{"id":2199,"date":"2019-11-18T16:29:24","date_gmt":"2019-11-18T16:29:24","guid":{"rendered":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199"},"modified":"2019-11-18T16:34:39","modified_gmt":"2019-11-18T16:34:39","slug":"prof-dr-anna-suhaenah-suparno-bagaimana-ada-ayam-kampung-dibandingkan-dengan-ayam-negeri-bagian-ii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199","title":{"rendered":"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II)."},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Betapapun perguruan tinggi non LPTK merasa optimis program pendidikan guru yang berbiaya tiga kali lebih besar dari guru LPTK itu bakalan berhasil, namun keabsahan lulusannya tetap berada di tangan IKIP.  Program guru terbitan universitas itu gagal.<\/em><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2200\" srcset=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-300x200.jpg 300w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-768x512.jpg 768w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-525x350.jpg 525w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno, Rektor IKIP Jakarta periode 1992-1997, dan Prof. Dr. Sutjipto, Rektor IKIP Jakarta\/UNJ periode 1997-2005. Foto: Daiva Adinata<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Abdullah Taruna,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKemudian UI, IPB minta saya yang menandatangani akta IV-nya. Jadi kami dalam hati yang perih itu harus terus bekerja. Kemudian perwakilan PR II-nya datang (istilah sekarang Warek II: Red.)  ke saya selaku Dekan FIP IKIP Jakarta waktu itu. Ibu kami mohon Ibu bersedia menandatangani akta,\u201d kata mereka seperti diceritakan Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mendapatkan permintaan untuk membubuhkan tanda tangan di akta IV, Prof Anna pun menjawab. \u201cSaya menandatangani tapi saya tidak tahu prosesnya pak, bagaimana saya mau menandatangani ? kata saya. Tapi ini tugas pemerintah Ibu?\u201d kata PR II UI, IPB. Saya Kan nggak mungkin terus menolak. Lalu saya katakan, saya mau menandatangani, tapi syaratnya saya harus melihat proses\u00a0 pembelajarannya,\u201d pinta Anna Suhaenah menyaratkan.\u00a0 <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5589-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2201\" srcset=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5589-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5589-300x200.jpg 300w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5589-768x512.jpg 768w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5589-525x350.jpg 525w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno. Foto : Daiva Adinata.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PR II UI dan IPB pun mengangguk, tanda setuju dengan\npermintaan Dekan FIP IKIP Jakarta periode 1989 Anna Suhaenah Suparno. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cNah ketika saya melihat proses pembelajarannya, mereka dari\nunsur pimpinannya bangga sekali, karena yang <em>drop out<\/em> itu&nbsp; 40 persen. Itu uangnya utangan dari Bank\nDunia. Kita dari DIPA kalau&nbsp; dulu DIP ya\nnamanya, kalau kita dari mata uang rupiah. Jadi saya katakan Bapak tahu itu\nuang pinjaman Bank Dunia, kok bangga ada yang <em>drop out<\/em> sampai 40 persen?\nSaya ingin tahu prosesnya, baru saya mau menandatangani aktanya,\u201d kembali Anna\nSuhaenah mengajukan syarat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kembali PR II UI dan IPB mengangguk, tanda menyetujui syarat\nyang diajukan Dekan FIP IKIP Jakarta Anna Suhaenah Suparno, pada masa itu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Prof-Dr.-Anna-Suhaenah-Suparno-di-meja-diskusi-1024x682.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2203\" srcset=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Prof-Dr.-Anna-Suhaenah-Suparno-di-meja-diskusi-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Prof-Dr.-Anna-Suhaenah-Suparno-di-meja-diskusi-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Prof-Dr.-Anna-Suhaenah-Suparno-di-meja-diskusi-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Prof-Dr.-Anna-Suhaenah-Suparno-di-meja-diskusi-525x350.jpeg 525w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/Prof-Dr.-Anna-Suhaenah-Suparno-di-meja-diskusi.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Forum Diskusi Pedagogik IKA UNJ, Rabu, 18 September 2019.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJadi saya ini rada tengil juga dianggapnya oleh mereka.\nJadi Bapak Ibu adik-adik ini tahu. Kalau MIPA, matematika, Kimia, Biologi,\nFisika, itu <em>nature<\/em> atau hakikatnya itu hirarkhis sekali. Seperti bahasa,\nkalau tidak tahu obyek, tidak tahu transitif intransitif,\u201d ujar Anna Suhaenah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Begitu dipersilahkan menelusuri proses penyebab drop out\nprogram guru D3 MIPA besutan universitas, Anna pun mengajukan pertanyaan mendasar.\n\u201cNah saya katakan, mengapa sampai 40&nbsp;\npersen <em>drop out<\/em>?&nbsp; Lalu\nmereka jawab: oh begini Ibu, waktu <em>middle<\/em> tes, mereka gagal, mereka\nharus mengulang 2 minggu sebelum tes akhir. \u201cYa bergelimpanganlah jatuh ,\nkarena apa? karena MIPA itu hirarkhis ilmunya. Kan kalau tidak paham bilangan\ntidak bisa menambah mengurangi, kalau tidak bisa menambah tidak bisa\nmengalikan, kalau tidak bisa mengalikan tidak bisa menghitung pangkat\/ akar,\nkemudian kalau tidak bisa mengurangi ya tidak bisa membagi. Di dalam fisika\njuga ada hirarkhisnya. Ketika saya menganalogikan kepada mereka. Kita tahu bak\nkontrol, ini supaya tidak bocor, ya harus ada saluran ke bawah. Kalau ketutup\nsampah daun-daunan pohon kan mampet ya harus dibersihkan dulu. Sama dengan\norang-orang yang belajar ilmu-ilmu yang hirarkhis itu, kalau pra syaratnya\ntidak diperbaiki ya nggak akan sampai ke ujung,\u201d ungkap Anna Suhaenah saat\nmengevaluasi proses belajar dan pembelajaran calon guru D3 MIPA universitas .<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5620-1024x683.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2204\" srcset=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5620-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5620-300x200.jpg 300w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5620-768x512.jpg 768w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5620-525x350.jpg 525w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Sekjen IKA UNJ, Dr. Suherman Saji menyerahkan cinderamata untuk Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah berhasil menjelaskan kesalahan dalam proses belajar dan pembelajaran calon guru D3 MIPA oleh Perguruan Tinggi non LPTK, Anna Suhaenah pun mengupas kelemahan para pengajar dari kampus non LPTK. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJangan bangga anda melalaikan proses pendidikan yang ilmunya milik orang LPTK. Jadi evaluasi pendidikan tidak dipahami oleh mereka, prinsip belajar oleh mereka seperti itu. Sejak saat itu lalu pengajarnya diganti dari LPTK. Tapi saya memberikan bukti dulu. Jadi ada perubahan-perubahan tergantung kepada kita itu harus berani saja, jangan minder, kita belajar Psikologi pendidikan, kita belajar psikologi perkembangan dsb, harus bisa diekstrapolasi ke dalam situasi-situasi berbeda. Jadi itu mengenai D3 universitas negeri,\u201d jelas Anna Suhaenah. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anna Suhaenah kemudian menandaskan temuannya atas kegagalan\nguru diploma III produk perguruan tinggi ilmu murni pada masa itu. \u201cDilapangan\nTempo mengadakan penelitian tentang kinerja dan sikap dari lulusan diploma III\nnon LPTK, ternyata yang LPTK unggul di lapangan. Jadi pembentukan sikap\nprofesional, kecintaan kepada anak, nawaitu (niat: Red.) yang berbeda, sebab\nketika ditanya kenapa sih mengambil D3 di UI untuk mengajar, jawabnya, ya kan\npakai jaket kuning. Ternyata ada yang menjawab seperti itu. Jadi jaket kuning\nitu ternyata gengsi. Ketika hasilnya seperti itu, seperti dari ITB mengomentari\n<em>ah<\/em> itu kan sampelnya yang nggak bener.&nbsp;\nJadi ada yang membela diri seperti itu, kita akan terus disorot,\u201d kata\nProf Anna Suhaena.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai di sini, kita tidak hendak mengambil kesimpulan bahwa\ndengan biaya yang hanya 1\/3 guru D3 perguruan non LPTK, para guru lulusan IKIP\njauh lebih profesional dan bermutu. Biarlah hal itu menjadi renungan bersama\npara pemangku kebijakan pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Program Gagal<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam makalah berjudul \u201cParadigma Baru Pembentukan dan Pengembangan Kompetensi Guru dan Implikasi Kelembagaannya\u201d, yang disampaikan Prof. Dr. H.A.R. Tilaar dalam Dies Natalis ke- 34 IKIP Yogyakarta, pada 18 Mei 1998, Pakar Pendidikan dari UNJ tersebut menyatakan bahwa program guru D3 terbitan LPTK tersebut gagal. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cLihat misalnya suatu proyek yang dibiayai dari pinjaman Bank Dunia yaitu PGSD telah mengalami abortus sebelum kita menikmati hasilnya. Hal ini disebabkan karena ketiadaan rencana yang matang di dalam usaha meningkatkan mutu gurunya. Keluhan masyarakat terhadap mutu pendidikan kita pada berbagai jenjang dan jenis pendidikan adalah sebenarnya merupakan refleksi dari mutu guru yang rendah,\u201d tulis Prof. Dr. H.A.R. Tilaar dalam makalah tersebut, (lihat \u201cMembina Profesi Guru Indonesia Abad 21, hal. 13)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Betapapun perguruan tinggi non LPTK merasa optimis program pendidikan guru yang berbiaya tiga kali lebih besar dari guru LPTK itu bakalan berhasil, namun keabsahan lulusannya tetap berada di tangan IKIP. Program guru terbitan universitas itu gagal. Abdullah Taruna, \u201cKemudian UI, <a href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-2199","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II). - IKA UNJ<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II). - IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Betapapun perguruan tinggi non LPTK merasa optimis program pendidikan guru yang berbiaya tiga kali lebih besar dari guru LPTK itu bakalan berhasil, namun keabsahan lulusannya tetap berada di tangan IKIP. Program guru terbitan universitas itu gagal. Abdullah Taruna, \u201cKemudian UI, Read More ...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-11-18T16:29:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-11-18T16:34:39+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199\"},\"author\":{\"name\":\"IKA UNJ\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"headline\":\"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II).\",\"datePublished\":\"2019-11-18T16:29:24+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-18T16:34:39+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199\"},\"wordCount\":899,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/11\\\/IMG_5490-1024x683.jpg\",\"articleSection\":[\"BERITA\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199\",\"name\":\"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II). - IKA UNJ\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/11\\\/IMG_5490-1024x683.jpg\",\"datePublished\":\"2019-11-18T16:29:24+00:00\",\"dateModified\":\"2019-11-18T16:34:39+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#primaryimage\",\"url\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/11\\\/IMG_5490-1024x683.jpg\",\"contentUrl\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/11\\\/IMG_5490-1024x683.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=2199#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II).\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"description\":\"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"IKA UNJ\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II). - IKA UNJ","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II). - IKA UNJ","og_description":"Betapapun perguruan tinggi non LPTK merasa optimis program pendidikan guru yang berbiaya tiga kali lebih besar dari guru LPTK itu bakalan berhasil, namun keabsahan lulusannya tetap berada di tangan IKIP. Program guru terbitan universitas itu gagal. Abdullah Taruna, \u201cKemudian UI, Read More ...","og_url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199","og_site_name":"IKA UNJ","article_published_time":"2019-11-18T16:29:24+00:00","article_modified_time":"2019-11-18T16:34:39+00:00","og_image":[{"url":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg","type":"","width":"","height":""}],"author":"IKA UNJ","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"IKA UNJ","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199"},"author":{"name":"IKA UNJ","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"headline":"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II).","datePublished":"2019-11-18T16:29:24+00:00","dateModified":"2019-11-18T16:34:39+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199"},"wordCount":899,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg","articleSection":["BERITA"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199","name":"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II). - IKA UNJ","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg","datePublished":"2019-11-18T16:29:24+00:00","dateModified":"2019-11-18T16:34:39+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#primaryimage","url":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg","contentUrl":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/11\/IMG_5490-1024x683.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=2199#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri (bagian II)."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/","name":"IKA UNJ","description":"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513","name":"IKA UNJ","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","caption":"IKA UNJ"},"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2199"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2199\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2207,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2199\/revisions\/2207"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}