{"id":1339,"date":"2018-12-17T07:09:08","date_gmt":"2018-12-17T07:09:08","guid":{"rendered":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339"},"modified":"2018-12-17T07:57:27","modified_gmt":"2018-12-17T07:57:27","slug":"berpikir-lateral-berpikir-menyamping-bukan-menyimpang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339","title":{"rendered":"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Aries Musnandar*<\/p>\n<p>Kekuatan <em>aqliyya<\/em> (akal) merupakan senjata berpikir manusia moderen. Namun sesungguhnya konstruksi konsep berpikir tidak hanya bersandar pada alur ilmiah dan logis yang bersifat linier. Tetapi juga <em>beyond the <\/em><em>l<\/em><em>inier thinking<\/em> atau <em>out <\/em><em>of <\/em><em>the box<\/em> yakni cara-cara berpikir kreatif \u201cmenyamping\u201d yang disebut \u201clateral thinking\u201d (Edward de Bono, The Use of Lateral Thinking, 1967).<\/p>\n<p>Alur ilmiah dalam tataran paradigma positivisme sangat berguna dan mutlak diperlukan keberadaannya bagi pengembangan ilmu pasti alam (<em>exacta and natural science<\/em>). Pada sisi ini kekuatan berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em> memang sangat perlu ditumbuhkan karena terkait dengan konsistensi pada hasil keilmuan. Sesuatu disebut ilmiah dalam arti terukur dan empirik apabila proses dan prosedur yang dilalui mengikuti kaidah ilmiah yang telah tertata secara linier. Semakin ketat, <em>rigid<\/em> dan prosedural urut-urutan proses dilakukan semakin bagus hasil yang akan diperoleh.<\/p>\n<p>Proses ini diperlukan dalam mengembangkan produk-produk yang dihasilkan dari bidang keilmuan yang dipayungi oleh paradigma positivistik. Oleh karenanya, penelitian ilmu alam, ilmu eksakta, dan ilmu-ilmu diluar ilmu kemanusiaan amat cocok untuk mengembangkan prosedur linier ini.<\/p>\n<p>Pada dasarnya berpikir <em>lateral<\/em> mengajak kita untuk pindah dari eksistensi ide yang sudah ada ke suatu ide baru yang berbeda namun memiliki hubungan dengan ide awal. Jadi, berpikir <em>lateral<\/em> merupakan hal yang terkait dengan kondisi-situasi mengemuka. Hanya saja berpikir secara <em>lateral<\/em> bukan menciptakan ide baru secara <em>l<\/em><em>inier<\/em> yang berurutan tetapi menemukannya secara \u201cmenyamping\u201d.<\/p>\n<p>Berpikir kritis dalam konteks penerapan berpikir <em>lateral<\/em> merupakan keniscayaan yang mengejawantahkan tumbuh\u2013kembangnya \u00a0cikal bakal produk-produk kreativitas manusia. Kalau berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em> mengajak kita mengungkapkan gagasan secara berurutan dan <em>ajeg<\/em>, maka berpikir <em>lateral<\/em> sebaliknya, ia mengajak kita agak \u201cnyeleneh\u201d dan tak mesti berurutan disesuaikan dengan azas pemanfaatannya.<\/p>\n<p>Pada sisi tertentu dalam pembinaan sumber daya manusia (SDM) ruang berpikir <em>linier<\/em> diperlukan. Tetapi, pada titik lainnya implementasi dari pemikiran <em>lateral<\/em> yang dibutuhkan dan didorong untuk terwujud agar organisasi dapat mengantisipasi perkembangan dari dinamika organisasi. Dalam konteks ini baik berpikir <em>linier<\/em> maupun berpikir <em>lateral<\/em> sebaiknya memperoleh tempat yang seimbang dan dapat dimanfaatkan sesuai peruntukkan.<\/p>\n<p>Pada saat ini diketahui bahwa dominasi pemecahan masalah dalam dunia pendidikan lebih pada cara-cara berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em> yang mengikuti alur prosedur ala ilmu-ilmu alam dan eksakta yang <em>rigid<\/em>, pasti, ajeg, terukur dan empirik. Cara berpikir ini terus merambah ke ilmu-ilmu lain yang sebenarnya <em>nature<\/em> dan sifat keilmuannya berbeda. Ibarat virus, penyebaran cara berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em> terus merasuk ke relung-relung kehidupan manusia sehari-hari disamping tentunya menular ke bidang keilmuan selain ilmu-ilmu alam dan ilmu pasti seperti psikologi, sosiologi, ekonomi dan berbagai ilmu sosial kemanusiaan lainnya.<\/p>\n<p>Akibat penanaman cara-cara berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em> yang demikian panjang dan sudah bertahun-tahun lamanya sejak dari jenjang pendidikan awal (TK\/SD) hingga perguruan tinggi, maka pola-pola berpikir manusia Indonesia pada umumnya juga mengikuti atau mempunyai ciri-ciri yang linier seperti prosedural, kaku, sempit dan seragam. Tak terkecuali para pemangku kebijakan dibidang pendidikan di negeri ini masih kerap menganalisis masalah-masalah yang muncul dari sudut pandang cara berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em> tersebut.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, ketika pendidikan tinggi masih dalam kementerian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) pernah berwacana menyiapkan sistem penjaringan yang berbasis nilai rapor untuk masuk perguruan tinggi. Memahami bahwa nilai rapor setiap sekolah tidak sama standarnya maka Dikti menyiapkan rumus kuantitatif untuk menstandarisasi nilai-nilai rapor dari sekolah yang berbeda itu. Ini merupakan cara berpikir linier.<\/p>\n<p>Cara berpikir linier dipengaruhi oleh paradigma pembelajaran ilmu eksakta dan alam yang mengutamakan pendekatan kuantitatif.\u00a0\u00a0 Padahal, jangankan antar daerah, di satu daerah saja standar nilai rapor di setiap sekolah bisa berbeda-beda. Namun pihak Dikti yakin mampu menstandarisasi nilai-nilai rapor dengan mengutak-atik nilai-nilai dengan rumus-rumus yang telah disiapkan.<\/p>\n<p>Formula yang diajukan Dikti ini terkesan menafikan masalah non kuantitatif atau yang bersifat kualitatif seperti fasilitas, sarana prasarana pendidikan, metodologi, kualitas guru, manajemen sekolah serta berbagai ketidak-seragaman lainnya yang biasa tampak di dunia pendidikan.<\/p>\n<p>Fenomena di atas menggejala tidak hanya di dunia pendidikan tetapi juga dirasakan dan ditemukan pada komunitas sosial masyarakat dan organisasi lain termasuk organisasi pemerintah yang kerap dikeluhkan publik. Berbagai persoalan yang dihadapi organisasi pemerintah misalnya di Kementerian Agama dari waktu ke waktu kian kompleks dan tak kunjung terurai secara baik untuk ditangani dan diatasi dengan hasil signifikan. Organisasi pembawa spirit keagamaan itu malah tak mampu menjadi contoh yang patut untuk ditiru oleh organisasi lain. Terdapat kesenjangan antara spirit keagamaan yang diemban dan prakteknya.<\/p>\n<p>Singkatnya, cara berpikir linier dalam tataran postivistik sudah cukup lama mendominasi kehidupan kita sehari-hari, mulai dari rakyat biasa hingga para <em>elite<\/em> yang diberikan amanah selaku pemegang kebijakan dan pemangku kepentingan di negeri ini. Institusi pendidikan mengambil alokasi cukup besar dalam menanam-suburkan cara-cara berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em> ini.<\/p>\n<p>Memang tidak selalu salah mengembangkan cara berpikir <em>l<\/em><em>inier<\/em>, hanya saja porsi untuk menumbuh-kembangkan berpikir model ini mestinya seimbang dengan cara berpikir<em> latera<\/em><em>l<\/em>. Di negeri ini ketimpangan antara kedua cara berpikir tersebut masih tampak mencolok dan pada umumnya cara berpikir linier ini sangat dipelihara dan dimanjakan.<\/p>\n<p>Di sisi lain sebenarnya cara berpikir lateral pun dibutuhkan dan perlu disebar-luaskan sebagai bagian dari pengembangan kualitas SDM putra-putri bangsa. <em>&#8216;Lateral thinking&#8217;<\/em> merupakan kekayaan potensi yang terdapat dalam diri individu manusia yang perlu diwujudnyatakan melalui sejumlah kondisi kondusif. Jika kita membuka diri bagi tumbuh-kembang cara berpikir <em>lateral<\/em> ini, maka organisasi yang mandek, stagnan dan jumud akan dapat dirubah menjadi lebih dinamis dan produktif. Kekuatan <em>aqliyya<\/em> yang diberdayakan di suatu organisasi semestinya meliputi juga cara berpikir <em>lateral<\/em>.<\/p>\n<p><em>* Peneliti dan Dosen <\/em><em>Pascasarjana Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang<\/em><\/p>\n<p><em>Anggota Dewan Pakar IKA Universitas Negeri Jakarta (UNJ)<\/em><\/p>\n<p><em>Penasehat CIES FEB UB Malang<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Aries Musnandar* Kekuatan aqliyya (akal) merupakan senjata berpikir manusia moderen. Namun sesungguhnya konstruksi konsep berpikir tidak hanya bersandar pada alur ilmiah dan logis yang bersifat linier. Tetapi juga beyond the linier thinking atau out of the box yakni cara-cara <a href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1342,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1339","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang - IKA UNJ<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang - IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Aries Musnandar* Kekuatan aqliyya (akal) merupakan senjata berpikir manusia moderen. Namun sesungguhnya konstruksi konsep berpikir tidak hanya bersandar pada alur ilmiah dan logis yang bersifat linier. Tetapi juga beyond the linier thinking atau out of the box yakni cara-cara Read More ...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-12-17T07:09:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-12-17T07:57:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/berfikir-lateral.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"938\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"418\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339\"},\"author\":{\"name\":\"IKA UNJ\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"headline\":\"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang\",\"datePublished\":\"2018-12-17T07:09:08+00:00\",\"dateModified\":\"2018-12-17T07:57:27+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339\"},\"wordCount\":892,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/berfikir-lateral.jpg\",\"articleSection\":[\"OPINI\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339\",\"name\":\"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang - IKA UNJ\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/berfikir-lateral.jpg\",\"datePublished\":\"2018-12-17T07:09:08+00:00\",\"dateModified\":\"2018-12-17T07:57:27+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/berfikir-lateral.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/12\\\/berfikir-lateral.jpg\",\"width\":938,\"height\":418},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1339#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"description\":\"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"IKA UNJ\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang - IKA UNJ","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang - IKA UNJ","og_description":"Oleh: Aries Musnandar* Kekuatan aqliyya (akal) merupakan senjata berpikir manusia moderen. Namun sesungguhnya konstruksi konsep berpikir tidak hanya bersandar pada alur ilmiah dan logis yang bersifat linier. Tetapi juga beyond the linier thinking atau out of the box yakni cara-cara Read More ...","og_url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339","og_site_name":"IKA UNJ","article_published_time":"2018-12-17T07:09:08+00:00","article_modified_time":"2018-12-17T07:57:27+00:00","og_image":[{"width":938,"height":418,"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/berfikir-lateral.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"IKA UNJ","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"IKA UNJ","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339"},"author":{"name":"IKA UNJ","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"headline":"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang","datePublished":"2018-12-17T07:09:08+00:00","dateModified":"2018-12-17T07:57:27+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339"},"wordCount":892,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/berfikir-lateral.jpg","articleSection":["OPINI"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339","name":"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang - IKA UNJ","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/berfikir-lateral.jpg","datePublished":"2018-12-17T07:09:08+00:00","dateModified":"2018-12-17T07:57:27+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#primaryimage","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/berfikir-lateral.jpg","contentUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/berfikir-lateral.jpg","width":938,"height":418},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1339#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Berpikir Lateral: Berpikir Menyamping Bukan Menyimpang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/","name":"IKA UNJ","description":"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513","name":"IKA UNJ","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","caption":"IKA UNJ"},"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1339","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1339"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1339\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1341,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1339\/revisions\/1341"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1342"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1339"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1339"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1339"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}