Pameran Pakaian Korban Kekerasan Seksual

 

 

”Dengan adanya pameran pakaian ini, gua berharap masyarakat empati terhadap korban kekerasan seksual. Tiap pakaian kan ada ceritanya, pasti yang baca engga nyaman, mungkin bisa sedih banget dan marah. Intinya engga nyaman. Baca saja sudah merasakan ketidaknyamanan itu, apalagi korban kekerasan seksual itu. Jadi bisa ngerasain,” kata Naufal.

 

Hendrik Yap

Selain itu, Noval menegaskan korban kekerasan seksual bukan karena pakaian yang digunakan, melainkan pelaku yang ingin melecehkan korban.

Pernyataan itu diutarakan oleh Noval dalam Pameran Pakaian bertema Penindasan dan Diskriminasi Terhadap Perempuan di Indonesia, Selasa, 19 Maret 2019 di Aula Gedung Fakultas Ilmu Sosial. Kegiatan ini diadakan Bem Prodi Pendidikan Sejarah bersama Study and Peace (SPACE) UNJ. Pameran ini merupakan opening untuk Diskusi Publik yang akan diselenggarakan pada Rabu 20 Maret 2019.

Menurut Naufal, anggota SPACE UNJ, pameran diadakan untuk memperingati International Women’s Day. Sebelum bekerja sama, SPACE UNJ dan BEM Prodi Pendidikan Sejarah, masing-masing memiliki niat untuk membuat acara memperingati hari itu. Kemudian, mereka bertemu dan sepakat untuk mengadakan kegiatan bersama. “Idenya sama, jadi kita bikin besar sekalian,” kata Naufal.

Pameran ini menampilkan pakaian yang saat itu digunakan korban kekerasan seksual. Ada sekitar 6 pakaian yang dipamerkan. Naufal mengaku, pakaian yang dipamerkan ialah pakaian hasil replika. Sebab, biasanya, korban kekerasan seksual akan langsung membakar atau membuang pakaian yang digunakan. “Karena trauma, mungkin pakaian di bakar dan di buang. Jadi, tak ada buktinya lagi,” kata Naufal.

Oleh karena itu, SPACE dan Bem Pendidikan Sejarah meminta bantuan kepada LSM atau organisasi masyarakat terkait untuk membuka laporan dari cerita korban kekerasan seksual. Tujuanya, untuk mendapat detail pakaian korban kekerasan seksual. Kemudian, mulai melakukan replika pakaian.

Didit Handika selaku Ketua Bem Prodi Pendidikan Sejarah mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk menimbulkan kesadaran para perempuan. Menurutnya, banyak kaum perempuan yang menerima pelecehan seksual dan diskriminasi. Namun, peluang mereka untuk membela diri kecil.

Selain itu, Didit berharap, pameran ini dapat menangkal pandangan umum bahwa kekerasan seksual terjadi karena pakaian yang digunakan.  “Respon mereka yang pasti terkejut melihat pakaian seperti ini. Misal salah satu baju ini, ia merupakan korban di angkutan umum. Berkerudung  dan berhijab. Tetapi, tetap saja mengalami pelecehan seksual,” kata Didit.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *