Visi, Misi, dan Program Balon Rektor UNJ (Bagian I)

Delapan Bakal Calon Rektor menyampaikan visi, misi, dan programnya pada dialog interaktif Bakal Calon Rektor UNJ, di Aula Latif Hendradiningrat, Gedung Dewi Sartika (15/8). Dialog ini dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.

Urutan penyampaian balon ditentukan oleh undian yang dibuat panitia pemilihan rektor. Masing-masing balon diberikan waktu 20 menit untuk berbicara.

Agus Setyo Budi
Kesempatan pertama didapatkan Prof. Dr, Agus Setyo Budi, M. Sc. Saat ini, Agus merupakan Guru Besar FMIPA UNJ. Agus mencalonkan diri menjadi rektor supaya UNJ bisa menjadi universitas bintang lima. “Harus ada aura bintang lima, UNJ bisa seperti itu,” kata Agus.

Bagi Agus, supaya bisa menjadi bintang lima, UNJ perlu memperkuat sistem. Sistem bisa diperkuat dengan lima hal, yaitu, Leading, Solution, Transformation, Acceleration, dan Reputation. “Program ini saya sebut UNJ L-STAR,” kata Agus.

Berdasaran ke lima hal itu, Agus ingin UNJ bisa menghasilkan lulusan yang unggul dan bisa menjadi lembaga yang memberikan Solusi untuk Persatuan Bangsa.

Muh. Nur Sadik
Prof. Dr. H. Muh Nur Sadik, MPM. mendapat urutan kedua. Sasik ialah Guru Besar FISIP Universitas Hasanuddin. Alasan Sadik ingin menjadi rektor UNJ supaya UNJ menjadi Word Class University. Salah satunya dengan menyesuaikan standar UNJ dengan standar universitas international. “Saat saya masuk ruangan ini, saya anggap ini belum international. Saya cuma butuh waktu tiga bulan untuk merubah ini,” kata Sadik optimis.

Tiap aspek perlu memiliki standar international. Oleh karena itu, prodi di UNJ harus memiliki standar World Class Universty, terutama dalam penerapan kurikulum. Fasilitas pun sama. Fasilitas di UNJ harus sesuai dengan standar international, seperti setiap dosen UNJ disiapkan laptop untuk mempermudah perkuliahan dan peningkatan jumlah dan kualitas lobaratorium dan perpustakaan UNJ.

Berdasarkan tujuan itu, Sadik ingin membuat civitas akademica UNJ memiiki jiwa leadership, enterpreneurshp, dan profesional. “Leadership itu bukan teknik, saya bilang itu cara hidup. Ini penting untuk dipahami,” kata Sadik.

Sofiah Hartati
Urutan ketiga ialah Dr. Sofiah Hartati, M SI. Saat ini, Sofiah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan. Sofiah mencalonkan rektor untuk menguatkan jalan perubahan Universitas supaya bisa mandiri, berdaya saing, dan inovatif menuju World Class University. “Word Class Universty dipilih karena bagian dari cita-cita pendahulu kita yang belum dicapai,” kata Sofiah.

Atas dasar itu, Sofiah ingin meningkatkan reputasi akademik UNJ dengan memperkuat ilmu pendidikan di UNJ. Dengan memperkuat ilmu pendidikan, UNJ bisa menjadi pusat rujukan pendidikan untuk sistem pendidikan di Indonesia. “Seperti yang dilakukan tokoh-tokoh Pendidikan IKIP Jakarta,” kata Sofiah bernostalgia. Bagi Sofiah, UNJ bisa menjadi pusat rujukan, asalkan ilmu pendidikan dan ilmu non pendidikan di UNJ bisa salng terintegasi. Tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sofiah Juga ingin memberikan peluang untuk dosen muda kuliah S3 di luar negeri. Dengan harapan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di UNJ. “Saya yakin, keinginan rektor sebelumnya, yaitu memberikan kesempatan dosen muda yang sudah minimal 3 tahun di UNJ untuk kuliah di luar negeri, masih relevan dilakukan, “ kata Sofiah.

Paulina Pannen
Prof. Paulina Pannen, Ph. D, staf ahli Menristekdikti Bidang Akdemik pun juga mencalonkan diri menjadi rektor UNJ. Ia melihat UNJ memiliki banyak potensi untuk menjadi Universitas International. Sebab, UNJ memiliki banyak aset yang dapat dimanfaatkan dan dimaksimalkan. “Kita poles dan perbaiki, agar lebih baik lagi,” kata Pauli.

Bagi Pauli, untuk bisa menjadi universitas international, UNJ perlu melihat tantangan dunia saat ini, yaitu tantangan revolusi Industi 4.0. Tantangan itu perlu dipahami UNJ supaya bersaing dengan Universitas lain. “Lawan kita di Asia, ada Universitas Tsinghua China. Di Indonesia, lawan kita Universitas Indonesia,” kata Pauli.

Melihat hal itu, Pauli optimis bisa unggul dari mereka. Sebab, UNJ memiliki aset yang bisa dimanfaatkan, salah satunya ialah jumlah dosen dan jumlah guru besar. Mereka memiliki potensi untuk meningkatkan jumlah riset UNJ. “UNJ memiliki 900an dosen serta 43 Guru Besar. Bila dalam satu tahun tiap dosen menghasilkan 1 jurnal ilmiah dan Guru besar 2 jurnal ilmiah, maka UNJ bisa meningkatkan kuantitas penelitiannya,” kata Pauli.

Namun bagi Paulina, hal itu belum cukup. UNJ juga perlu menghasilkan jurnal ilmiah yang inovatif. Oleh karena itu, ia berharap dosen-dosen UNJ bisa meningkatkan kualitasnya. Ia mengimpikan dosen-dosen UNJ menjadi tokoh pendidikan IKIP Jakarta, seperti HAR Tilaar dan Conny Semiawan. “Mari kita jadikan dosen kita menjadi Leader dan bisa mempengaruhi jalannya sistem pendidikan,” kata Pauli.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.