. Zen membedakan dua faktor untuk menciptakan suasana akademik, yakni hubungan dengan dosen dan komunitas literasi. Hubungan baik antara mahasiswa dan dosen dapat menciptakan suasana akademik. Dialog antara keduanya mampu meningkatkan minat liteasi mahasiswa. Meskipun, ia memandang jarang sekali ada dosen mengajak diskusi mahasiswa.
Sedangkan komunitas literasi, dapat menjadi ruang tukar pikiran mahasiswa. Mahasiswa dapat mengeluarkan pendapat sesuai dengan pemikirannya. Bahkan tak jarang, pendapat opini aja si didasarkan dari buku-buku yang dibaca. Oleh karena itu, komunitas juga mampu meningkatkan minat literasi. “Saat ga dateng ke TBC, rugi aja ga diskusi sama mereka, karena gua merasa kurang baca,” kata Zen.
Digelarnya lapak buku mendapatkan respon baik dari mahasiswa. Fajar Subhi, mahasiswa prodi Pendidikan Sosiologi 2015, mengatakan lapak buku menjadi salah satu usaha mahasiswa untuk menumbuhkan habitus intelektual di kalangan civitas akademika UNJ. Sebab, TBC dapat menjadi pemantik untuk meningkatkan daya literasi mahasiswa.
Fajar juga mengatakan kuliah di ruang kelas tidak cukup memenuhi kebutuhan literasi mahasiswa. “Kebutuhan literasi tidak sekedar di kelas, lebih dari itu,” kata Fajar.
Hal senada diungkapkan oleh Egi. Ia mengatakan kehadiran TBC bermanfaat untuk meningkatkan minat baca. Egi menambahkan TBC juga mampu menjadi ruang mahasiswa untuk bertukar pikiran. “Sebuah gerakan yang baik dan bermanfaat bagi mahasiswa,” kata mahasiswa prodi Pendidikan Sosiologi 2017 ini.
Fafa, mahasiswa prodi Biologi 2015 mengakui sangat membutuhkan wadah seperti itu. Ia ingin membuat wadah serupa di fakultasnya, namun tak bisa dilakukan. “Gua butuh wadah itu, tapi ga bisa di FMIPA,” kata Fafa.
Fafa memandang ruang kelas belum maksimal menjadi ruang ekpresi mahasiswa. Waktu yang singkat menjadi salah satu alasan. Fafa juga menambahkan pemberian tugas dari dosen, seperti review jurnal, ditangkap berbeda maknanya oleh mahasiswa. Tujuan dosen memberikan tugas untuk mengembangkan semangat literasi mahasiswa. Sedangkan tujuan mahasiswa ialah mendapatkan nilai. “Sebatas formalitas tugas,” kata Fafa.
Akan tetapi, ia tidak menyalahkan mahasiswa. Baginya dosen juga berperan penting untuk menumbuhkan kesenangan dalam membaca. “Dosen sendiri juga perlu intropeksi, mahasiswa tidak dapat disalahkan,” kata Fafa.