Komunitas Pecinta Budaya Jepang di UNJ

 

Fenomena komunitas pecinta budaya Jepang, menjadi tanda seberapa dalam budaya Nipon telah masuk ke dalam pikiran generasi bangsa kita.

 

Hendrik Yap,

Di UNJ, banyak komunitas yang didirikan oleh mahasiswa, salah satunya ialah Jakarta Jepang Lunatic

Club atau JJLC.  Ini merupakan  komunitas pecinta budaya Jepang yang didirikan mahasiswa dari berbagai fakultas di UNJ. Komunitas Jepang ini didirikan sejak 14 September 2012.

 

Putra salah satu pendiri mengatakan JJLC didirikan karena melihat belum ada komunitas pecinta budaya

Jepang di tingkat Universitas. Putra sendiri menyukai Jepang karena Animenya. Ia mengatakan Anime

Jepang memiliki cerita yang menarik. Kemudian, ia mempelajari dan mengenal budaya Jepang. Putra

mengakui ada kemiripan antara budaya Jepang dengan budaya Indonesia, yaitu budaya disiplin

waktunya.

 

Berawal dari hal itu, ia ingin mendirikan komunitas Jepang. Di UNJ, waktu itu, komunitas pecinta budaya

Jepang hanya ada di Hima Bahasa Jepang. “Ada Hima Jepang namun hanya sebatas urusan prodi bahasa Jepang,” kata mahasiswa prodi PTIK 2011 ini.

 

Kemudian, ia mengajak mahasiswa pecinta budaya Jepang lainya untuk mengadakan pertemuan melalui

Grup Facebook. Mereka sepakat mengadakan pertemuan pada 14 September 2012 di UNJ. Ketika hari

tiba, tepat jam 17.00 WIB, delapan mahasiswa datang. Mereka berasal dari berbagai Fakultas di UNJ.

Akhirnya, mereka memutuskan membuat komunitas pecinta budaya Jepang di UNJ.

 

Di samping itu, mereka juga berdiskusi menentukan nama komunitas. Menurut Putra, diskusi berjalan

lumayan alot. “Ada yang ingin menggunakan pure katakana, ada yang simpel namanya Klub Jepang,” kata Putra.

 

Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya nama Jakarta Japan Lunatic Club disepakati. Menurut Putra,

JJLC terdiri dari berbagai kata yang memiliki makna. Menurutnya Jakarta dipilih dari nama Kampus, yaitu

Universitas Negeri Jakarta. Selain itu, Jakarta juga menunjukan kota basis JJLC. Selanjutnya nama Jepang

sesuai dengan fokus peminatan mereka, yaitu budaya Jepang. Kemudian kata Lunatic. Bagi Putra,

Lunatic sering disalahpahami oleh orang lain. Lunatic bukan diartikan gila, melainkan diambil dari nama

monster kelinci di Game Ragnarok Online.

 

“Kita sebenernya mau fokus ke kelincinya, karena waktu itu bulan purnama. Mitos Jepang mengatakan

ketika melihat ke arah bulan, masyarakat melihat Kelinci sedang numbuk mochi, “ kata Putra.

 

Sedangkan, menurut Putra pemilihan nama Club mencerminkan kemajemukan anggota JJLC yang

berasal dari berbagai fakultas. Karena kalau organisasi terlalu kaku,” kata Putra.

 

JJLC juga langsung membentuk struktur pengurus, penetapan pengurus dan agenda JJLC. Tujuanya agar

komunitas ini dapat berjalan.

 

Setelah itu, tiap minggu JJLC mengadakan pertemuan. Pertemuan itu disebut corner mingguan. Tujuan

pertemuan itu untuk sharing ilmu budaya jepang.

 

Selain itu, JJLC juga berencana mengadakan workshop, wisata bersama, mengadakan lomba manga, dan

pembuatan cosplay.

 

Kini, JJLC sudah memiliki ketua baru bernama Yoga Aditya. Tidak jauh berbeda dengan Putra, Yoga

menyukai Jepang karena budayanya. Sejak SMA kelas satu, ia sudah menyukai Jepang. Namun, di SMA,

budaya Jepang tidak dipelajari lebih dalam.

 

Ketika kuliah di UNJ, ia ikut menjadi anggota Komunitas JJLC. Ia mengaku memperoleh pengetahuan

lebih dalam dengan mengikuti JJLC, terutama mengenai perilaku masyarakat Jepang. Menurutnya,

budaya Jepang mengajarkan mengawali sesuatu dengan senyum. Ia mencoba menerapkan hal itu, dan

mengaku mendapatkan hal positif. “Ada aja hal-hal positif yang datang, kalau mulai dari senyuman,”

kata mahasiswa prodi Psikologi 2017 ini.

 

Sebagai Ketua, Yoga mengadakan pertemuan tiap minggu. Pembahasan pertemuan itu diserahkan

kepada masing-masing divisi. Tujuan diskusi itu ialah sharing ilmu antar anggota.Yoga berharap, dengan adanya diskusi itu JJLC dapat menjadi wadah bagi anggota untuk menunjukan

potensinya. “Harapannya, JJLC menjadi wadah atau bahkan panggung bagi tiap tiap anggota untuk

menunjukan potensinya yang terpendam,” kata Yoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *