{"id":1829,"date":"2019-07-26T12:53:27","date_gmt":"2019-07-26T12:53:27","guid":{"rendered":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829"},"modified":"2019-07-26T13:01:18","modified_gmt":"2019-07-26T13:01:18","slug":"sy-soal-kompetensi-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829","title":{"rendered":"Mempersoalkan Kompetensi Guru"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1830\" src=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"216\" srcset=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg 300w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-768x553.jpeg 768w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg.jpeg 774w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Oleh: *Syarifudin Yunus<\/p>\n<p>Tahun ajaran baru 2019\/2020 telah dimulai. Liburan sekolah telah usai. Di saat yang sama, diskurus tentang guru bisa dikatakan \u201ctak lekang oleh waktu\u201d. Karena guru dianggap \u201cgerbang terdepan\u201d dalam membentuk kecerdasan dan karakter siswa. Namun di sisi lain, guru pun tidak luput dari beragam problematika yang dihadapinya. Sebut saja, soal kasus guru Baiq Nuril yang kini berjuang meminta amnesti. Ia \u201cterpaksa\u201d divonis bersalah akibat pelanggaran UU ITE karena dianggap menyebarkan rekaman telepon mesum seorang kepala sekolah. Belum lagi viralnya video seorang guru yang di-bully beberapa siswanya di kelas. Atau bahkan, guru yang\u00a0memukul salah satu siswanya di dalam kelas dengan sepatu.<\/p>\n<p>Bahkan masih terjadinya praktik politik praktis di sekolah,\u00a0kekerasan di sekolah, pelecehan seksual, hingga lingkungan sekolah yang dianggap belum ramah anak seakan tidak bisa dipisahkan dari guru.\u00a0Berbagai problematika yang dihadapi dunia pendidikan\u00a0pun kerap kali guru yang menjadi sasaran tembak.<\/p>\n<p>Ironisnya lagi, data UNESCO dalam\u00a0<em>Global Education Monitoring (GEM) Report 2016,\u00a0<\/em>pendidikan di Indonesia hanya menempati peringkat ke-10 dari 14 negara berkembang. Sedangkan komponen penting dalam pendidikan yaitu guru menempati urutan ke-14 dari 14 negara berkembang di dunia. Belum lagi angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari United Nations Development Programme (UNDP) tahun 2016, Indonesia hanya meraih angka 0,689 berada di peringkat 113 dari 188 negara. Di level ini, kualitas guru patut dipersoalkan.<\/p>\n<p>Guru, memang patut dipersoalkan. Masihkah digugu dan ditiru?\u00a0Ada banyak indikator untuk menempatkan guru sebagai sosok yang layak digugu dan ditiru. Tergantung cara pandang kita tentang guru. Namun, setidaknya\u00a0ada\u00a0dua indikator\u00a0untuk mengukur kualitas guru, yaitu kompetensi dan sikap. Seharusnya, guru dapat digugu karena kompetensinya. Guru dapat ditiru karena sikapnya. Guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar di depan kelas.\u00a0Tapi guru dituntut untuk mampu mengembangkan kemampuan dan kecerdasan siswa secara komprehensif, baik intelektual, emosional, dan spiritual. Bahkan guru kini, dianggap menjadi sosok sentral dalam membentuk karakter siswa.<\/p>\n<p>Siapapun yang menjalankan profesi sebagai guru harus memiliki kepekaan terhadap berbagai realitas dan dinamika kehidupan. Guru tidak hanya dituntut agar mampu melakukan transformasi ilmu dan pengetahuan kepada siswa semata. Tapi guru juga harus memiliki tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Merencanakan pelajaran dengan baik, mengajar secara optimal, dan mampu mengevaluasi hasil belajar secara objektif menjadi agenda penting profesi guru. Harus diingat,\u00a0kompetensi\u00a0guru tidak dinilai dari gelar sarjana yang dimilikinya atau bahkan kelulusan program sertifikasi yang diperolehnya. Kompetensi\u00a0guru pada dasarnya tercermin melalui kualitas siswa atau anak didik yang dihasilkannya.<\/p>\n<p>Guru semakin memiliki peran sentral karena dianggap sebagai ujung tombak pencapaian tujuan pendidikan. Pada UU No. 20\/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah 1) mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, 2) mengembangkan kesehatan dan akhlak mulia dari peserta didik, dan 3) membentuk peserta didik yang terampil, kreatif, dan mandiri. Tujuan ini menjadi isyarat bahwa guru merupakan garda terdepan yang menentukan kualitas pendidikan nasional, tentu dengan segala masalah dan realitas yang dihadapinya. Dalam orientasi belajar, guru harus mampu mengoptimalkan proses pembelajaran di kelas, yang\u00a0tidak\u00a0hanya\u00a0terbatas pada kemampuan kognitif siswa tetapi juga afektif dan psikomotor. Intinya, guru harus lebih kreatif dalam mengajar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sosok\u00a0<\/strong><strong>Kompeten<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2018, jumlah guru di Indonesia mencapai 3,1 juta. Namun faktanya, masih terdapat 25% guru yang belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52% di antaranya belum memiliki sertifikat profesi. Kondisi ini, tentu menjadi potret singkat tentang kompetensi guru.\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Guru\u00a0yang kompeten harus\u00a0memahami problematika\u00a0belajar.\u00a0Belajar bukanlah proses untuk menjadikan siswa sebagai \u201cahli\u201d pada disiplin ilmu tertentu. Belajar adalah proses agar siswa dapat menemukan potensi dan jati dirinya terhadap disiplin ilmu. Dengan belajar, siswa seharusnya mendapat ruang yang lebih besar untuk menambah \u201cpengalaman\u201d. Siswa lebih membutuhkan \u2018pengalaman\u201d dalam belajar, bukan \u201cpengetahuan\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Dalam konteks inilah, guru harus memiliki kompetensi yang cukup dalam proses pembelajaran.\u00a0Proses belajar-mengajar dengan sistem\u00a0<em>top-down<\/em>\u00a0yang masih dipraktikkkan guru di kelas harus dihilangan. Anggapan siswa tidak memiliki pengetahuan dan guru berkuasa membentuk siswa sesuai keinginannya sangat tidak tepat. Guru ibarat \u201cteko\u201d dan siswa ibarat \u201cgelas\u201d sama sekali tidak benar. Karena sistem\u00a0<em>top-down<\/em>\u00a0yang masih diterapkan di sekolah akan menghasilkan manusia yang hanya dapat memenuhi kebutuhan zaman. Sedangkan untuk menciptakan generasi yang kritis dan kreatif menjadi terabaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Guru yang kompeten adalah guru yang dapat mengubah kurikulum pembelajaran menjadi unit pelajaran yang mampu menembus ruang-ruang kelas. Kelas sebagai ruang sentral interaksi guru dan siswa harus dibuat bergairah. Kurikulum tidak semestinya mengungkung kreativitas guru dalam mengajar. Kurikulum, yang katanya sudah memadai harus benar-benar dapat diwujudkan dalam praktik kegiatan belajar-mengajar yang optimal, tidak hanya menjadi simbol dalam memenuhi target pembelajaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Kesan pembelajaran di sekolah saat ini hanya mengarah pada penguasaan materi pelajaran harus dapat diubah menjadi kompetensi siswa. Guru sebaiknya menjadi sosok yang tidak dominan di dalam kelas. Cara mengajar guru yang sekadar duduk di depan kelas atau bertumpu pada ceramah menjadi bukti kurangnya kompetensi guru. Penciptaan suasana belajar yang dinamis, produktif, dan profesional harus menjadi spirit bagi para guru. Dengan demikian, guru memang pantas menjadi sosok yang dapat membentuk kepribadian siswa yang kokoh, baik secara intelektual, moral, maupun spiritual. Pentingnya kompetensi guru ini juga ditegaskan dalam UU No.14\/2005 tentang Guru dan Dosen, yang menyatakan \u201cguru harus memiliki kompetensi pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian.\u201d. Sekali lagi, guru layak \u2018digugu\u201d apabila memiliki kompetensi yang dapat dipercaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\"><strong>Sikap Profesional<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sikap adalah indikator guru\u00a0agar\u00a0pantas ditiru. Sekalipun sibuk mengurus sertifikasi atau kesejahteraan, guru harus memiliki sikap bangga dan patriotrik terhadap profesi yang dipilihnya.\u00a0Masih banyak guru yang bersikap kurang positif terhadap mata pelajaran yang diajarnya.\u00a0Bangga mengajar mata pelajaran yang menjadi spesialisasinya adalah sikap guru yang utama. Sikap bangga inilah yang akan menjadikan guru lebih bergairah dalam mengajar. Siswa pun akan lebih tertarik dalam belajar. Maka\u00a0sikapdalam mengajar\u00a0adalah keteladanan siswa terhadap mata pelajaran yang diikutinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Proses pembelajaran di kelas yang monoton dan membosankan, harus diakui lebih banyak disebabkan oleh lemahnya sikap guru dalam mengajar. Siswa yang malas mengikuti pelajaran tertentu lebih banyak dipengaruhi oleh sikap guru yang acuh terhadap mata pelajarannya sendiri. Kondisi ini menjadikan siswa tidak bergairah,\u00a0<em>under estimate<\/em>\u00a0saat mengikuti pelajaran di kelas. Konsekuensinya, siswa tidak memiliki kesadaran dan pemahaman akan pentingnya mata pelajaran yang diajar guru tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Berawal dari sikap ini pula, pada gilirannya guru enggan mengikuti \u201cpeningkatan keprofesian berkelanjutan (PKB)\u201d. Upaya pengembangan diri guru yang tidak optimal jelas menjadi penghalang guru untuk menjadi guru profesional.\u00a0Rendahnya minat dan kemampuan publikasi ilmiah adalah masalah serius. Maka, karya inovatif yang dihasilkan guru pun tidak memadai. Semua itu bersumber pada sikap guru yang terbilang \u2018malas\u201d meningkatkan keprofesian berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Upaya membenahi sikap guru dalam mengajar menjadi sangat penting. Sikap guru merupakan cerminan kualitas dan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, beberapa indikator penting bagi guru untuk membenahi sikap dalam mengajar antara lain: 1) memiliki orientasi pembelajaran yang bersifat praktis, bukan teoretik, 2)\u00a0menjadkan belajar sebagai sarana siswa\u00a0memperoleh pengalaman, 3) berorientasi pada kompetensi siswa, 4)\u00a0mampu\u00a0menyederhanakan materi pelajaran, dan\u00a05) memiliki metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Jika demikian, guru pantas \u2018ditiru\u201d apabila memiliki sikap dalam pembelajaran yang dapat diteladani.<\/p>\n<p style=\"text-align: left;\">Sebagai penutup, guru yang layak digugu dan ditiru pada dasarnya pasti dapat direalisasikan. Sejauh dilandasi kompetensi dan sikap yang positif dalam mengajar.\u00a0Guru dapat digugu apabila layak menjadi sosok yang\u00a0dapat percaya. Guru pantas ditiru apabila\u00a0mampu\u00a0menjadi\u00a0sosok yang dapat diteladani siswanya. Oleh karena itu, guru harus melibatkan hati dalam mengajar, tidak cukup hanya pikiran. Kompetensi dan sikap guru adalah agenda penting profesi guru\u00a0yang harus diprioritaskan\u00a0saat ini dan di masa mendatang.\u00a0Karena untuk apa jumlah guru meningkat terus tapi tidak diimbangi dengan kompetensi dan sikap yang berkualitas?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>*Penulis adalah Alumni Universitas Negeri Jakarta, Dosen Unindra,\u00a0Mahasiswa S3 Manajemen Pendidikan Unpak<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Oleh: *Syarifudin Yunus Tahun ajaran baru 2019\/2020 telah dimulai. Liburan sekolah telah usai. Di saat yang sama, diskurus tentang guru bisa dikatakan \u201ctak lekang oleh waktu\u201d. Karena guru dianggap \u201cgerbang terdepan\u201d dalam membentuk kecerdasan dan karakter siswa. <a href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1829","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mempersoalkan Kompetensi Guru - IKA UNJ<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mempersoalkan Kompetensi Guru - IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"&nbsp; &nbsp; &nbsp; Oleh: *Syarifudin Yunus Tahun ajaran baru 2019\/2020 telah dimulai. Liburan sekolah telah usai. Di saat yang sama, diskurus tentang guru bisa dikatakan \u201ctak lekang oleh waktu\u201d. Karena guru dianggap \u201cgerbang terdepan\u201d dalam membentuk kecerdasan dan karakter siswa. Read More ...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2019-07-26T12:53:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2019-07-26T13:01:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829\"},\"author\":{\"name\":\"IKA UNJ\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"headline\":\"Mempersoalkan Kompetensi Guru\",\"datePublished\":\"2019-07-26T12:53:27+00:00\",\"dateModified\":\"2019-07-26T13:01:18+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829\"},\"wordCount\":1232,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg\",\"articleSection\":[\"OPINI\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829\",\"name\":\"Mempersoalkan Kompetensi Guru - IKA UNJ\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg\",\"datePublished\":\"2019-07-26T12:53:27+00:00\",\"dateModified\":\"2019-07-26T13:01:18+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#primaryimage\",\"url\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg\",\"contentUrl\":\"http:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2019\\\/07\\\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1829#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mempersoalkan Kompetensi Guru\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"description\":\"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"IKA UNJ\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mempersoalkan Kompetensi Guru - IKA UNJ","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Mempersoalkan Kompetensi Guru - IKA UNJ","og_description":"&nbsp; &nbsp; &nbsp; Oleh: *Syarifudin Yunus Tahun ajaran baru 2019\/2020 telah dimulai. Liburan sekolah telah usai. Di saat yang sama, diskurus tentang guru bisa dikatakan \u201ctak lekang oleh waktu\u201d. Karena guru dianggap \u201cgerbang terdepan\u201d dalam membentuk kecerdasan dan karakter siswa. Read More ...","og_url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829","og_site_name":"IKA UNJ","article_published_time":"2019-07-26T12:53:27+00:00","article_modified_time":"2019-07-26T13:01:18+00:00","og_image":[{"url":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg","type":"","width":"","height":""}],"author":"IKA UNJ","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"IKA UNJ","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829"},"author":{"name":"IKA UNJ","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"headline":"Mempersoalkan Kompetensi Guru","datePublished":"2019-07-26T12:53:27+00:00","dateModified":"2019-07-26T13:01:18+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829"},"wordCount":1232,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg","articleSection":["OPINI"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829","name":"Mempersoalkan Kompetensi Guru - IKA UNJ","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#primaryimage"},"thumbnailUrl":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg","datePublished":"2019-07-26T12:53:27+00:00","dateModified":"2019-07-26T13:01:18+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#primaryimage","url":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg","contentUrl":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2019\/07\/Syarif-Yunus-Ngajar.jpg-300x216.jpeg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1829#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mempersoalkan Kompetensi Guru"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/","name":"IKA UNJ","description":"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513","name":"IKA UNJ","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","caption":"IKA UNJ"},"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1829","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1829"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1829\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1834,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1829\/revisions\/1834"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1829"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1829"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1829"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}