Syarifudin Yunus Mengubah Cara Pandang Masyarakat Melalui Taman Bacaan

  

 

Pendidikan merupakan eskalator mobilitas vertikal. Namun karena terbelit persoalan ekonomi banyak orang tua yang menganggap hal itu persoalan nasib.

 

Hendrik Yap,

Di Kampung Warung Loa, Kec. Tamansari Bogor, tingkat partisipasi masyarakat untuk pendidikan bisa dibilang rendah. Berdasarkan tingkat partisipasi masyarakat yang menempuh pendidikan formal, jumlah yang sekolah dasar hanya sekitar 81 persen. Lebih miris lagi untuk jumlah yang mengakses sekolah menengah pertama hanya sekitar 9 persen.

Syarifudin Yunus_Wakil Ketua IKA FBS UNJ Periode 2017-2021, hal tersebut terjadi lantaran sebagian besar masyarakat memiliki kemampuan ekonomi rendah. Penghasilan mereka tidak pasti. Mereka hanya mengandalkan hasil dari berkebun dan berladang. “Penghasilan mereka tidak pasti,” kata Syarifudin. Jadi, mereka lebih memilih bekerja ketimbang menempuh pendidikan.

Keadaan ekonomi itu, berimbas kepada pendidikan anak-anak mereka. Saat memasuki masa pendaftaran sekolah, sebagian besar orang tua berbicara kepada anaknya, bahwa mereka tak sanggup membayar biaya sekolah buah hati mereka. Anak-anak mereka pun hanya menurut saja. “Bapaknya engga punya uang, anaknya terima saja,” kata Syarifudin.

Akhirnya, kenyataan ini yang mendorong Syarifudin Yunus, untuk mengubah cara pandang masyarakat mengenai pendidikan. Dengan cara membangun budaya literasi membaca agar meningkatkan taraf hidup masyarakat.

 

Taman Baca Lentera Pustaka

Berdasarkan keadaan itu, dosen Universitas  Indraprasta PGRI ini mendirikan Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka. TBM Lentera Pustaka diresmikan pada 5 November 2017. Waktu itu, Sofyan Hanif (Wakil Rektor III UNJ), Liliana Muliastuti (Dekan FBS), Khotibul Umam Wiranu (anggota Komisi VIII DPR sekaligus Ketua IKA FBS), dan Camat Kecamatan Taman Sari hadir dalam peresmian itu.

Syarifudin berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat melalui pendidikan. Baginya, pendidikan mampu mengeluarkan masyarakat dari jurang kemiskinan. Dengan pendidikan, anak mampu  merencanakan masa depannya. Harapan  itu yang diinginkan oleh Syarifudin. Terutama agar anak mengerti pentingnya menempuh pendidikan.

Melalui buku bacaan yang disediakan oleh TPM Lentera, Syarifudin berharap dapat mencapai tujuannya. Baginya buku bisa menjadi sumber pengetahuan yang berguna untuk masa depan anak. Buku juga berguna untuk kehidupan mereka sendiri dan orang lain.

Kini, TBM Lentera Pustaka memiliki sekitar 60 murid. Koleksi bukunya sudah mencapai 3000 koleksi buku. Buku – buku bacaan itu berasal dari pemberian teman-teman Syarifuddin.  Selain itu, TBM Lentera juga memilki fasilitas WIFI dan listrik.

Strategi Syarifudin agar anak suka membaca ditempuh dengan berbagai kegiatan yang kreatif dan inovatif. Selama ini, anak tidak suka membaca dan hanya bermain saja. Ia ingin anak – anak suka membaca. “Ini kan berbicara kultur, yang tadinya engga suka baca, dengan adanya buku, jadi suka,” kata Syarifudin.

Syarifudin sadar membaca itu kegiatan yang membosankan. Oleh karena itu, ia harus pintar-pintar untuk menarik hati anak-anak. Agar membaca bisa menjadi kegiatan yang memikat hati anak-anak, maka TBM Lentera Pustaka tak jarang mengadakan kegiatan lainnya, seperti wisata literasi, senam literasi, doa literasi, zona baca hijau, dan Laboratorium baca.

Khusus kegiatan Laboratorium baca, TBM Lentera Pustaka mengajak anak-anak untuk membaca buku di lingkungan sekitar. Harapannya, anak memiliki suasana baru untuk membaca. “Suasana itu penting, biar nyaman,” kata Syarifudin Yunus.

Menjaga Komitmen

Syarifudin mengatakan ada tiga sebab yang akhirnya membuat Taman Baca Masyarakat tidak berjalan.

Pertama, ialah buku yang disediakan ada, tetapi anak tidak ada. Kedua, anak-anak ada, tetapi buku yang disediakan tidak ada. Ketiga, ialah komitmen pendiri dan pengelola Taman Bacaan Masyarakat. Ia mengaku tetap menjaga komitmen agar TBM Lentera tetap ada. Meskipun, TBM ada di sekitar kaki gunung salak, tak jadi hambatan untuk Syarifudin selalu hadir tiap minggu. “Biasanya itu, mentang-mentang pendiri, ia tidak datang. Padahal, di situ diuji komitmennya,” kata Syafudin.

Syafudin juga mengaku, komitmennya itu yang lantas membuat ia menarik banyak sponsor. Sponsor itu memberi bantuan dana untuk kelangsungan TBM Lentera. Bahkan, TBM Lentera tidak pelu memikirkan biaya Satu Tahun ini. “Jadi tinggal jalan aja,” kata Syarifudin.

Namun, TBM Lentera Pustaka juga memiliki hambatan. Menurutnya, di daerah Kecamatan Tamansari, banyak orang tua yang tidak menganggap penting kegiatan TBM Lentera Pustaka. Asumsi ini didapat karena masih banyak orang tua yang tidak mengajak anaknya ke TBM Lentera Pustaka.

Meskipun begitu, ia tetap berusaha untuk mengajak mereka. Dengan cara sering mengadakan kegiatan di TBM. “Kalau diseringin kan, orang tua juga denger. Akhirnya, mereka mengajak anaknya ke TBM,” kata Syarifudin.

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.