{"id":1240,"date":"2018-11-26T02:17:14","date_gmt":"2018-11-26T02:17:14","guid":{"rendered":"http:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240"},"modified":"2018-11-26T03:07:20","modified_gmt":"2018-11-26T03:07:20","slug":"dampak-revolusi-industri-4-0-nanti-diterima-tidaknya-orang-melamar-kerja-keputusannya-ditentukan-oleh-mesin-algoritma","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240","title":{"rendered":"Dampak Revolusi Industri 4.0:   \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d."},"content":{"rendered":"<p>Dampak Revolusi Industri 4.0:<\/p>\n<p>\u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut disampaikan oleh EKA T.P. Simanjuntak, Praktisi dan Pengamat Pendidikan dari PT Wacana Tata Akademika dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d.<\/p>\n<p>Selain Eka Simanjuntak, dalam seminar hari ke-2 itu, Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ) selaku penyelenggara, menghadirkan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Prof.Dr. Hafidz Abbas, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia,Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed.,\u00a0 dan Staf Ahli Menteri Pendidikan &amp; Kebudayaan bidang Hubungan Pusat &amp; Daerah James Modouw. Diskusi dipandu oleh Abdullah Taruna selaku moderator.<\/p>\n<p>IKA UNJ mengundang keempat pembicara untuk membahas sejumlah permasalahan pendidikan Indonesia yang kronis, serta permasalahan baru yang muncul sebagai dampak dari gelombang Revolusi Industri 4.0.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cRevolusi Industri Generasi 4.0 itu sudah mulai menetrasi berbagai aspek kehidupan, dan tatanan sosial. Dunia pendidikan nasional tidak memiliki pilihan selain merespon tantangan tersebut. Persoalan dunia pendidikan yang sudah kronis, maupun yang muncul sebagai ekses dari terjangan gelombang Revolusi Industri 4.0 sudah semestinya dipecahkan, \u201c Kata Ketua Umum IKA UNJ Juri Ardiantoro, Ph.D, menjelaskan tujuan penyelenggaraan Lomba Artikel &amp; Seminar Pendidikan Nasional.<\/p>\n<p>Adapun aneka persoalan tersebut, lanjut Juri Ardiantoro,\u00a0 di antaranya: Permasalahan Kompetensi Guru; Akses dan Pemerataan Pendidikan; Kompetensi siswa dan Bonus Demografi; Revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK); Standar Kurikulum; Format Pendidikan untuk Menjawab Tantangan Revolusi Industri 4.0. Dan Banyaknya pengangguran dari lulusan SMK karena tidak diterima oleh Dunia Industri.<\/p>\n<p>\u201cBanyak orang bicara Revolusi Industri 4.0, tapi sedikit sekali yang memikirkan dampaknya,\u201d kata Eka T.P. Simanjuntak, Praktisi dan Pengamat Pendidikan dari PT Wacana Tata Akademika.<\/p>\n<p>Dampaknya bagi mereka yang saat ini baru masuk kuliah akuntansi, lanjut Eka, begitu lulus akan menghadapi lapangan kerja berkurang.<\/p>\n<p>\u201cPekerjaan yang menggunakan fisik akan hilang. Jadi tidak ada yang bisa menjawab pekerjaan apa yang akan muncul pada 2030,\u201d kata Eka Simanjuntak menjelaskan banyaknya lapangan kerja yang hilang karena dampak gelombang Revolusi Industri 4.0.<\/p>\n<p>Eka Simanjuntak membenarkan bila terjangan gelombang Revolusi Industri berbasis teknologi informasi generasi 4.0, telah menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Sebut saja pemberlakuan gerbang tol elektronik jelas menggantikan petugas pintu jalan tol. Begitu pula banyak toko direct selling tutup dan merumahkan tenaga kerja gara-gara kalah bersaing dengan toko online. Begitu pula menjelmanya gerai ritel aneka produk garmen menjadi toko online praktis membuat perusahaan harus banyak merumahkan para penjaga toko yang jumlahnya massif.<\/p>\n<p>Jumlah pekerjaan yang hilang kian meluas bakal terus terjadi akibat terjangan gelombang Revolusi 4.0.<\/p>\n<p>Munculnya permasalahan itu akan semakin diperparah di masa mendatang, tambah Eka,\u00a0 karena diterima tidaknya seorang pelamar kerja tidak lagi ditentukan oleh manusia.<\/p>\n<p>\u201cNanti diterima tidaknya orang yang melamar kerja keputusannya ditentukan oleh mesin algoritma,\u201d kata Eka.<\/p>\n<p>Hal ini berarti, rekomendasi teman, kedekatan, atau kemampuan lobi seseorang, lanjut Eka, tidak akan berpengaruh. Sebab keputusan diterima tidaknya pelamar kerja ditentukan oleh mesin algoritma.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, mampukah Kurikulum 2013 menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 ?<\/p>\n<p>\u201cKurikulum 2013 kalau dievaluasi akan ditemukan bahwa kurikulum itu tidak dibutuhkan,\u201d kata Eka Simanjuntak.<\/p>\n<p>\u201cAnak-anak Sekolah Dasar belum bisa memahami apa yang dibaca pada kelas IV SD. Penyebabnya karena penyajian literasi kita jadul. Anak-anak lebih banyak diminta menyimak, dan menghafal,\u201d ungkap Eka Simanjuntak seraya mengingatkan pentingnya pengembangan logika berpikir anak.<\/p>\n<p>Menurut Eka Simanjuntak, agar anak-anak SD memahami literasi kritis, maka penyajian literasinya tidak boleh jadul. Sebaliknya, anak-anak harus diajarkan untuk membaca literasi, memahami literasi hingga ke ranah psikomotoriknya.<\/p>\n<p>\u201cKe depan pengetahuan itu tidak begitu dibutuhkan dibandingkan pengetahuan,\u201d ungkap\u00a0 Eka Simanjuntak.<\/p>\n<p>Menjawab pertanyaan Nurul, mahasiswi S3 program elektro dari Universitas Negeri Malang (UM) peserta lomba artikel pendidikan dari Unipma, yang menanyakan apa langkah-langkah yang harus diambil LPTK untuk menghadapi tantangan gelombang Revolusi Industri 4.0, Eka Simanjuntak menjawab, \u201cYang harus dilakukan adalah bagaimana mempersiapkan ilmu-ilmu baru secara cepat, \u201c kata Eka.<\/p>\n<p>Eka menambahkan, bahwa anak-anak milineal nantinya tidak mungkin mengikuti kuliah dengan jenjang waktu bertahun-tahun seperti generasi sebelumnya. Sebab lapangan kerja bisa dalam waktu cepat hilang.<\/p>\n<p>\u201cAnak-anak milenial di masa depan mungkin cukup belajar 6 bulan, tapi dalam waktu sesingkat itu bisa mendapatkan pekerjaan secara cepat,\u201d ungkap Eka Simanjuntak memperkirakan perubahan cepat sebagai dampak gelombang Revolusi Industri 4.0.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Nihil Perbaikan 20 Persen Anggaran<\/strong><\/p>\n<p>Prof.Dr. Hafidz Abbas yang mengawali presentasi mencontohkan kesuksesan Malaysia dalam memajukan pendidikan mereka.<\/p>\n<p>\u201cMalaysia sukses memperbaiki sistem pendidikannya karena bagi Malaysia education adalah persoalan hidup mati. Lalu bagimana dengan Indonesia? Pendidikan di Indonesia terus terpuruk karena tidak dianggap sebagai permasalahan hidup mati,\u201d ungkap Hafidz.<\/p>\n<p>Mantan Dirjend HAM di Departeman Hukum &amp; HAM RI 2001-2006 itu kemudian menunjukkan sejumlah indikator ketidakseriusan penanganan pendidikan di Indonesia. Sejak Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mewajibkan pemberlakuan anggaran pendidikan sebesar 20 persen APBN, banyak pihak berharap kualitas lulusan Indonesia meningkat tajam, setidaknya bila dibandingkan negara-negara Asia Tenggara.<\/p>\n<p>&#8220;Dengan pemberlakuan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN ternyata pendidikan di Indonesia masih terjelek di\u00a0 dunia,\u201d ungkap Guru Besar UNJ, Hafidz Abbas.<\/p>\n<p>Pernyataan Hafidz Abbas bukan tanpa dasar. Hafidz merujuk buku Bank Dunia berjudul \u201cSpending More or Spending Better: Improving Education Financing in Indonesia (Belanja Lebih Banyak atau Belanja Lebih Baik: Memperbaiki Pembiayaan Pendidikan di Indonesia\u201d\u00a0 Buku\u201d.<\/p>\n<p>Hasil Penelitian yang diluncurkan pada 14 Maret 2013 itu meneliti dampak pemberlakuan anggaran sejak sepuluh tahun terakhir (2002 s.d. 2012).<\/p>\n<p>Bank Dunia menyimpulkan, bahwa 20 persen APBN yang dibelanjakan untuk sektor pendidikan belum membuahkan capaian pendidikan yang diharapkan.<\/p>\n<p>Hingga 5 tahun sejak laporan itu diterbitkan, kualitas out put pendidikan Indonesia masih belum beranjak naik. Indikator SDM Indonesia yang memprihatinkan kembali dirilis pada 2018. Ranking Indonesia dalam penilaian Programme for International Student Assesment (PISA), menempatkan kualitas SDM Indonesia di urutan 62 dari 69 negara. Dan Indonesia peringkatnya masih di bawah Vietnam_negara yang baru belakangan memberlakukan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN. Laporan keterpurukan itu sama buruknya dengan Human Capital Index (Indeks Modal Manusia) yang dirilis World Bank pada tahun 2018. Peringkat Human Capital Indonesia dibanding negara-negara Asia Tenggara berada di urutan bontot.<\/p>\n<p>Berdasarkan laporan tahun 2013 itu, Bank Dunia kemudian merekomendasikan agar anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN itu dibelanjakan secara tepat dan efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan capaian belajar. Jadi bukan sebaliknya hanya mengeluarkan uang secara besar-besaran, tapi tidak tepat sasaran. Salah satunya tercermin dari mubazirnya rasio guru dengan siswa. \u201cRasio guru di Indonesia itu 1 berbanding 15 siswa, Jepang yang sukses rasio pendidikannya 1 berbanding 29, itu mendekati rasio ideal yaitu 1 berbanding 30, \u201cterang Hafidz.<\/p>\n<p>Persoalan guru, lanjut Hafidz, adalah masalah pengadaan, penempatan, pengangkatan dan pembinaan<\/p>\n<p>\u201cAnggaran Pendidikan 20 persen dari APBN hanya berdampak mengurangi beban kerja guru yang rangkap,\u201d tandas Hafidz.<\/p>\n<p>Lain halnya dengan Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed, Guru Besar UPI tersebut menawarkan pentingnya penerapan \u201cPendidikan Konsumen Hijau\u201d untuk mengurangi dampak terjangan gelombang Revolusi Industri 4.0.<\/p>\n<p>&#8220;Sebagai bangsa memang kita sudah merdeka, tapi sebagai konsumen kita belum merdeka. Buktinya masyarakat kita hanya mengikuti dan mengonsumsi semua produk industri multinasional tanpa memikirkan betapa produk-produk tersebut selain menguras uang rakyat Indonesia untuk dibawa ke negeri asal Multi National Corporation, juga meninggalkan 7 juta ton sampah plastik, dan 3,5 juta ton dari jumlah itu dibuang ke sungai,\u201d kata Nana Supriatna.<\/p>\n<p>Jadi tujuan dari pendidikan konsumen hijau itu, kata Nana, untuk membebaskan masyarakat sebagai konsumen dari pengendalian pencitraan atau rekayasa kebutuhan produk oleh produsen.<\/p>\n<p>\u201cJadi pendidikan green consumer itu membangun kesadaran agar konsumen ikut mengurangi sampah plastik,\u201d kata Nana.<\/p>\n<p>Untuk mencapai tujuan itu, proses pembelajaran, dan materi ajarnya, tambah Nana, berorientasi pencerdasan konsumen dalam membaca literasi. Konsumen diajak memikirkan bagaimana pencitraan mengendalikan cara berpikir dan memompa hasrat konsumsi produk perusahaan itu dibuat. Proses pembelajaran itu diharapkan meningkatkan kecerdasan literasi masyarakat sehingga mampu memupus hasrat berkonsumsi, dan semua konsumen dalam berbelanja produk dilakukan melalui keputusan yang cerdas dan sehat. Nana mencontohkan konsumsi tidak sehat itu seperti seorang narapidana korupsi saat ditangkap KPK, salah satu harta yang disita adalah tas merk Hermes yang harganya ratusan juta. Penumpukan sampah plastik air mineral, kata Nana, bukan hanya wujud ketidak-disiplinan dalam membuang sampah melainkan juga ekses dari orientasi konsumsi yang dilakukan konsumen karena pencitraan oleh produsen.<\/p>\n<p>\u201cJutaan ton sampah dibuang ke laut, sampai berdampak matinya ikan paus yang menyimpan 7 kilogram plastik di perutnya,\u201d kata Guru Besar UPI.<\/p>\n<p>Untuk menyadarkan dan mencerdaskan konsumen, Nana Supriatna berharap ke depan pendidikan konsumen hijau bisa masuk ke semua mata pelajaran.<\/p>\n<p>Sementara itu James Modouw menyampaikan, bahwa desentralisasi pendidikan telah membedakan pendidikan Indonesia dibanding sebelum era reformasi. Sekarang urusan kebijakan pendidikan merupakan kewenangan pusat.<\/p>\n<p>\u201cUrusan tekhnis pendidikan diserahkan kepada pemerintah daerah,\u201d kata Staf Ahli Menteri Pendidikan &amp; Kebudayaan.<\/p>\n<p>Sesuai dengan pembagian kewenangan itu, lanjut James Modouw, Pemerintah Provinsi harus memikirkan tekhnis-tekhnis mengatasi dampak gelombang Revolusi Industri berbasis teknologi informasi generasi 4.0.<\/p>\n<p>#IkaUnjGagasSistemPendidikan<\/p>\n<figure id=\"attachment_1261\" aria-describedby=\"caption-attachment-1261\" style=\"width: 1280px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1261 size-full\" src=\"http:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.24.jpeg\" alt=\"Semarak Seminar Nasional Ikatan Alumni UNJ di Hari Guru Nasional\" width=\"1280\" height=\"719\" srcset=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.24.jpeg 1280w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.24-300x169.jpeg 300w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.24-768x431.jpeg 768w, https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.24-1024x575.jpeg 1024w\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-1261\" class=\"wp-caption-text\">Semarak Seminar Nasional Ikatan Alumni UNJ di Hari Guru Nasional<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. Pernyataan tersebut disampaikan oleh EKA T.P. Simanjuntak, Praktisi dan Pengamat Pendidikan dari PT Wacana Tata Akademika dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d. <a href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1259,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2,5],"tags":[],"class_list":["post-1240","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-press-release"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dampak Revolusi Industri 4.0:  \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. - IKA UNJ<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dampak Revolusi Industri 4.0:  \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. - IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. Pernyataan tersebut disampaikan oleh EKA T.P. Simanjuntak, Praktisi dan Pengamat Pendidikan dari PT Wacana Tata Akademika dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d. Read More ...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-11-26T02:17:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2018-11-26T03:07:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"719\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"IKA UNJ\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240\"},\"author\":{\"name\":\"IKA UNJ\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"headline\":\"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d.\",\"datePublished\":\"2018-11-26T02:17:14+00:00\",\"dateModified\":\"2018-11-26T03:07:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240\"},\"wordCount\":1390,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg\",\"articleSection\":[\"BERITA\",\"PRESS RELEASE\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240\",\"name\":\"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. - IKA UNJ\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg\",\"datePublished\":\"2018-11-26T02:17:14+00:00\",\"dateModified\":\"2018-11-26T03:07:20+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2018\\\/11\\\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg\",\"width\":1280,\"height\":719,\"caption\":\"Semarak Seminar Nasional Ikatan Alumni UNJ di Hari Guru Nasional\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?p=1240#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"description\":\"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513\",\"name\":\"IKA UNJ\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"IKA UNJ\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/ika.unj.ac.id\\\/?author=1\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dampak Revolusi Industri 4.0:  \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. - IKA UNJ","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dampak Revolusi Industri 4.0:  \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. - IKA UNJ","og_description":"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. Pernyataan tersebut disampaikan oleh EKA T.P. Simanjuntak, Praktisi dan Pengamat Pendidikan dari PT Wacana Tata Akademika dalam Seminar Pendidikan Nasional bertema \u201cMenggagas Sistem Pendidikan Nasional\u201d. Read More ...","og_url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240","og_site_name":"IKA UNJ","article_published_time":"2018-11-26T02:17:14+00:00","article_modified_time":"2018-11-26T03:07:20+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":719,"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"IKA UNJ","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"IKA UNJ","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240"},"author":{"name":"IKA UNJ","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"headline":"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d.","datePublished":"2018-11-26T02:17:14+00:00","dateModified":"2018-11-26T03:07:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240"},"wordCount":1390,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg","articleSection":["BERITA","PRESS RELEASE"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240","name":"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d. - IKA UNJ","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg","datePublished":"2018-11-26T02:17:14+00:00","dateModified":"2018-11-26T03:07:20+00:00","author":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#primaryimage","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg","contentUrl":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/wp-content\/uploads\/2018\/11\/WhatsApp-Image-2018-11-26-at-09.45.23.jpeg","width":1280,"height":719,"caption":"Semarak Seminar Nasional Ikatan Alumni UNJ di Hari Guru Nasional"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?p=1240#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dampak Revolusi Industri 4.0: \u201cNanti Diterima Tidaknya Orang Melamar Kerja Keputusannya Ditentukan Oleh Mesin Algoritma\u201d."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#website","url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/","name":"IKA UNJ","description":"Media Infomasi Resmi Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/#\/schema\/person\/c8a71a0d8d42b28cb873e73d5d369513","name":"IKA UNJ","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c3316bb330f70c0343cd26f149d51e4a9062d2e1b06635ff55337435693add83?s=96&d=mm&r=g","caption":"IKA UNJ"},"url":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/?author=1"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1240","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1240"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1240\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1265,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1240\/revisions\/1265"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1259"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1240"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1240"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ika.unj.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1240"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}