Kata Para Pakar Pendidikan, IKA UNJ Harus Menindak lanjuti Semdiknas

Jakarta, IKA UNJ, di satu pagi pekan lalu, akun Wattsap milik Prof.Dr. Hafid Abbas sedang aktif. Kata “mengetik” secara virtual tampak sedang render di layar monitor akun WA saya. Satu tanda bahwa Prof. Hafid sedang mengetik pesan di keyboard virtual Ponselnya. Beberapa detik kemudian muncul kalimat yang menjawab pesan wattsap yang saya kirim. “Woow, seru ya, ini baru satu-dua hal yg kita ungkapkan, sudah direspon banyak kalangan. Kita perlu ungkapkan lagi sekian ribu ketimpangan dan paradox lainnya,” ketik Hafid di akun WA.

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut menanggapi respon meme berisi pernyataannya yang beredar di media sosial. “Prof Hafid, dalam waktu kurang dari 3 hari, meme quotation Bapak yang saya sebar ke grup-grup medsos sudah dibaca 1500 netizen,” tulis saya berkabar. Terhitung hingga Rabu, 5 Desember 2018, meme yang disebar di Medsos pada 28 November pagi itu telah dibaca oleh 4500 netizen.

Lalu saya pun menanggapi respon Prof. Hafid yang positif. “Prof, bagaimana langkah LPTK menjawab tantangan Revolusi Industri berbasis Teknologi Informasi Generasi 4.0 ? tanya saya.

Kali ini Jawaban Prof. Hafid tak kalah antusias. “Kita perlu kumpul, tim kecil saja, ajak juga media utk kita soroti semua parados itu,” tulis Prof. Hafid dalam jawabannya.

Ajakan Profesor Hafid Abbas tentu layak disambut. Hal itu merupakan bentuk kepedulian terhadap maju mundurnya Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Segenap Sivitas Akademika UNJ, termasuk alumni UNJ sudah semestinya menyambut ajakan itu.

Di dalam meme tersebut Prof.Dr. Hafid Abbas menyatakan bahwa telah terjadi mismatch_ketidaknyambungan, antara pemberlakuan anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen APBN, setidaknya untuk 10 tahun pertama dengan kualitas pendidikan nasional yang ingin dicapai. Salah satu pernyataan Prof Hafid itu dikutip oleh redaksi dari Seminar Pendidikan Nasional bertema “Merefleksikan 73 Tahun Pendidikan Nasional” (Menggagas Sistem Pendidikan Nasional) yang diselenggarakan Ikatan Alumni (IKA) UNJ pada 20 s.d. 21 November 2018, di Gedung Bung Hatta.

Pakar Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed, juga memberikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Seminar Nasional. “Semoga gagasan yg dihasilkan oleh IKA UNJ mendapat sambutan dan diperhatikan oleh pengambil kebijakan, “ tulis Prof Nana via akun WA.

Tanggapan positif atas sosialisasi meme di Medsos, terutama pelaksanaan Seminar Nasional Pendidikan juga disampaikan oleh Praktisi dan Pengamat Pendidikan Eka T.P. Simanjuntak, MM. Dalam perbincangan di laman akun facebook saya, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan dari Wacana Tata Akademika (WTA) tersebut mengungkapkan pentingnya tindak lanjut kegiatan Semdiknas. “UNJ harus menjadi motor reformasi Pendidikan Indonesia. Sangat baik kalau UNJ bisa menjadi motor perubahan Sistem Pendidikan Indonesia. Kalau UNJ yang bersuara, akan banyak yang mendengarkan,” tulis Eka Simanjuntak dalam komennya di akun FB dan WA.

Apresiasi Eka T.P. Simanjuntak di laman akun FB mendapat sambutan dari Praktisi dan Pemerhati Pendidikan UNJ Jimmy Philip Paat. “Bung Abdullah, saya sependapat dengan Mas Eka. PR kita banyak, harus segera kita selesaikan,” ungkap Jimmy seraya mengucapkan terima kasih kepada Eka T.P. Simanjuntak yang telah berbagi ilmu di UNJ.

Semdiknas di UNJ berlangsung selama dua hari. Beberapa pembicara yang hadir antara lain: Prof. Ing Wardiman Djojonegoro (Mendikbud R.I. 1993-1998), Prof.Dr. Muchlis R. Luddin (Guru Besar UNJ/Irjen Kemendikbud R.I.), dan Robertus Robert (Dosen UNJ). Ketiganya menjadi pembicara pada hari pertama. Sedangkan pada hari kedua, Pembicaranya adalah Prof.Dr. Hafid Abbas, Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed, dan Eka T.P. Simanjuntak, dan Staf Khusus Mendikbud R.I. James Moudow.

Beberapa catatan penting dari seminar menyambut momentum Hari Guru 25 November tersebut di antaranya:

1. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menghadapi tantangan besar seiring Perkembangan Sejarah Manusia
yang memasuki Ero Revolusi Industri Berbasis Teknologi Informasi Generasi 4.0;

2. Gelombang Revolusi Industri 4.0, telah mengubah hampir semua aspek dan tatanan sosial;

3. Pemberlakuan kebijakan alokasi anggaran 20 % APBN terbukti sejak 1 dekade pertama (2002- 2012) tidak berdampak
pada peningkatan kualitas pendidikan. Bahkan hingga tahun 2018 Mutu Pendidikan Indonesia masih jauh dari harapan.
Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia dalam berbagai kategori tertinggal dari negara-negara Asean. Bahkan masih
di bawah Vietnam yang baru belakangan memberlakukan kebijakan alokasi persentase anggaran serupa;

4. Alokasi anggaran 20 % baru berdampak pada pengurangan beban kerja rangkap guru;

5. Sekolah Kejuruan masih menyumbang pengangguran sangat besar bukan karena sempitnya lapangan kerja melainkan karena
kualitas lulusan yang tidak memenui standar dunia kerja;

6. Perlu dirumuskan Kebijakan Pendidikan Link Match dalam perspektif humanis dari mulai sekolah-sekolah
hingga tingkat perguruan tinggi;

7. Kurikulum Nasional terlalu normatif karena muatannya sarat nilai dan karakter. Sebaliknya penalaran yang sangat
dibutuhkan justru minim. Bahkan kurikulum 2013 sudah mendesak untuk dievaluasi;

8. Gelombang Revolusi Industri 4.0, telah menghadapkan manusia pada era disrupsi_era di mana masa depan disuguhkan
pasa masa sekarang berdampak langsung pada dunia pendidikan. Pencanggihan teknologi informasi akan kian menggusur

Pembicara Seminar Pedidikan Foto Bersama

pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan fisik manusia. Bahkan keputusan diterima tidaknya para job seekers (pencari
kerja) nanti bukan lagi oleh keputusan Pimpinan Perusahaan melalui pertimbangan HRD melainkan oleh mesin
algoritma;

9. Menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0, LPTK harus mampu meningkatkan kualitas lulusan tenaga kependidikan (guru
dan manajemen pendidikan) dan para guru itu sendiri sudah semestinya memiliki kompetensi yang diperlukan untuk
membekali peserta didik dengan kemampuan dan ketrampilan untuk menjadi pembelajar mandiri, menguasai serta
memanfaatkan teknologi digital secara mandiri;

10.Pendidikan Konsumen Hijau perlu masuk ke semua mata pelajaran agar masyarakat mampu menjadi konsumen yang
rasional, keputusan konsumsi dilakukan bukan karena akibat rekayasa kebutuhan oleh sektor industri baik korporasi
nasional maupun oleh Multi National Corporation. Sekitar 70 juta ton sampah plastik limbah industri setiap tahun
mencemari lingkungan Indonesia dan sebanyak 3,5 juton mencemari sungai dan perairan. Masuknya Pendidikan Konsumen
Hijau di setiap mata pelajaran menjadi penting agar manfaat ekonomi sektor industri tidak menguap oleh pencemaran
sampah industri, dan perilaku konsumsi masyarakat yang membabi-buta oleh sebab rekayasa kebutuhan masyarakat oleh
sektor industri. (Abdullah Taruna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *