Pemikiran Pendidikan Soekarno: Posisi Guru Penting Untuk Membangun Peradaban Manusia

 

Menurut Bung Karno, selama guru masih ada, peradaban manusia tidak akan hancur.

 

Hendrik Yaputra,

Soekarno mengatakan pendidikan adalah cermin kehidupan sebuah bangsa. Pandangan ini, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan aliran pendidikan nasional saat itu. Waktu itu, berbagai elemen masyarakat mengembangkan sistem pendidikan nasional, seperti sekolah Muhammadiyah, NU dengan pesantren, dan Perguruan Rakyat yang dibuat atas inisiasi tokoh-tokoh PNI. Bagi Soekarno, berbagai macam sistem pendidikan itu adalah bentuk sistem pendidikan nasional Indonesia.

Pernyataan ini disampaikan Dosen Universitas Bung Karno Yana Priyatna dalam Forum Diskusi Pedagogik  (FDP) IKA UNJ bertema “Pemikiran Pendidikan Tokoh Bangsa di Ruang 104 Gedung Pascasarjana UNJ. Kegiatan ini dimoderatori oleh Abdullah Taruna ( Koordinator FDP IKA UNJ) dan dihadiri Jimmy Philip Paat (Dosen Bahasa Perancis UNJ), beberapa alumni UNJ, dan beberapa mahasiswa Sarjana dan Pascasarjana UNJ.  Yana Priyatna menyajikan makalah berjudul “Pemikiran Pendidikan Ir. Sukarno”.

Yana mengatakan Soekarno pernah menuliskan artikel berjudul “Guru di Masa Pembangunan yang dibacakan pada kongres Taman Siswa. Tulisan Soekarno mengenai peran Guru berkaitan dengan situasi Perang Dunia II dan menyebarnya gagasan Fasis Nazi. Soekarno melihat bahaya Fasisme yang bisa menghancurkan peradaban manusia. “Demokrasi hancur, jiwa kejujuran hancur,” kata Yana.

Namun Soekarno tidak pesimis. Ia menganggap selama guru masih ada, peradaban manusia tidak akan hancur. Oleh karena itu, posisi Guru penting untuk membangun peradaban manusia. “Guru sebagai rasul peradaban,” kata Yana.

Bagi Soekarno, Guru bertugas menimbulkan kesadaran manusia mengenai kejujuran, jiwa kerakyatan, kemanusiaan, dan jiwa ksatria. Namun, Soekarno mengingatkan, Guru harus memiliki karakter ini dahulu, supaya bisa mengajarkannya kepada murid.

Soekarno juga menekankan Guru tidak boleh menerapkan metode memaksa dalam mendidik dan mengajar. Sebab, tiap anak memiliki kesadaran. Guru harus menerapkan proses dialog dalam mendidik dan mengajar. Proses ini akan menimbulkan timbal balik pengetahuan antara Guru dan murid.

“Guru dan murid harus saling membangun dan menerima. Ada timbal balik pengetahuan. Bung Karno belajar dari rakyat Indonesia, Rakyat juga belajar dari Bung Karno,” kata Yana.

Proses timbal balik juga bisa menumbuhkan kesadaran murid. Setelah murid memiliki kesadaran, ia memiliki kemauan. Kemauan itu berupa kemauan belajar atau kemauan untuk mencari tahu tentang suatu hal. Kemudian, muncul keinginan untuk bertindak. “Tiga hal itu yang harus dibangun antara murid dan guru,” kata Yana.

Menurut Yana, sebetulnya, universitas yang kerap kali membahas pemikiran Soekarno ialah UIN Jakarta dan UIN Jogjakarta. Namun, mereka hanya membahas pemikiran Soekarno yang terkait dengan pemikiran pendidikan Islam. Mengenai pendidikan Islam, Soekarno mengatakan pendidikan Islam perlu progresif. Pemikiran itu dapat ditemukan dalam tulisan Soekarno pada tahun 1934, 1939, dan 1940an. Namun, sebenarnya jarang peneliti yang mendalami pemikiran pendidikan Soekarno sebelum tahun itu. Tulisan Berjudul “Guru di Masa Pembangunanmenjadi contoh pemikiran pendidikan Soekarno yang jarang dibahas.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.