UNJ dan Harapan Menjadi Perguruan Tinggi Bereputasi Asia

Hafid Abbas, mantan Wakil Rektor Bidang Akademik IKIP Jakarta 1997-1999, diundang BEM UNJ untuk berpendapat tentang Pemilihan Rektor UNJ di Teater Terbuka, Kamis (23/5). Kegiatan ini diadakan pukul 16.00 WIB hingga selesai.

Sebentar lagi, rektor baru akan dipilih Birokrat UNJ. Pemilihan Rektor dapat dilaksanakan, setelah Senat behasil merumuskan peraturan pemilihan rektor yang disahkan oleh Plt Rektor UNJ Intan Ahmad.

Ke depan, Hafid Abbas berharap, rekktor baru mampu membawa UNJ mencapai visi dan misinya, yaitu menjadi universitas yang bereputasi di Asia.

Ada tujuh hal yang bisa membuat UNJ mencapai visi dan misi itu.

Pertama, standar kualifikasi pendidikan perlu dinaikan. UNJ perlu menaikan syarat masuk untuk menjadi mahasiswa dan rekrutmen dosen. Hal ini bisa dilakukan bila UNJ menerapkan asas keterbukaan. “Naikan standar rekrutmen dosen dan mahasiswa,” kata Abbas.

Kedua, UNJ perlu menegaskan proses penilaian terukur. Jangan sampai, tidak ada pembeda antara lulusan mahasiswa UNJ dengan lulusan SMA. “Setelah lulus, jangan sampai lulusan UNJ sama dengan kemampuan lulusan SMA, bahkan tidak ada perubahan,” kata mantan Ketua Komnas HAM ini.

Ketiga, perlu ada pengawasan ketat terhadap rencana yang sudah dibuat. “Perlu kontrol, jangan sampai jalan sendiri-sendiri,” kata Abbas.

Keempat, UNJ juga perlu memiliki fasilitas akademik yang layak dan Unit Usaha yang menghasilkan keuntungan. “Kalau sekarang saya lihat bagus yaa, udah ada gedung dan rencananya mau ada hotel,” kata Abbas.

Kelima, UNJ perlu mendirikan laboratorium penelitian yang berfungsi melayani masyarakat. Sebab, nantinya, lulusan mahasiswa UNJ akan bekerja untuk masyarakat.” Oleh karena itu, mulai dari sekarang mahasiwa harus sensitif dengan masalah-masalah kemanusiaan,” kata abbas.

Keenam, UNJ perlu mengatur keuangannya. Hindari menggunakan anggaran untuk agenda yang tidak menguntungkan, bahkan merugikan.

Ketujuh, semua hal ini bisa dicapai bila civitas akademika – seperti dosen dan birokrat – memiliki hubungan baik antar sesama. Mereka perlu menimbulkan keselarasan dalam kultur akademik. Supaya tujuan UNJ bisa dicapai. “Harmoni penting untuk membangun komunitas,” kata Abbas.

UNJ bisa menjadi perguruan tinggi dengan kualitas international, asalkan mampu mengelola perguruan tinggi dengan benar.

“Menurut Peter Drucker, di dunia ini, tidak ada istilah negara maju atau negara terbelakang, tetapi yang ada negara yang baik dalam pengelolaanya.

Hal itu berlaku untuk perguruan tinggi. Jadi, masalahnya bagaimana mengelola perguruan tinggi dengan benar,” kata Abbas.

Sebagai perbandingan, ia menjelaskan keberhasilan sistem pengelolaan Colombia University. Perguruan tinggi ini, mampu megembangkan kultur akademik yang baik. Sehingga, 76 dosennya bisa meraih penghargaan Nobel.

Bahkan, hasil penelitian dosen Columbia University dapat memberikan keuntungan sebesar 3 miliar US Dolar. “Karena dosen dan mahasiswanya berkualitas,” kata Abbas.

Akan tetapi, bukan berarti mahasiswa pesimis melihat situasi ini. Abbas mengatakan mulai saat ini, mahasiswa harus memiliki impian yang besar. Supaya, berguna untuk kemajuan bangsa dan negara. “Mahasiswa harus mempersiapkan diri untuk menjadi orang hebat,” kata Abbas.

Penulis: Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.