Rektor Ideal Civitas Academica UNJ

Tidak sulit menemukan informasi terkait proses pemilihan rektor (pilrek) UNJ. Di Gedung Parkiran misalnya, terpampang spanduk besar yang memberikan informasi alur pilrek UNJ secara gamblang. Sedangkan, di tiap gedung fakultas, info pilreg disebarkan melalui di X-Banner. Civitas academica juga bisa melihat informasi itu di website resmi UNJ serta media sosial UNJ.

Informasi itu direspon civitas academica UNJ. Mereka berharap rektor terpilih bisa membawa UNJ lebih baik lagi.

Fatur, ketua KSR PMI UNJ sekaligus Ketua Forum Gedung G UNJ berharap, pemimpin baru UNJ mengenal mahasiswanya, supaya mengetahui masalah-masalah mahasiswa. Fatur juga ingin, rektor baru mudah diajak bertemu untuk berdiskusi, serta bisa menerima masukan dan kritik dari mahasiswa. Masukan dan kritik ini diperlukan untuk membangun UNJ bersama-sama. “Banyak diskusi dan bisa diberikan masukan. Jangan tiba-tiba kabur aja, takut. Engga mau menyelesaikan masalah,” kata Fatur (03/8).

Hal itu juga dilontarkan mahasiswa Pendidikan Sejarah, Lutfia Harizuandini. Baginya rektor harus memperhatikan mahasiswanya, terutama di bidang akademik. Sebab, Rektor bertanggungjawab memimpin jajarannya untuk menciptakan atmosfer akademik yang kondusif. Kondisi itu dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan akademik mahasiswa.
Lutfia sendiri menginginkan rektor seperti Conny Semiawan yang berhasil membawa IKIP sebagai kampus pendidikan terbaik saat itu. “Bu Conny bisa menciptakan atmosfer akademik yang berkualias. Hal ini mendorong mahasiswa untuk berprestasi secara akademik,” kata Lutfia.

Pernyataan senada diungkapkan Sofyan Hanif selaku Wakil Rektor III UNJ. Ia sepakat rektor harus mengenal mahasiswanya. Selain itu, Rektor baru harus segera menyelesaikan masalah UNJ yang ada sebelumnya, agar UNJ bisa fokus menjadi perguruan tinggi bereputasi Asia. “Itu kan cita-cita kita sekarang,” kata Sofyan saat ditemui di kantor WR III, Gedung Rektorat UNJ (07/08).

Menanggapi hal itu, Hafidz Abbas selaku Ketua Senat UNJ, mengatakan rektor memang harus mengenal warga kampus. Sebab, rektor akan memimpin mereka. “Rektor itu, rektornya mahasiswa, rektornya dosen, rektornya pegawai, rektornya satpam,” kata Hafidz.
Supaya civitas academica bisa mengenal rektornya, Hafidz sudah membuat jadwal supaya calon rektor bisa menyampaikan visi dan misinya kepada kepada warga kampus. “Ada jadwal sosialisasi,” kata Hafidz.S

aat ditanya rektor seperti apa yang diharapkan UNJ, Hafidz mengatakan rektor harus bisa membawa UNJ menuju impiannya, yaitu menjadi Perguruan tinggi bereputasi Asia. Oleh karena itu, calon rektor harus menguasai bahasa international serta memahami masalah international. “Saya ingin UNJ seperti zaman Bu Conny. Bu Conny sendiri menguasai bahasa Jerman, Belanda, dan Inggris. Kemampuan ini yang yang harus dimiliki supaya bisa bergaul dengan dunia international,” kata Hafidz.

Hafidz melanjutkan siapa pun calon rektornya harus mengetahui tujuan adanya perguruan tinggi. Baginya, perguruan tinggi terdiri dari masyarakat ilmiah. Mereka menjunjung tinggi demokrasi, kesetaraan, dan terus menerus mencari kebenaran. Mereka juga harus memajukan teknologi untuk peradaban manusia. “Universitas itu otak negara dalam nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan perdamaian dunia. Kalau engga ada yang memiliki kriteria itu, kita susah untuk bereputasi Asia, kata Hafidz.

Tidak jauh berbeda dengan Hafid,Ubeddilah Badrun selaku Dosen Pendidikan Sosiologi UNJ mengatakan rektor selanjutnya perlu mengetahui esensi berdirinya universitas. Bagi Ubeddillah, universitas adalah miniatur peradaban yang dipandang publik sebagai harapan. Oleh karena itu, universitas perlu menumbuhkan atmosfer akademik, baik dikalangan dosen maupun mahasiswa. Atmosfer itu akan membuat mahasiswa dan dosen memiliki perilaku kultural di universitas yang disebut scientifict attitude (perilaku ilmuwan). Perilaku itu seperti watak objektivitas, watak kejujuran akademik, etika akademik, kesetaraan dan kemerdekaan akademik.

Supaya marwah akademik bisa diperkuat, universitas harus melepaskan diri dari kepentingan politik. Ia mengingatkan daripada sibuk dengan urusan politik, universitas perlu bekerja secara efektif untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berubah. Masa depan universitas harus menjadi perbincangan utama.

“Bukankah era disrupsi serta faktor perkembangan revolusi industri keempat memberikan tantangan sekaligus peluang baig universitas. Bukankah perubahan perilaku pada generasi millenial sekaligus perubahan-perubahan lain yang terjadi secara cepat, massif, yang turut mempengaruhi perkembangan di masa depan, jauh lebih penting menjadi bahan diskursus elite universitas ketimbang kasak-kusuk jual beli jabatan rektor?” kata Ubeddilah.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.