Prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed: Nggak Bisa Standar Global Tapi Gaji Masih Lokal

 

 

 

 

Wacana impor rektor menggelinding lagi. Polemik pun terjadi. Bila itu berkaitan dengan standar SDM global, bagaimana perguruan tinggi harus menjalani?

Abdullah Taruna,

Fokus pembangunan 5 tahun ke depan (2019-2024) adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Namun perguruan tinggi nasional sebagai tolok ukur kualitas SDM global hanya menyisakan tiga universitas yang masuk peringkat berdaya saing internasional: Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Padahal jumlah perguruan tinggi mencapai 4700 universitas.

Jika permasalahan daya saing rendah tersebut tidak diatasi, tentu pembangunan kualitas SDM berpotensi besar meleset dari sasaran. Menristekdikti M. Nasir  Senin, 22 Juli 2019 lalu menyatakan, pada 2020, Presiden R.I. Ir. H. Joko Widodo mencanangkan kembali rencana mendatangkan rektor dari perguruan tinggi asing. Untuk menindaklanjutinya, Kemenristekdikti akan melakukan mapping  atas 4697 kampus kualitasnya belum berdaya saing internasional.

Menanggapi persoalan itu, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof.Dr. Nana Supriatna, M.Ed, menjelaskan latar belakang minimnya daya saing perguruan tinggi nasional. “Kita “terlanjur” memilih sistem ekonomi pasar dalam ideologi neoliberal. Dalam dunia pendidikan pun sama. Sistem pe-ranking-an, asesment, quality assurance,  riset, akademik, publikasi, dll juga sama. Kita mengikuti standar global. Masalahnya, apakah regulasi kita siap dengan rektor asing menjabat di universitas kita? Apakah (rektor luar negeri: Red.) siap juga ngikut segala macam aturan yang berlaku di kita?  Beberapa aturan bisa bertabrakan atau kontraproduktif dengan semangat meningkatkan ranking universitas kita,” ungkap Nana Supriatna.

Apabila niatnya untuk meningkatan jejaring dan mengikuti standar global, lanjut Nana, impor rektor asing boleh – boleh saja. “Siap-siap saja semua universitas mengubah mind set-nya,” katanya.

Bila para dosen dan tenaga administrasi perguruan tinggi ibarat gerbong, mengganti rektor sama dengan mengganti lokomotifnya, lalu apakah para staf pengajar dan semua sivitas akademiknya siap Prof ? Tanya Abdullah Taruna dari IKA UNJ Kepada Prof. Nana Supriatna via WhatsApp. “Harus. Hambatan-hambatan kultural seperti budaya feodal dalam perguruan tinggi harus dibersihkan,” kata peraih gelar Master of Education dari Deakin University Melbourne, Australia ini.

Menurut Nana Supriatna, kesiapan itu sudah merupakan keharusan karena perguruan tinggi di Indonesia sudah menggunakan parameter internasional. “Terlanjur pake (menggunakan: Red.) standar-standar global. Penerbitan karya pun pake scopus. Kalau sistem itu yang mau dianut sekalian saja semuanya. Siap nggak gaji dosen juga harus standar global? Paling tidak sebesar gaji dosen di Malaysia,” Ungkap Prof. Nana Supriatna.

Usulan Nana Supriatna semata agar penggantian rektor lokal dengan rektor dari perguruan tinggi luar negeri mampu memudahkan para staf pengajar di perguruan tinggi di dalam negeri untuk berekselerasi dengan kualitas pendidikan berstandar global. “Nggak bisa tuntutan standar global dalam akademik dll., tetapi gaji masih pake satuan lokal,” pungkasnya.

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.