{"id":1268,"date":"2018-12-04T07:37:43","date_gmt":"2018-12-04T07:37:43","guid":{"rendered":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268"},"modified":"2018-12-04T07:46:10","modified_gmt":"2018-12-04T07:46:10","slug":"pendidikan-di-indonesia-terus-terpuruk-karena-tidak-dianggap-sebagai-permasalahan-hidup-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268","title":{"rendered":"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_1262\" aria-describedby=\"caption-attachment-1262\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-1262\" src=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26-300x169.jpeg 300w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26-768x431.jpeg 768w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26-1024x575.jpeg 1024w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26-683x388.jpeg 683w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1262\" class=\"wp-caption-text\">Pembicara Seminar Pedidikan Foto Bersama<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"margin: 0px; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hafidz Abbas dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Selain menghadirkan Hafidz Abbas, dalam seminar hari ke-2 itu, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selaku penyelenggara juga menghadirkan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia,Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed., Praktisi dan Pengamat Pendidikan dari PT Wacana Tata Akademika,Eka T.P. Simanjuntak, dan Staf Ahli Menteri Pendidikan &amp; Kebudayaan bidang Hubungan Pusat &amp; Daerah James Modouw.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">IKA UNJ mengundang keempat pembicara untuk membahas sejumlah permasalahan pendidikan Indonesia yang kronis, serta permasalahan baru yang muncul sebagai dampak dari gelombang Revolusi Industri 4.0.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">\u201cGlobalisasi telah memasuki Revolusi Industri berbasis Tekonologi Informasi generasi 4.0. Awalnya globalisasi saja sudah menjadi tantangan yang cukup berat untuk semua negara-negara berkembang, meski tak jarang negara maju pun menerima dampak negatifnya. Revolusi Industri 4.0., turut masuk daftar listing tantangan baru, khususnya bagi dunia pendidikan. Revolusi Industri Generasi 4.0 itu sudah mulai menetrasi berbagai aspek kehidupan, dan tatanan sosial. Dunia pendidikan nasional tidak memiliki pilihan selain merespon tantangan tersebut. Persoalan dunia pendidikan yang sudah kronis, maupun yang muncul sebagai ekses dari terjangan gelombang Revolusi Industri 4.0 sudah semestinya dipecahkan, \u201c Kata Ketua Umum IKA PMII Juri Ardiantoro, Ph.D, menjelaskan tujuan penyelenggaraan Lomba Artikel &amp; Seminar Pendidikan Nasional. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Adapun aneka persoalan tersebut, lanjut Juri Ardiantoro, \u00a0di antaranya: Permasalahan Kompetensi Guru; Akses dan Pemerataan Pendidikan; Kompetensi siswa dan Bonus Demografi; Revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK); Standar Kurikulum; Format Pendidikan untuk Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0. Dan Banyaknya pengangguran dari lulusan SMK karena tidak diterima oleh Dunia Industri.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Dalam Seminar hari kedua yang dimoderatori oleh Abdullah Taruna, Prof.Dr. Hafidz Abbas yang mengawali presentasi mencontohkan kesuksesan Malaysia dalam memajukan pendidikan mereka. \u201cMalaysia sukses memperbaiki sistem pendidikannya karena bagi Malaysia <i>education<\/i> adalah persoalan hidup mati. Lalu bagimana dengan Indonesia? Pendidikan di Indonesia terus terpuruk karena tidak dianggap sebagai permasalahan hidup mati,\u201d ungkap Hafidz.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Mantan Dirjend HAM di Departeman Hukum &amp; HAM RI 2001-2006 itu kemudian menunjukkan sejumlah indikator ketidakseriusan penanganan pendidikan di Indonesia. Sejak Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mewajibkan pemberlakuan anggaran pendidikan sebesar 20 persen APBN, banyak pihak berharap kualitas lulusan Indonesia meningkat tajam, setidaknya bila dibandingkan negara-negara Asia Tenggara. \u201cDengan pemberlakuan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN ternyata pendidikan di Indonesia masih terjelek di\u00a0 dunia,\u201d ungkap Guru Besar UNJ, Hafidz Abbas.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Pernyataan Hafidz Abbas bukan tanpa dasar. Hafidz merujuk buku Bank Dunia berjudul \u201cSpending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia (Belanja Lebih Banyak atau Belanja Lebih Baik: Memperbaiki Pembiayaan Pendidikan di Indonesia\u201d\u00a0 Buku\u201d. Hasil Penelitian yang diluncurkan pada 14 Maret 2013 itu meneliti dampak pemberlakuan anggaran sejak sepuluh tahun terakhir (2002 s.d. 2012). Bank Dunia menyimpulkan, bahwa 20 persen APBN yang dibelanjakan untuk sektor pendidikan belum membuahkan capaian pendidikan yang diharapkan. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; color: #333333; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">Hingga 5 tahun sejak laporan itu diterbitkan, <i>kualitas out put<\/i> pendidikan Indonesia masih belum beranjak naik. Indikator SDM Indonesia yang memprihatinkan kembali dirilis pada 2018. Ranking Indonesia dalam penilaian <i>Programme for International Student Assesment <\/i>(PISA), menempatkan kualitas SDM Indonesia di urutan 62 dari 69 negara. Dan Indonesia peringkatnya masih di bawah Vietnam_negara yang baru belakangan memberlakukan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN. Laporan keterpurukan itu sama buruknya dengan Human Capital Index (Indeks Modal Manusia) yang dirilis World Bank pada tahun 2018. Peringkat Human Capital Indonesia dibanding negara-negara Asia Tenggara berada di urutan bontot. Singapura unggul dengan Vietnam dengan skor (0,67), Malaysia berada di bawahnya (0,62), Thailand (0,6), dan Indonesia mendapat skor 0,53. Index Modal Manusia merupakan indikator untuk mengukur SDM di suatu negara dilihat dari pengetahuan, ketrampilan, dan kesehatan yang dianggap menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan. <\/span><span style=\"margin: 0px; color: #34495e; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; color: #333333; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">Berdasarkan laporan tahun 2013 itu, Bank Dunia kemudian merekomendasikan agar anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN itu dibelanjakan secara tepat dan efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan capaian belajar. Jadi bukan sebaliknya hanya mengeluarkan uang secara besar-besaran, tapi tidak tepat sasaran. Salah satunya tercermin dari mubazirnya rasio guru dengan siswa. \u201cRasio guru di Indonesia itu 1 berbanding 15 siswa, Jepang yang sukses rasio pendidikannya 1 berbanding 29, itu mendekati rasio ideal yaitu 1 berbanding 30, \u201cterang Hafidz.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; color: #333333; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">Persoalan guru, lanjut Hafidz, adalah masalah pengadaan, penempatan, pengangkatan dan pembinaan. \u201cDampak anggaran 20 persen itu hanya mengurangi beban kerja para guru yang rangkap,\u201d ungkap Hafidz.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; color: #333333; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">Berdasarkan hal itu, Hafidz Abbas menandaskan penyebab terpuruknya kualitas pendidikan nasional. \u201cBerbagai perbaikan telah dilakukan, tapi keterpurukan itu menunjukkan semua langkah perbaikan pendidikan itu dilakukan tanpa kapasitas memadai,\u201d kata Hafidz Abbas<\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; color: #333333; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">Dengan memahami bahwa peningkatan ekonomi dapat mempengaruhi capaian pendidikan masing-masing orang, atau sebaliknya, capaian kualitas pendidikan dapat mempengaruhi peningkatan pendapatan, maka Hafidz Abbas menyebut kesenjangan ekonomi masyarakat Indonesia merupakan persoalan. \u201cBagaimana bisa ada pengusaha memiliki tanah seluas 5 juta hektar,\u201d ungkap Hafidz.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; color: #333333; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">Berdasarkan laporan Bank Dunia pada 15 Desember 2015, Hafidz Abbas menyebutkan, sebanyak 74 persen tanah di Indonesia dikuasai oleh\u00a0 0,2 persen penduduk. Idealnya, kata Hafidz, distribusi tanah mengikuti formula 1 juta untuk orang kaya, 2 juta untuk kelas menengah, dan 3 juta untuk masyarakat miskin. S<\/span><span style=\"margin: 0px; color: #222222; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">eraya menjawab pertanyaan Ganda Kurniawan peserta lomba artikel pendidikan dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Hafidz Abbas menegaskan bila Indonesia mengalami krisis legislasi kepemimpinan untuk mencegah kesenjangan ekonomi. \u201cSemestinya pemimpin Indonesia melindungi masyarakat dengan legislasi, bukan dibiarkan berkompetisi dalam hukum <i>survival of the fittes<\/i>, yang kuat akan menang, yang lemah akan kalah,\u201d kata Hafidz.\u00a0 <\/span><\/p>\n<p><b><span style=\"margin: 0px; color: #222222; line-height: 107%; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">Dampak Revolusi Industri 4.0.<\/span><\/b><b><\/b><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; color: #222222; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\">\u201cBanyak orang bicara Revolusi Industri 4.0, tapi sedikit sekali yang berpikir dampaknya,\u201d kata Eka T.P. Simanjuntak, <\/span><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Praktisi dan Pengamat Pendidikan dari PT Wacana Tata Akademika. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Dampaknya bagi mereka yang saat ini baru masuk kuliah akuntansi, lanjut Eka, begitu lulus akan menghadapi lapangan kerja berkurang. \u201cPekerjaan yang menggunakan fisik akan hilang. Jadi tidak ada yang bisa menjawab pekerjaan apa yang akan muncul pada 2030,\u201d kata Eka Simanjuntak menjelaskan banyaknya lapangan kerja yang hilang karena dampak gelombang Revolusi Industri 4.0.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Jumlah pekerjaan yang hilang kian meluas bakal terus terjadi akibat terjangan gelombang Revolusi 4.0. Munculnya permasalahan itu akan semakin diperparah di masa mendatang, tambah Eka,\u00a0 karena diterima tidaknya seorang pelamar kerja tidak lagi ditentukan oleh manusia. \u201cNanti diterima tidaknya orang yang melamar kerja keputusannya ditentukan oleh mesin algoritma,\u201d kata Eka. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Hal ini berarti, rekomendasi teman, kedekatan, atau kemampuan lobi seseorang, lanjut Eka, tidak akan berpengaruh. Sebab keputusan diterima tidaknya pelamar kerja ditentukan oleh mesin algoritma. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Lain halnya dengan Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed, Guru Besar UPI tersebut menawarkan pentingnya penerapan \u201cPendidikan Konsumen Hijau\u201d untuk mengurangi dampak terjangan gelombang Revolusi Industri 4.0. \u00a0\u201cSebagai bangsa memang kita sudah merdeka, tapi sebagai konsumen kita belum merdeka. Buktinya masyarakat kita hanya mengikuti dan mengonsumsi semua produk industri multinasional tanpa memikirkan betapa produk-produk tersebut selain menguras uang rakyat Indonesia untuk dibawa ke negeri asal Multi National Corporation, juga meninggalkan 7 juta ton sampah plastik, dan 3,5 juta ton dari jumlah itu dibuang ke sungai,\u201d kata Nana Supriatna. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Jadi tujuan dari pendidikan konsumen hijau itu, kata Nana, untuk membebaskan masyarakat sebagai konsumen dari pengendalian pencitraan atau rekayasa kebutuhan produk oleh produsen. \u201cJadi pendidikan <i>green consumer<\/i> itu membangun kesadaran agar konsumen ikut mengurangi sampah plastik,\u201d kata Nana.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Untuk mencapai tujuan itu, proses pembelajaran, dan materi ajarnya, tambah Nana, berorientasi pencerdasan konsumen dalam membaca literasi. Konsumen diajak memikirkan bagaimana pencitraan mengendalikan cara berpikir dan memompa hasrat konsumsi produk perusahaan itu dibuat. Proses pembelajaran itu diharapkan meningkatkan kecerdasan literasi masyarakat sehingga mampu memupus hasrat berkonsumsi, dan semua konsumen dalam berbelanja produk dilakukan melalui keputusan yang cerdas dan sehat. Nana mencontohkan konsumsi tidak sehat itu seperti seorang narapidana korupsi saat ditangkap KPK, salah satu harta yang disita adalah tas merk Hermes yang harganya ratusan juta. Penumpukan sampah plastik air mineral, kata Nana, bukan hanya wujud ketidak-disiplinan dalam membuang sampah melainkan juga ekses dari orientasi konsumsi yang dilakukan konsumen karena pencitraan oleh produsen. \u201cJutaan ton sampah dibuang ke laut, sampai berdampak matinya ikan paus yang menyimpan 7 kilogram plastik di perutnya,\u201d kata Guru Besar UPI. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Untuk menyadarkan dan mencerdaskan konsumen, Nana Supriatna berharap ke depan pendidikan konsumen hijau bisa masuk ke semua mata pelajaran.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Sementara itu James Modouw menyampaikan, bahwa desentralisasi pendidikan telah membedakan pendidikan Indonesia dibanding sebelum era reformasi. Sekarang urusan kebijakan pendidikan merupakan kewenangan pusat. \u201cUrusan tekhnis pendidikan diserahkan kepada pemerintah daerah,\u201d kata Staf Ahli Menteri Pendidikan &amp; Kebudayaan. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"margin: 0px; font-family: 'Book Antiqua',serif; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Sesuai dengan pembagian kewenangan itu, lanjut James Modouw, Pemerintah Provinsi harus memikirkan tekhnis-tekhnis mengatasi dampak gelombang Revolusi Industri berbasis teknologi informasi generasi 4.0. <\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hafidz Abbas dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d. Selain menghadirkan Hafidz Abbas, dalam seminar hari ke-2 itu, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selaku penyelenggara juga menghadirkan Guru Besar Universitas Pendidikan <a href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1262,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1268","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d - IKA UNJ<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d - IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hafidz Abbas dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d. Selain menghadirkan Hafidz Abbas, dalam seminar hari ke-2 itu, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selaku penyelenggara juga menghadirkan Guru Besar Universitas Pendidikan Read More ...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-12-04T07:37:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-12-04T07:46:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"719\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268\"},\"author\":{\"name\":\"IKA UNJ\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"headline\":\"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d\",\"datePublished\":\"2018-12-04T07:37:43+00:00\",\"dateModified\":\"2018-12-04T07:46:10+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268\"},\"wordCount\":1344,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg\",\"articleSection\":[\"BERITA\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268\",\"name\":\"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d - IKA UNJ\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg\",\"datePublished\":\"2018-12-04T07:37:43+00:00\",\"dateModified\":\"2018-12-04T07:46:10+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg\",\"width\":1280,\"height\":719,\"caption\":\"Pembicara Seminar Pedidikan Foto Bersama\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1268#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"description\":\"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"IKA UNJ\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d - IKA UNJ","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d - IKA UNJ","og_description":"Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Hafidz Abbas dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d. Selain menghadirkan Hafidz Abbas, dalam seminar hari ke-2 itu, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selaku penyelenggara juga menghadirkan Guru Besar Universitas Pendidikan Read More ...","og_url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268","og_site_name":"IKA UNJ","article_published_time":"2018-12-04T07:37:43+00:00","article_modified_time":"2018-12-04T07:46:10+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":719,"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"IKA UNJ","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"IKA UNJ","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268"},"author":{"name":"IKA UNJ","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"headline":"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d","datePublished":"2018-12-04T07:37:43+00:00","dateModified":"2018-12-04T07:46:10+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268"},"wordCount":1344,"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg","articleSection":["BERITA"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268","name":"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d - IKA UNJ","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg","datePublished":"2018-12-04T07:37:43+00:00","dateModified":"2018-12-04T07:46:10+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268#primaryimage","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg","contentUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.26.jpeg","width":1280,"height":719,"caption":"Pembicara Seminar Pedidikan Foto Bersama"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1268#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"\u201cPendidikan di Indonesia terus Terpuruk karena tidak Dianggap sebagai Permasalahan Hidup Mati\u201d"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/","name":"IKA UNJ","description":"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513","name":"IKA UNJ","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","caption":"IKA UNJ"},"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1268","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1268"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1268\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1270,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1268\/revisions\/1270"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1268"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1268"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1268"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}