
“Seorang Pedagogikus bukan hanya mengerti tentang Pendidikan melainkan juga mampu berpikir tentang pendidikan”. Begitulah Pedagogikus dikenali ciri-cirinya. Itu menjadi identitas tentang kapasitasnya di dalam pengembangan dunia pendidikan.
Dalam Seminar tentang Penguatan Fungsi Media, dan Launching Portal Berita milik Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ), saya kebagian tugas menjelaskan kenapa Ikatan Alumni UNJ harus meluncurkan website. Saya sampaikan kepada seluruh peserta dan pembicara Seminar “Penguatan Fungsi Edukasi Media”, bahwa UNJ perlu berbenah untuk berkontribusi pada dunia pendidikan nasional. Menumbuhkan gagasan di bidang ilmu pendidikan merupakan khittah UNJ sebagai kampus berlatar belakang konversi IKIP menjadi Universitas. Gagasan CBSA yang pernah dirumuskan Prof.Dr. Conny Semiawan saat menjabat Kepala Pusat Kurikulum Depdikbud RI, juga pentingnya Sekolah Eksperimen dalam dunia pendidikan Indonesia oleh Prof.Setijadi pada akhir 1970-an. Di kemudian hari gagasan Prof. Setijadi mewujud dalam bentuk SMA Labschool di bawah Yayasan IKIP Jakarta. Gagasan brilian dan terobosan LPTK tersebut merupakan buah berpikir pedagogik/Didaktik yang kini mulai langka.
Pada 1970-an Prof. Setijadi sebagaimana diceritakan oleh Pengamat Pendidikan dari UNJ Pak Jimmy F. Paat, membedah dan mengenalkan pemikiran David Joseph Bohm, FRS, seorang fisikawan teoretis Amerika kepada para mahasiswa IKIP Jakarta dalam sebuah diskusi. Dalam disiplin ilmu fisika David Bohm menyumbangkan ide-ide inovatif dan tidak lazim untuk teori kuantum, filsafat budi. Ia dianggap sebagai salah satu fisikawan teoretis yang paling penting dari abad ke-20.
Dalam disiplin ilmu fisika, pandangan Bohm tergolong maju. Menurutnya realitas Cartesian lama, terbatas perkembangannya dalam fisika kuantum. Ia kemudian mengembangkan secara rinci teori implikasi matematika-fisika dan menjelaskan kelengkapannya.
Bohm memperingatkan bahaya kebebasan berpendapat dan teknologi, merujuk pada perlunya dialog sportif yang Ia klaim bisa memperluas, menyatukan konflik dan pembagian masalah dalam dunia sosial. Dalam epistemologi yang disusunnya, sungguh mencerminkan sudut pandang ontologisnya.
Prof.Setijadi, Prof. Conny Semiawan, Prof Winarno Surakhmat, Prof.HAAR Tilaar telah mencurahkan segenap intelektualitas dan waktu mereka untuk memikirkan sumbangsih ilmu pedagogik agar dunia pendidikan mampu melahirkan lulusan yang berkualitas, meraih capaian belajar yang bermanfaat untuk kemandirian diri sendiri, dan orang banyak.
Jadi saya sampaikan tugas kami para redaktur di website Alumni UNJ adalah menularkan gairah intelektual para pakar pedagogik IKIP Jakarta itu agar para mahasiswa UNJ mampu berpikir pedagogik. Harapan kami nantinya akan lahir para didaktikus/pedagogikus di berbagai disiplin ilmu: Sejarah, Sosiologi, Fisika, Kimia, Hukum dan disiplin ilmu lainnya. (Abdullah Taruna)