Biografi Singkat Pemikiran Pendidikan Prof. Dr. H.A.R Tilaar

Oleh: Indra Gunawan*

Prof. Dr. H.A.R Tilaar adalah satu dari sekian pemikir pendidikan yang masih eksis memberikan oase pemikirannya pada masalah pendidikan bangsa ini. Selain sebagai pemikir, koleganya yang juga ahli ilmu pendidikan di Universitas Negeri Jakarta, Conny Semiawan menilai, sejak dulu Tilaar kerap berani menyatakan pendapatnya semasa menjabat di IKIP Jakarta – sekarang UNJ. Menurut mantan rektor IKIP itu, Tilaar kerap kali mengemukakan pandangan kritis, bahkan di saat-saat yang tidak diperkirakan. Karena kejujurannya dalam politik tersebut, Conny menilai Tilaar menandainya sebagai a scientist dalam bidangnya yang diakui kawan maupun lawan.

Tilaar pun mewarnai pembicaraan pendidikan pasca reformasi yang dipenuhi dengan situasi pendidikan yang terkena arus komersalisasi. Hal ini menurut aktivis Taman Siswa Darmaningtyas, Tilaar turut melebur bersama masyarakat yang peduli pendidikan, untuk mengoreksi kebijakan pendidikan yang sarat dengan liberalisasi pasca reformasi. Aktivitas Tilaar yang demikian, mematahkan anggapan bila gagasan perubahan hanya berada dalam benak para generasi muda.

Karakter pemikirannya tersebut memang tak lepas dari keluarga dan lingkungannya tumbuh. Ia lahir di Tondano, Sulawesi Utara pada 16 Juni 1932, putra kedua dari tiga bersaudara. Di mana ia dibesarkan dari keluarga yang sangat peduli dan menganggap betapa pentingnya pendidikan bagi manusia. Pendidikan dalam pengertian keluarga Tilaar ini tentu tidak hanya penekanannya pada aspek intelektual semata, tetapi juga pada aspek moral. Keluarganya berpandangan, pendidikan bagi manusia, khususnya anggota keluarganya adalah modal yang lebih penting ketimbang aspek harta materi atau kekayaan. Hal tersebut memang tidak terlepas dari keyakinan keluarga terutama ayahnya yang sangat religius, bahkan ia adalah seorang aktivis gereja Kristen Protestan dan guru sekaligus.

Keluarga Alex Tilaar berasal dari keluarga terpandang. Tapi, suasana kehidupannya sangat sederhana. Tilaar dididik dalam keluarga yang kehidupannya tak lebih mewah dengan masyarakat lain yang tidak memperoleh pendidikan tinggi. Hal ini ditunjukan lewat konsumsi makanan pokok keluarganya berupa nasi jagung yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat kelas buruh perkebunan kelapa pada waktu itu. Di samping pula jiwa altruis ayahnya yang menurut Tilaar kadang menjadi sebab protes dan perdebatan dari anak-anaknya yang melihat kondisi ekonomi keluarga begitu pas-pasan. Penjelasan ayahnya, meskipun kadang difahami kemudian, sangat membekas dalam jiwanya.

Ekosistem Tilaar hidup juga didukung oleh budaya demokrasi dan masyarakat yang bhinneka di alam Minahasa yang sangat mengakar berabad-abad lamanya. Ia berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda latar belakang agama, suku sejak kecil di sana. Sehingga, ini kemudian membentuk suasana kebatinan dan pikirannya dalam memandang hidup yang beraneka ragam. Paham multikultural ini yang kemudian menjadi aspek terpenting dalam minatnya terhadap kajian multikultural dalam pendidikan. Demikianlah tidak heran jika Tilaar menjadi seorang pemikir yang berpandang luas serta pengembara yang terus-menerus mencari dan mencari, serta tidak terjebak pada ortodoksi pemikiran tertentu.

Kemudian,pengalamannya sebagai asisten dosen yang sering mengelilingi Indonesia dan pada saat pengalaman sekolah gurunya di Bandung, menjadi fondasi penting tentang pemikirannya ke depan dalam melihat pendidikan Indonesia dan sentuhan seperti apa untuk memperbaiki pendidikan nasional. Selain itu, suasana kondusif di Amerika untuk melakukan pengembaraan akademik juga turut menentukan seorang Tilaar untuk tidak konservatif dalam meyakini sebuah paradigma. Ia banyak berkenalan dengan dosen-dosen dan kolega yang berbeda latar belakang keahliannya. Sehingga, ia sering mengemukakan jika ilmu pendidikan harus dipadukan dengan ilmu pengetahuan yang multidisiplin. Ia pun menemukan perkembangan dunia pendidikan yang pesat di universitas-universitas Amerika. Sehingga, perkembangan pemikiran Tilaar pun selalu berkaitan dengan perkembangan atau terpengaruh nuansa keilmuan yang up to date.

Seperti ketika pertama kali ia mulai menulis tentang situasi pendidikan dan kepemudaan pada pertengahan ‘70-an. Tulisannya tersebut memperlihatkan kelemahan teori pendidikan yang dikembangkan Orde Baru, sehingga mengakibatkan terjadi protes yang hebat dari para kaum muda, khususnya pelajar. Gagasan Tilaar kemudian menawarkan alternatif pedagogik baru, yakni pedagogik ekosferis. Pedagogik ini sendiri merupakan adopsinya dari khasanah ilmu biologi dan geografi yang kemudian ia perluas menjadi “wawasan kehidupan manusia dalam setiap aspeknya”. Wawasan ekologi ini menurutnya, berkembang pesat di di kalangan intelektual Barat waktu itu. Pendidikan dalam pemikirannya ini harus memperhitungkan pengaruh-pengaruh dari lingkungan hidup si peserta didik. Dengan kata lain, peserta didik harus dipandang tidak terisolasi hanya sebatas dalam ruang kelas atau sekolah.

Sebetulnya, gagasan ini sangat progresif di waktu itu. Karena pemikirannya mirip paradigma Freirian yang selalu memandang pendidikan tidak terlepas dari situasi sosial, budaya, dan politik di mana sekolah, guru dan murid itu berada. Hanya saja, Tilaar memakai istilah ekosferis dan tidak menekankan arena politik atau kekuasaan maupun ideologi yang berpengaruh dalam pendidikan. Hal ini mungkin Tilaar menyadari jika kritiknya harus terlihat samar dan elegan. Sehingga, tidak terlalu mengganggu “kuping” pejabat setia kekuasaan Orde Baru.

Apalagi, ia merupakan pejabat Bappenas, yang merupakan lembaga think tank Orde Baru yang sangat mengutamakan stabilias ekonomi dan politik. Sehingga, sah-sah saja menjadikan pendidikan sebagai alat hegemoni demi terciptanya stabilitas. Jika pun ada perbaikan pendidikan, tentunya pembaharuan pendidikan hanya menjadi pelengkap dari pembangunan ekonomi. Bahkan, pemikiran Tilaar sendiri di IKIP Jakarta, lembaga tempatnya mengajar dan mengabdi, kurang mendapat sambutan positif dari civitas akademikanya.

Seperti pada era 1980-an Tilaar menyoroti ilmu pendidikan yang berkembang di Indonesia waktu itu mereduksi ilmu pendidikan hanya sebatas teknikalitas dalam kelas dan masalah metodologi. Hal ini menurutnya, akibat kuatnya pengaruh pemikiran Behaviorisme dan Freudianisme yang menggantikan filsafat eksistensialisme dan fenomenologi era ’50 sampai ’60-an. Pereduksian dalam ilmu pendidikan ini yang ia sebut sebagai pedagogik konservatif. Dengan memakai ilmu pendidikan seperti itu proses pendidikan hanya berupa proses transmisi kebudayaan semata. Proses pendidikan seperti itu mempunyai pengertian sangat sempit. Padahal menurutnya, proses pendidikan itu berbicara proses pendidikan suatu masyarakat atau suatu bangsa. Namun, hal ini tidak terlalu menjadi pembicaraan di kalangan petinggi universitas waktu itu apalagi berusaha menjadi program pembaruan di dalam sistem pendidikan IKIP Jakarta.

Pada pidato pengukuhan Guru Besarnya pada 1987, H.A.R Tilaar memperkenalkan pedagogik yang baru di Indonesia, bernama “futurisme”. Munculnya “futurisme”ini disebabkan keresahan Tilaar mengenai pendidikan tidak mengantisipasikan perubahan sosial yang terjadi. Pendidikan yang waktu itu baginya telah steril terhadap masa depan. Pendidikan jangan sampai terpaku pada kebutuhan jangka pendek. Pendidikan puas dengan dirinya. Sehingga, pendidikan kehilangan nilai moralnya yang mengakibatkan pada kematian ilmu pendidikan itu sendiri.

Pemikirannya itu masih senafas dengan pedagogik ekosferis yang ia kemukakannya pada 1970-an. Hanya saja, ia memakai “futurisme”, sebab menurutnya, pendidikan tidak hanya harus memperhatikan disiplin dan kondisi sosial, budaya, lingkungan, tetapi juga harus memperhatikan masa depan. Tak bisa dipungkiri jika “futurisme” yang diadopsi Tilaar ini adalah teori baru yang dicetuskan oleh Alfin Toffler dari Barat dan kemudian Soedjatmoko yang memperkenalkannya di Indonesia waktu itu.

Sesudah pensiun menjadi pejabat teras Orde Baru Tilaar semakin produktif menerbitkan buah pikirannya lewat buku. Tema-tema bukunya, kendati masih kental dengan nuansa teknokratnya, seperti tema-tema menajemen pendidikan, ekonomi pendidikan, tetapi Tilaar mulai banyak banyak mengutip pemikir-pemikir pendidikan kritis Seperti Ivan Illich atau pun Paulo Freire. Tak jarang istilah-istilah penulis itu dipakai olehnya, seperti “kebudayaan bisu”, “pendidikan gaya bank” maupun “candu sekolah”. Kritik-kritiknya dan tawaran teroritisnya yang bernas sejak menjabat sebagai akademisi dan teknokrat baru ia praksiskan dalam kehidupan publik pada saat Orde Baru runtuh.

Dengan terbit bukunya pada 1999 yang berjudul Masyarakat Madani Indonesia dan pada tahun 2000 Paradigma Baru Pendidikan Nasional, ia mulai terlihat semakin terpengaruh oleh pemikir-pemikir pedagogik kritis dari luar negeri. Tilaar menyadari ternyata pendidikan tidak terlepas dari konstelasi politik dan dominasi suatu golongan. Hal ini merupakan evolusi pemikiran Tilaar yang sangat tajam. Tidak seperti era ’70-an dan 80-an yang meskipun melakukan banyak pendekatan perihal ilmu pendidikan, tetapi era itu Tilaar masih belum terlihat secara eksplisit bahwa pendidikan merupakan bagian dari arena pertarungan politik.

Tilaar menilai dengan menggunakan pendekatan sosio-politik, pendidikan dapat memberdayakan peserta didik. Sebab ia melihat bahwa tujuan dan proses pendidikan ialah menyadarkan keberadaan dan peranan peserta didik di dalam kehidupan sosial politik, budaya dan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, menurutnya, lembaga pendidikan harus merupakan lembaga dekonstruksi dan rekonstruksi sosial. Yakni memberikan perhatian yang besar terhadap kelompok yang termarginalisasi melalui proses pemberdayaan. Masalah-masalah pokok di dalam pedagogik kritis yaitu melakukan dekonstruksi ideologi dan praktik-praktik diskriminasi di dalam sistem dan proses pendidikan. Tilaar menilai pedagogik kritis merupakan pedagogik yang relevan dalam suatu masyarakat yang sedang mengalami kekacauan pasca tumbangnya diktator Soeharto dan warisan Orba.

Akan tetapi, pada 2002 ia menawarkan aliran pedagogik baru yang ia namai pedagogik transformatif. Yang menurutnya masih dalam kerangka pedagogik kritis namun ia merasa jika pedagogik kritis harus diterjemahkan lewat praksis dan keadaan masyarakat Indonesia. Maka dari itu, penyempurnaan teoritik tersebut bernama pedagogik transformatif. Tilaar menilai pedagogik transformatif berfokus pada individu yang partisipatif di dalam perubahan sosial tujuannya ialah menyadarkan dan mengembangkan potensi individu dalam kehidupan bermasyarakat. Tilaar menegaskan jika peserta didik adalah subjek yang partisipatif dan antisipatif di dalam perubahan sosial. Lembaga pendidikan bagi Tilaar dalam term pedagogik transformatif harus menjadi lembaga dekonstruksi dan sekaligus rekonstruksi sosial seperti halnya pedagogik kritis.

Namun, di dalam pedagogik transformatif ini Tilaar seperti ingin “menghaluskan” strategi perjuangan dalam arena pendidikan agar lebih evolusioner, bukan revolusioner seperti para pemikir pedagogik kritis, Friere dan Giroux misalnya. Tilaar meminjam istilah “Jalan Ketiga” dari Anthonny Giddens yang ingin mendamaikan kontradiksi kapitalisme dan sosialisme-komunisme. Kemudian, fokus studi Tilaar pun dari pembahasan pemikir pedagogik kritis dari luar negeri kemudian beralih lebih banyak menyoroti para pemikir asal Indonesia atau yang sudah eksis di berbagai daerah Indonesia. Bahkan, ia menulis buku pada 2014 lalu tentang Ki Hajar Dewantara. Di sana dia menjelaskan jika paradigma dan konsep pendidikan Ki Hajar sangat kritis. Oleh sebab, itu ia menyebut jika pelopor pedagogik kritis adalah Ki Hajar Dewantara karena mendahului Paulo Freire yang baru mengemukakan pemikirannya pada 1970.

Pasca reformasi juga Tilaar tidak hanya aktif sebagai pemikir pendidikan tetapi juga sebagai aktivis pendidikan yang konsisten dalam melakukan upaya perbaikan pendidikan. Tidak hanya bersifat teoritis seperti ketika ia menjadi pejabat, Tilaar pun sangat berfokus terlibat aktif pada sumbangan pemikiran secara praksis dalam isu-isu kritis pendidikan seperti wujud-wujud komersalisasi pendidikan akibat globalisasi.

Syahdan, dari sini terlihat bahwa pemikiran Tilaar memang mengalami evolusi dari arah humanis liberal bergerak ke arah kritis-radikal. Paradigma humanis liberal Tilaar hanya secara implisit mempersoalkan ideologi dan politik dalam proses pendidikan. Tetapi pasca reformasi pandangannya lebih eksplisit melihat pendidikan sebagai hak asasi manusia, sehingga persoalan pendidikan bukan soal menajerial belaka, melainkan sangat erat terkait dengan persoalan ideologi dan juga politik.

 

Sumber

Conny Semiawan, Alex Tilaar: Kawan Seperjuangan, dalam H.A.R Tilaar, Pendidikan Indonesia Arah Kemana?

Kumpulan makalahnya yang dipublikasikan pada 1980-an di dalam buku Pendidikan dalam Pembangunan Nasional Pendidikan Menyongsong Abad XXI (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), hal. 3

H. A. R Tilaar, Tinjauan Pedagogis Mengenai Pemuda: Suatu Pendekatan Ekosferis dalam Majalah Prisma yang dieditori oleh Taufik Abdullah, Pemuda dan Perubahan Sosial (Jakarta:LP3ES, 1974)

H.A.R Tilaar, Perubahan Sosial dan Pendidikan. Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia. Jakarta: Grasindo, 2002.

*Alumni mahasiswa Pendidikan Sejarah UNJ. Semasa kuliah aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika UNJ. Kini, Indra menjadi guru di SMA 1 Leuwiliang Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *