Sisi Lain Kehidupan Masyarakat di Pinggir Kota

Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi atau KMPF menyelenggarakan Pameran Foto di Galeri Latief, lantai 2, Gedung Dewi Sartika (13/5). Ada sekitar 23 foto yang dipamerkan KMPF. Pameran ini diselenggarakan dari 13 Mei hingga 15 Mei 2019.

Sisi lain menjadi judul yang dipilih KMPF. Bagi Alwan, ketua panitia pameran foto, sisi lain mengambarkan kehidupan masyarakat pinggir kota Jakarta. Mereka memiliki berbagai macam keresahan, seperti kurangnya lahan bermain dan sulitnya mencari makan. “Keresahan yang tak direspon oleh pemerintah,” kata mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan ini.

Di samping itu, Alwan juga ingin menyadarkan mahasiswa yang masih menyepelakan hal kecil. Padahal hal itu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat pinggiran kota.” Biar tak buang sampah sembarangan lagi dan buang puntung rokok sembarangan,” kata Alwan.

Proses Pameran Foto
Sebelum menyelenggarakan pameran foto, Alwan dan teman-teman perlu menempuh berbagai tahapan.
Awalnya, Alwan dan teman-teman memilih tema yang akan diangkat. Pemilihan tema bertujuan memudahkan fotografer menemukan objek foto. “Biar pintar lihat objek, ” kata Alwan.

Kemudian, objek yang sudah di foto diserahkan kepada kurator. Kurator bertugas untuk menentukan foto yang layak untuk dipamerkan. Kriteria kelayakan foto bermacam-macam, seperti kesesuaian foto dengan tema, komposisi foto, dan objek yang tidak menganggu.

Pengembangan Pengetahuan Fotografer
Berkaitan dengan kurator, Nasya Saskia Namira, ketua PKMF, mengatakan tahapan ini yang sulit dilalui oleh fotografer baru. Sebab, sebagian dari mereka belum mampu menemukan angle foto. Oleh karena itu, fotografer muda perlu mendapatkan pendidikan tentang teknik fotografi.

Di KMPF, Nasya mengaku membuka tiga kelas untuk mengembangkan kemampuan fotografi, yaitu kelas jurnalitik, kelas salon, dan kelas altenatif. Ketiga kelas itu harus diikuti fotografer muda.

Kelas jurnalistik, mempelajari teknik mengambil foto yang mengandung informasi. Sedangkan, kelas salon mengembangkan pemikiran fotografer muda untuk membuat sebuah konsep. Kemudian, konsep itu diabadikan melalui foto. Biasanya, teknik ini memerlukan teknologi lightning dan melakukan pemotretan di studio. “Salon lebih berkonsep, sedangkan jurnalistik lebih on the spot,” kata mahasiswa Seni Tari ini.

Terakhir, kelas alternatif. Dalam kelas ini, fotografer muda tidak diizinkan menggunakan kamera konvensional, seperti kamera digital. Biasanya, pemotretan menggunakan Kamera Lubang Jarum atau Scanner.

Ketiga kelas itu perlu dilalui dan dipahami Fotografer muda. Dengan mempelajarinya, Nasya berharap fotografer muda bisa menemukan makna dalam memotret objek. Sebab, bagi Nasya, foto adalah karya seni yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.