Prof. Dr. A. Suhaenah Suparno: Bagaimana Ada Ayam Kampung Dibandingkan Dengan Ayam Negeri?

Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno saat membahas tema Reboan Pendidikan FDP IKA UNJ “Masa Depan LPTK di Indonesia”. Foto: Edy Budiyarso.

Pelibatan LPTK dalam kompetisi dengan universitas ilmu murni papan atas pada masa itu sungguh tidak sebanding dari sisi biaya.

Abdullah Taruna,

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno saat menjadi pembicara Forum Diskusi Pedagogik (FDP) IKA UNJ dengan tema “Masa Depan LPTK di Indonesia”, Rabu, 18 September 2019 di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Rektor IKIP Jakarta periode 1992-1997 Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno kepada sekitar 90-an peserta Reboan Pendidikan yang hadir, mengungkapkan betapa upaya memajukan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK/IKIP) pada masanya memang penuh onak berduri. “Pokoknya itu makan hati, kitanya harus sabar,” ujar Anna Suhaenah.

Tiba masanya saat Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud dipimpin Prof. Dr. Soekadji yang berlatar belakang ilmu murni dan seorang pakar ekonomi pada 1985-1993. Anna Suhaenah sendiri saat itu baru menjabat Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta. Dirjen Dikti Soekadji di masa Mendikbud Fuad Hasan membuat program pendidikan guru D3 untuk sekolah dasar. Program yang dibiayai dari dana pinjaman Bank Dunia itu bukan dijalankan oleh IKIP sebagai lembaga yang mendidik para calon guru, melainkan diserahkan universitas negeri seperti ITB, UI, UGM, Unair.

Prof. Dr. Anna Suhaenah Suparno bersama Prof. Dr. Sutjipto saat menjadi pembicara Nujuh Bulan Forum Diskusi Pedagogik IKA UNJ. Foto: Edy Budiyarso.

Semua universitas yang besar-besar saat itu  mendapat tugas merekrut calon-calon mahasiswa D3 MIPA. Kebijakan menghasilkan guru SD dari perguruan tinggi non IKIP  dilandasi argumen bahwa Indonesia akan maju bila bidang studi eksakta_ MIPA-nya maju.  Indikasinya tentu adalah keunggulan universitas dalam konten.

Saat meluncurkan program guru D3 dari universitas negeri itu, Dirjen Dikti Soekadji menyatakan kata-kata yang sangat memeningkan para pimpinan LPTK. “Saya kecewa dengan LPTK. Jadi saya akan menghasilkan guru dari universitas. kita lihat mana yang lebih bagus, ” ungkap Anna Suhaenah mengulang pernyataan Soekadji, Dirjen Dikti dari Universitas Gajah Mada.

Pernyataan keras dan nyelekit Soekadji memang tidak pernah terucap oleh Dirjen Dikti sebelumnya yang dikenal sangat pekah dengan perjuangan LPTK, yaitu Prof. Dr. Dody Tisna Amijaya_Mantan Rektor ITB.

“Ditantangnya begitu kita,  Jadi kadang-kadang bukan hanya nusuk hati lagi, tapi sudah nusuk limpah. Saya katakan kemudian_, berapa unit cost-nya untuk mendidik satu orang guru MIPA D3 bapak? Tanya Anna Suhaenah ke Dirjen Dikti Soekadji.

Program guru D3 MIPA yang dipercayakan ke universitas tersebut dijalankan dengan dana pinjaman World Bank. “Saya agak lupa jawabannya, tapi begini, yang LPTK-nya  itu besarnya 1/3nya dibanding universitas. Jadi biaya mendidik seorang calon guru MIPA SD itu di IKIP 1,2 juta, mereka 3,6 juta begitu. Saya bilang bagaimana ada ayam kampung dibandingkan dengan ayam negeri (guru didikan IKIP dibanding guru didikan universitas: Red.), “ ungkap Anna Suhaenah.

Menurut Prof Anna Suhaenah, pada era 1985-1993 harga ayam kampung jauh lebih murah karena makanannya lebih murah. Sebaliknya biaya produksi ayam negeri lebih mahal lantaran biaya pakan yang tinggi pula. Jadi tidak kompatibel bila mau membandingkan kualitas guru lulusan IKIP dengan lulusan universitas bila dari sisi biaya sudah jomplang.

“Bahkan unit cost pun sudah tidak sama, 1/3 waktu itu untuk LPTK dibanding universitas negeri,” ujar Anna Suhaenah. (Bersambung)

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.