Metode Hukuman  Tidak Memerdekakan  Manusia

Ki Hadjar Dewantara menentang pembiasaan penggunaan metode yang terasa memaksakan kehendak kepada  anak.

 

Hendrik Yaputra,

Metode memberi perintah, paksaan, dan hukuman sering dijumpai di sebagian besar lembaga pendidikan Indonesia. Atas nama ketertiban, murid harus mengikuti aturan yang ada. Padahal, belum tentu murid mengetahui fungsi dan tujuan diberikan hukuman.

Pembiasaan memberikan hukuman ini yang ditentang oleh Ki Hadjar Dewantara.

“Ki Hadjar Dewantara mengatakan perintah, paksaan, dan hukuman memperkosa kehidupan batin anak. Ini karena orang tidak tahu tentang Ki Hadjar dan tidak ingin tahu tentang ki Hadjar.” kata Jimmy Philip Paat saat menjadi pemateri Forum Diskusi Pedagogik (FDP)  IKA UNJ Edisi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan R.I., yang ke-74, dengan tema “Pemikiran Pendidikan Bapak Bangsa”.

Dalam Reboan Pendidikan yang  berlangsung pada Rabu, 21 Agustus 2019 di ruang 104 GedungPascasarjana UNJ itu, Jimmy Philip Paat  menguraikan sub tema berjudul “Ki Hadjar Dewantara Bersama Pemikiran Pendidikan Kontemporer”.

Metode ini juga, lanjut Jimmy, mirip dengan teori pendidikan Behavioristik. Teori pendidikan yang memberikan ganjaran dan reward kepada anak. Ia menyayangkan metode ini sudah menjadi kebiasaan dalam sistem pendidikan Indonesia.

“Model ini juga model behavioristik yang memberikan ganjaran dan reward. Anehnya behavioristik sudah membatin di Indonesia,” ungkap Jimmy Philip Paat.

Bagi Ki Hadjar Dewantara, hukuman adalah siksaan bagi anak. Pernyataan itu tidak bisa dilepaskan dari pengertianya soal kodrat manusia. Ia mengatakan anak memiliki kodrat sejak lahir. Oleh karenanya, anak memiliki kehendak untuk berpikir dan bertindak. Bila hukuman membatasi kehendak anak, berarti hukuman datang dari luar. “Ketertiban itu datang dari luar anak, bukan dari dalam,” kata Pengamat Pendidikan UNJ ini.

Namun, Bila terpaksa melakukan hukuman, Ki Hadjar Dewantara memberikan tiga syarat supaya hukuman tidak salah diartikan anak, yaitu hukuman harus sesuai, hukuman harus adil, dan hukuman harus dilakukan supaya anak langsung tahu kesalahannya. “Anak melakukan kesalahan sekarang, besoknya baru dihukum. Hal itu membuat anak tidak tahu kesalahannya,” kata Jimmy Philip Paat.

Ki Hadjar Dewantara juga mengatakan anak perlu memahami bahwa hukuman yang diberikan merupakan bagian dari proses kehidupan. Tiap tindakan manusia akan menghasilkan akibat. “Harus memberikan penjelasan secara rasional,” kata Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis UNJ ini.

Pendidikan yang Memerdekakan

Penolakan metode hukuman terkait pemahaman Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan yang memerdekakan. Ki Hadjar Dewantara mengatakan seseorang dikatakan merdeka bila secara lahir dan batin tidak tergantung dengan orang lain dan bersandar pada kekuatan sendiri. Lebih jelasnya, Ki Hadjar membuat tiga pangkal kemerdekaan, yaitu berdiri sendiri, tidak tergantung orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri.

Namun, Ki Hadjar juga mengingatkan manusia merdeka jangan sampai menganggu kemerdekaan orang lain. Tujuanya supaya manusia bisa hidup bermasyarakat dengan tertib.

“Dalam hidup merdeka, mereka juga harus ingat bahwa mereka hidup dengan orang lain. Jadi pengertian kehidupan merdeka itu kolektif. Karena, orang juga berhak mendapatkan kemerdekaannya, dan mereka semua itu lebih besar (rakyat),” urai Jimmy Paat.

Namun, Ki Hadjar Dewantara menyadari menjadi manusia merdeka itu tidak mudah. Sebab, seseorang perlu mengatur kehidupan sendiri dengan orang lain supaya tercipta ketertiban. “Hal ini berat dilakukan, mungkin mendefinisikannya mudah,” kata Jimmy Paat.

Supaya kemerdekaan seseorang tidak menganggu kemerdekaan orang lain, Ki Hadjar Dewantara mengatakan perlu menguatkan Budi Pekerti.

“Bukan Budi Pekerti yang dipahami hari ini. Budi artinya bersatunya pikiran, perasaan, dan kehendak cipta rasa kasa. Sedangkan Pekerti itu tenaga yang mendorong ketiga hal itu. Ketiga hal ini saling berkaitan,” kata Jimmy Philip Paat.

Dengan adanya budi pekerti, manusia bisa mengendalikan dan menempatkan dirinya secara mandiri di masyarakat. Hal ini bagi Ki Hadjar Dewantara merupakan jenis manusia beradab.

“Itu lah manusia beradab. Dan itu lah tujuan pendidikan dalam garis besarnya. Manusia beradab itu manusia budi pekerti, manusia budi pekerti itu manusia merdeka,” kata Jimmy Paat.

Selain Jimmy Paat, Forum Diskusi Pedagogik dihadiri Yana Supriatna (Dosen Universitas Bung Karno), Abdullah Taruna (Koordinator FDP  IKA UNJ), beberapa alumni UNJ, dan beberapa mahasiswa Sarjana dan Pascasarjana UNJ.  Diskusi berlangsung hangat  sejak pukul 14.40 WIB hingga tanpa terasa petang  tiba.

 

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.