Sains dan Kemanusiaan

Sains seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, bermanfaat membantu kehidupan manusia. Sedangkan sisi lain, bisa menjadi malapetaka bagi kehidupan manusia. Perang Nuklir bisa menjadi contoh itu.

Penggalan pernyataan itu diutarakan Panji Laksamana dalam diskusi “Kosmos” karya Carl Sagan di Arena Prestasi FIS UNJ, Selasa (21/5).

Menurut Panji, perang Nuklir hanya keinginan segelintir orang yang haus akan kekuasaan. Mereka menghilangkan moral kemanusiaan mereka. Padahal, penemuan sains tidak diciptakan untuk tujuan itu. “Kehancuran Bumi, nyatanya, di tentukan segelintir orang,” kata Panji.

Selama Perang dunia II, sedikitnya 2 Megaton TNT dijatuhkan di berbagai tempat. Umumnya, TNT itu bisa menghancurkan satu blok kota.

Belum lagi, saat perang dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet, memiliki rudal jarak jauh yang siap diarahkan di 15. 000 tempat.

“Dalam satu bom termonuklir, energi yang ditimbulkan sebesar dua megaton. Energi rudal jarak jauh, membawa energi sebesar 10.000 megaton. 5000 kali lebih besar dari energi yang digunakan dalam bom pada perang dunia II. Dalam beberapa jam, kerusakan yang ditimbukan setara dengan 6 tahun perhelatan perang dunia II.

Setelah ledakan, Sisa-sisa radiasi menghantui bekas lokasi pengeboban. Baku tembak senjata nuklir akan membakar nitrogen di atmosfer, menghasilkan oksida nitrogen yang nantinya merusak sejumlah besar ozon. Meloloskan sebagain besar radiasi sinar ultraviolet dari matahari. Kehancuran bumi bukan lagi awang-awang semata, ” kata Panji.

Fungsi Sains
Sebetulnya, sains berfungsi memudahkan kehidupan manusia, bahkan, sejak berabad-abad yang lalu.
Pada 2.500 tahun yang lalu, masyarakat Ionia di perairan Aegea, menggunakan kerangka berpikir sains untuk mempermudah kehidupan mereka. Atas dasar pemikiran sains, mereka membuat penemuan-penemuan untuk membantu pekerjaan teknis. “Oleh karena itu, sains dianggap barang mewah oleh masyarakat Ionia,” kata Panji.

Ahmad Qori, mahasiswa program studi Pendidikan Sosiologi, menanggapi manfaat sains. Menurutnya, Sains berguna memudahkan urusan manusia. Hingga akhirnya, manusia menjadi gandrung akan sains dan teknologi. Kehidupan manusia tak bisa dilepaskan dari teknologi. Bagi Qori, ketergantungan ini berpengaruh negatif untuk kehidupan manusia. Karena membuat manusia malas untuk berpikir dan bertindak. “Jadi, manusia harus lebih bijaksana menggunakan teknologi,” kata Qory.

Diskusi ini diadakan Kelompok Lintas Literasi bernama Warung Intelektual atau Warteg pada pukul 16.30 WIB hingga selesai.

Penulis: Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.