Sisi Lain Sejarah Pemikiran Politik Indonesia

“Sejarah pemikiran politik Indonesia terutama ide nasionalisme radikal saat ini menghilang. Masyarakat lupa tentang pemikiran mereka, padahal pemikiran ini memiliki andil besar untuk kemerdekaan Indonesia, kata Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud dalam video yang ditayangkan saat Diskusi Publik bertema Sisi Lain Politik Indonesia: Sejarah Pemikiran Politik yang Hilang, Aula Maftuchah, Gedung Dewi Sartika (14/08). Sebenarnya Hilmar diundang menjadi Keynote Speakers, namun karena tidak bisa hadir, ia mengirimkan video pembuka untuk diskusi publik ini.

Dalam video itu, Hilmar melanjutkan, Ide Nasionalisme radikal ingin membongkar masalah kolonialisme secara meluruh, supaya mengantikan tatanan lama menjadi tatanan baru. Pada 1920-an, kalangan pelajar yang memiliki andil besar dalam menyebarluaskan ide ini, melalui tulisan yang dimuat di media cetak.

Tidak hanya kaum pelajar yang menyumbang, masyarakat yang tak merasakan pendidikan juga ikut andil dalam menyebarkan ide nasionalisme radikal.

“Nasionalisme radikal tidak hanya tumbuh di kalangan pelajar, seperti narasi sejarah kita. Nasionalisme sering dianggap buah politik etis. Padahal tidak demikian. Mereka yang tak mendapat pendidikan, memiliki ide itu karena mereka mengalami diskriminasi. Kita lihat diskriminasi secara nyata adalah dorongan utama di zaman itu. Dialektika ini lah yang akhirnya memicu tradisi Nasionalisme radikal kita. Ini akarnya. Sebab, pemikiran tidak hanya berasal dari dunia ide, tapi ada benturan di masyarakat yang bersinggung dengan kenyataan, kata Hilmar Farid.

Diskusi ini diselenggarakan Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika dan FPPI Jakarta. Acara ini mengundang tiga pembicara, yaitu Peter Carey (Follow Emeritus Trinity College Oxford British), Andi Achdian (Dosen Universitas Nasional dan anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia), serta Satriono Priyo Utomo (Alumnus S1 Pendidikan Sejarah UNJ dan Penulis Buku Politik Dipa Nusantara) yang dimoderatori oleh Lukman Hakim (Alumbus S1 Pendidikan Sejarah UNJ). Namun Peter tak bisa hadir, lantaran anaknya mengalami musibah. Turut di sayangkan Prof. Peter Carey tidak bisa hadir karena harus menunggu anaknya di rumah sakit, kata Lukman.

Meski begitu diskusi tetap dilanjutkan. Andi Achdian menjadi pembicara pertama. Andy mengatakan sebenarnya sejarah pemikiran Indonesia tidak hilang, tetapi dihilangkan. Hal ini merujuk kepada kosakata yang dipahami. Baginya, hilang berarti sudah tak ada, ia hilang sendiri. Sedangkan, kata dihilangkan artinya ada seseorang yang sengaja menghilangkan. Oleh karena itu, hal itu masih bisa dicari. Sejarah pemikiran bukan hilang tapi dihilangkan, kata anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia ini untuk menegaskan kembali.

Ia mencontohkan buku berjudul Indonesian Political Thinking 1945-1965 karya Herbert Feith dan Lance Castles yang saat diterjemahkan LP3S ada bagian yang dihilangkan.

“Biasanya pemikiran terjemahan itu lebih tebal. Tapi buku mereka diterjemahkan lebih tipis, buku aslinya berjumlah 524 halaman. Sedangkan terjemahannya yang berjudul Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965 hanya 306 halaman, kata Andi.

Bagian yang dihilangkan itu, lanjut Andi, pemikiran tokoh bangsa yang masuk dalam aliran Nasionalisme Radikal. Kadang dianggap aliran komunis, kata Andy.

Bagi Andi, dihilangkannya bagian itu tidak bisa dilepaskan dari konteks saat itu. Dari 1980an hingga 1990an, pemikiran politik yang berhaluan Marxisme itu dilarang. Masyarakat maupun akademisi dilarang untuk mempelajari ajaran Marxisme.

Pelarangan itu berpengaruh terhadap situasi saat ini. Bagi Andi, meskipun sekarang ajaran Marxisme sudah bisa dipelajari oleh akademisi, tetapi ajaran Marxisme tidak dipahami sampai ke dasarnya. Ajaran Marxisme jadi kehilangan kegunannya, kata Andy.

Padahal, pemikiran Marxisme menjadi bagian penting untuk membentuk pemikiran tokoh nasional seperti, Soekarno dan H.O.S Tjokroaminoto.

“Soekarno menulis buku Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Tjokroaminoto menulis Islam dan Sosialisme. Mereka menggunakan teori sosialisme dan menggabungkannya dengan konsep kebangsaaan. Bagi Tjokro, tidak mungkin hanya berbicara dasar Islam, tanpa melihat konteks kebangsaan dan asas sosial dalam pergerakan,” kata Andi.

Senada dengan Andi, Satriono mengatakan mengetahui sejarah pemikiran politik itu penting. Sebab, masyarakat tidak bisa menghindari politik karena politik yang menghidupi mereka. Politik adalah hajat kita semua, kata Satriono.

Apalagi, bagi Satrio, perdebatan politik itu yang membentuk Indonesia. Para tokoh bangsa saling memperdebatkan paham-paham mereka untuk kemajuan Indonesia. Biasanya, mereka menyampaikan buah pemikiran serta analisis sosialnya di koran. Partai Komunis Indonesia menyampaikannya di Harian Rakyat, Masyumi di Koran Abadi, kata Satrio.

Satrio juga sepakat bagian pemikiran yang dihilangkan ialah pemikiran Marxisme. Salah satu tokohnya ialah Dipa Nusantara Aidit..

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.