Begawan Pendidikan Conny Semiawan Bicara Sistem Zonasi

 

 

Yana Priyatna,

Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Conny R. Semiawan menyatakan, bahwa nilai sangat penting dalam membangun relasi antara guru dengan anak didik dalam proses pendidikan. Nilai hidup tertinggi adalah Tuhan. Sistem Zonasi tidak terlalu penting kalau titik tekan hanya agar  memudahkan anak menjangkau sekolah, namun mengabaikan nilai-nilai kehidupan.

Menurut Prof. Conny, sistem zonasi hanya menekankan bagaimana siswa menjangkau sekolah dengan mudah. Sistem zonasi itu pendekatannya terlalu pragmatis, yang dipikirkan hanya untuk memudahkan. “Dalam sistem zonasi dapat mengabaikan nilai hidup, dan terlalu pragmatis.” Kata Ibu Conny dalam diskusi Forum Diskusi Pedagogik (FDP) IKA UNJ di kediaman Prof. Dr. Conny R. Semiawan Jl. Brawijaya VIII No. 32 Jakarta Selatan, Rabu (26/06).

Diskusi dihadiri oleh Ketua Ikatan Alumni UNJ, Dr. Juri Ardiantoro, dan Sekjen IKA UNJ, Dr. Suherman Saji, Dra. Budiarti, M.Pd- dosen senior Jurusan Pendidikan Sejarah, dan Ketua Tim Ahli FDP Jimmy Ph. Paat. Selain itu hadir pula para alumni IKIP/UNJ diantaranya Anton Chekov, Cak Joko dan Dr. Rahmad Edi Irawan, dan bebrapa alumni UNJ yang lain serta beberapa mahasiswa yang masih aktif.

Dalam diskusi bertema “Pedagogik untuk Mencerdaskan Anak Zaman Now” yang dipimpin oleh moderator Abdullah Taruna, S.Pd., itu berlangsung santai dan tidak terlalu resmi, sekali-kali Prof. Dr. Conny R. Semiawan menyelingi diskusi pedagogik yang berat itu dengan ucapan-ucapan santai sehingga forum diskusi berjalan cair walaupun tema yang dibicarakan berat-berat. “Ayo diminum tehnya, kuenya dimakan jangan dibiarkan saja,” seru Bu Conny di tengah-tengah diskusi. Para peserta diskusi pun lalu menyeruput teh, kopi dan mencicipi kue lapis legit yang ada di meja.

Melanjutkan pandangannya atas sistem zonasi, Ibu Conny menjelaskan bahwa pendidikan saat ini hanya memikirkan bagaimana memudahkan hidup. Contohnya adalah berkaitan dengan NEM (Nilai Ujian Nasional berbasis komputer: Red.), kalau NEM tidak berlaku, lalu untuk  apa anak-anak sekolah walaupun sekolah di depan rumah, “Ngak ada gunanya dong,” katanya singkat.

Ibu Conny R. Semiawan menambahkan, bahwa pendidikan saat ini yang dikejar itu terlalu menekankan bagaimana seorang anak menguasai ilmu untuk menghadapi kehidupan, sementara yang lain-lain diabaikan. “Jadi jangan ilmu  itu untuk ilmu. Ilmu itu bisa dimanfaatkan untuk menghadapi kehidupan dengan baik dan benar,” jelas Prof Conny yang dikenal sebagai Begawan Pendidikan itu.

Karena menurut Ibu Conny, otak itu ternyata sangat lentur tidak kaku, tidak hanya menjadi besar,  tetapi juga berubah. Setiap perubahan otak itu membawa perubahan perilaku. Itu yang diteliti oleh penliti-peniliti Presiden AS Obama. Itu yang harus dibawa ke sekolah. Jadi yang saya ajarkan adalah dampak neuroscience terhadap pedagogik. Itu yang saya bawakan, “Selama 40 tahun itu yang saya ajarkan,” kata Ibu Conny.  “Diminum ya,” kata Ibu Conny santai.

Ibu Conny melanjutkan, bahwa pandangan-pandangannya  tentang pendidikan (pedagogi) dan ilmu pendidikan (pedagogik dipengaruhi oleh proses pengalaman hidupnya sebagai manusia dan sebagai pendidik. Dia mengkaji dan menghayati kehidupan nyata, dengan mengalami kehidupan nyata dalam kehidupan yang sesungguhnya. “Saya tetap belajar dan tetap mengajar. Dalam dalam proses mengajar dan belajar itu ternyata ilmu itu terus meningkat, bahkan makin meningkat. Sementara di kehidupan sehari-hari itu kita ketinggalan sama sekali, nggak ngerti yang diambil dan sangat besar pengaruhnya. “Semuanya terlalu pragmatis. Di situ saya ketemukan, bahwa nilai-nilai itu jangan sampai memudahkan kehidupan, tetapi bagaimana memahami kehidupan,” terangnya.

Yang paling pokok menurut dia, nilai tertinggi itu adalah Tuhan. Ia mengatakan situasi itu dialami para putranya, dia mendapatkan kesimpulan denegan begitu bahwa di manapun seseorang hidup dan menjalani kehidupan jangan lupa lima kali sehari tetap sholat, tetap baca Al-qur’an misalnya. “Itu bukan jasa saya,” kata Ibu Conny.

Ilmu digeluti dan didalaminya, menurut pengakuan Ibu Conny, didasarkan pada pengalaman kehidupan nyata yang dijalaninya. “Kehidupan nyata yang saya alami, kemudian saya gandeng dengan psikologi, dan pedagogik,” katanya. Jadi sesuatu yang Ibu Conny  hayati, kemudian diamati, menjadi empirical evidence (bukti empiris). Nilai yang harus dipertahankan misalnya kejujuran, itu sebuah pilihan, karena yang menentukan itu adalah Tuhan. “Jujur itu yang dipegang seseorang itu pilihan, nilai yang diajarkan kepada anak-anak itu yang disebut pedagogik,” kata Ibu Conny.

Prof. Conny menambahkan, nilai itu bersifat normatif, dan universal. Ketika nilai itu diambil dalam pendidikan perlu disesuaikan dengan kondisi lokal. Agar nilai itu tertanam kuat dalam diri seseorang, menurut Ibu Conny perlu ada pembiasaan sejak dini, kemudian nilai itu akan terinternalisasi setelah anak berkembang menjadi dewasa.  “Keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan itu diawali dengan kebiasaan teratur. Nilai-nilai tidak akan masuk ke dalam diri anak, nilai-nilai itu datang langsung dari orang tua,” katanya. (Bersambung)

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.