Jejak Begawan Pendidikan

Jakarta, Universitas Negeri Jakarta memiliki sejarah panjang dalam pergulatan pemikiran yang melahirkan para intelektual yang melintas batas dunia ilmu.

Prof. Dr. Deliar Noor

Pendidik, intelektual dan politisi.  Tiga predikat ini melekat pada mantan Rektor IKIP Jakarta (sekarang UNJ) ini.  Almarhum Prof. Dr. Deliar Noor intelektual kelahiran Medan, Sumatera Utara 1926, ini dikenal kritis terhadap praktek politik Orde Baru di bawah rezim Soeharto.

Namun, semua kritik itu bukan tanpa dasar.  Deliar Noor dikenal sebagai peneliti, dosen, dan ilmuwan yang berintegritas tinggi yang menyadarkan kritisisme pada ilmu pengetahuan.  Karena kecendekiawanan di bidang politik Deliar dikenal sebagai salah satu pengembang dasar-dasar ilmu politik di Indonesia.

Selama hidup, produktivitasnya dalam menulis akarnya menghujam jauh sedari muda.  Mengawali karier sebagai penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) di awal kemerdekaan 1947, dan melakoni pekerjaan sebagai staf Departemen Penerangan di Singapura.  Ia juga pernah menjadi wartawan di koran Berita Indonesia dan majalah bulanan Nusantara.

Menamatkan sarjana di Universitas Nasional, dan kemudian melanjutkan studi S2 hingga meraih doktor di Cornell University Amerika 1960-1963.  Deliar Noor menjadi peraih gelar PhD pertama dari Indonesia untuk bidang ilmu politik di Amerika dengan desertasinya yang kemudian menjadi buku berjudul “Gerakan Modernis Islam di Indonesia 1900-1942”.

Pada tahun 1950, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam Jakarta ini terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus HMI Pusat.  Organisasi kemahasiswaan menjadi tangga  yang mengantarnya dekat dengan tokoh-tokoh gerakan modern Islam Indonesia, seperti Hamka, Natsir dan Mohammad Roem.

Roda kehidupan turun naik.  Sempat sebentar menjadi dosen Universitas Sumatera Utara, kemudian ditangkap aparat Orde Lama karena tuduhan dekat dengan Amerika.  Baru setelah pergantian rezim Orde Baru pada tahun 1967 karier Deliar Noor berkibar dan diangkat sebagai Rektor IKIP Jakarta.

Di era reformasi, ketika partai-partai baru bermunculan, Deliar Noor sempat mendirikan Partai Umat Islam.  Namun, partai ini tidak berkembang setelah tak lolos parlementary treshold.  Deliar Noor meninggal di usia 82 tahun di rumahnya di Komplek Perumahan IKIP Jakarta, kawasan Duren Sawit Jakarta Timur, pada Juni 2008.

 

Prof. Dr. Winarno Surakhmad

Saat kampus-kampus bergolak di akhir tahun 1977 dan awal tahun 1978, Prof Dr. Winarno Surakhmad ini menjadi Rektor IKIP Jakarta (sekarang UNJ).  Winarno yang kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan ini mengawali pendidikan di Fakultas Kependidikan UGM.  Meraih master bidang pendidikan di University State of New York 1958, dan School of Education and Psychology Stanford University  Amerika Serikat, 1963.

Gelar Doktor dia raih dari IKIP Bandung, sekarang Universitas Pendidikan dan menjadi Guru Besar di IIKIP Jakarta.  Dewan Pembina Persatuan Guru Republik Indonesia ini sangat kritis terhadap pemerintah, terkait nasib para pendidik di Indonesia.

Semua ini dilatarbelangi pengalamannya menjadi pengajar di negeri jiran di Malaysia.  Saat itu, karena dianggap  terlalu membela mahasiswa dari Gerakan 77/78, yang membuat Pembantu Rektor III IKIP Jakarta, DR Arief Rahman ditangkap aparat Orde Baru, bersama Ketua Dewan Mahasiswa Hudari Hamid.  Itu semua membuat Winarno kurang disukai pemerintah dan membuatnya memilih hijrah ke Malaysia.

DI negeri jiran itu, ia melihat antusiasme pemerintah Malaysia dalam memajukan pendidkan sebagai investasi sumber daya insani bangsa Melayu.  Khususnya perhatian penuh bagi kesejahteraan tenaga pendidikan.  Inilah yang dirasakan ada gap yang jauh, dibanding di Indonesia yang honor pengajar tak lebih dari upah minimal buruh perkotaan dan ini menjadi keprihatinan bagi Konsultan Pendidikan Nasional untuk lembaga Indonesia Jepang (JICA).

Kegetiran kepada dunia pendidikan dan profesi keguruan oleh Prof Win—panggilan akrabnya—banyak disampaikan lewat berbagai bukunya.  Buku terakhir yang beliau tulis, adalah “Dari Orbit Kegagalan ke Orbit Keberhasilan”.  Terakhir, kritik pedas Dewan Pembina PGRI ini disampaikannya lewat puisi “Sekolah Kandang Ayam” sebagai jeritan melihat masih adanya gedung sekolah yang reyot, pada peringatan Hari Guru 2005 lalu di Surakarta. Kritik ini  membuat Wakil Presiden Jusuf Kalla yang hadir di acara itu meradang.

Prof Winarno berpulang pada Juli 2016 lalu.  Prof Dr. HAR Tilaar, sahabat dan kolega dekat Prof Winarno menyebutnya sebagai ‘begawan pendidikan’ yang konsekuen dan pendamba pendidikan nasional yang mengindonesiakan.

 

Prof. Dr. Conny R Semiawan

Ketika menjadi Rektor IKIP Jakarta 1984-1992, Prof. Dr. Conny R Semiawan, dikenal dekat dengan mahasiswanya.  Sebagai pendidik, ia tahu betul murid-muridnya tak semuanya anak manis yang hanya patuh kepada aturan kampus dan pemerintah.  Kepada mahasiswanya yang kritis, Prof Conny adalah “Ibu pelindung” yang menjauhkan anak-anaknya dari ancaman kekuasaan di luar kampus.

Lahir dari keluarga ningrat Jawa di Ngawi Jawa Timur, Prof Conny dikenal sebagai pendidik yang egaliter. Lulus sarjana pendidikan dari FKIP Universitas Indonesia 1862, dan meraih gelar Doktor IKIP Bandung dan pernah mengenyam pendidikan Ortopedagogik di Belanda 1975 dan Guidance and Counselling di Amerika di tahun 1976.

Meniti karier sebagai guru dan dosen, hingga pernah menjadi Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kepakarannya di dunia pendidikan, diakui berbagai kalangan dan di usianya yang sudah lanjut Prof Conny masih sering tampil sebagai pembicara di berbagai forum diskusi dan seminar.  Pada tahun 2015 lalu, Badan Pendidikan PBB UNESCO memberikan penghargaan kepada Prof. Conny, atas jasanya di bidang kemajuan pendidikan nasional, sains, dan komunikasi.

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, aktif menulis dan bukunya yang tebaru diterbitkan 2017 lalu dengan judul “Strategi Pengembangan Otak”.  Sebelumnya beberapa buku telah ditulis, seperti “Metode Penelitian Kualitatif, dan Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu”. (Edy Budiyarso)

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *