Mengembangkan Pedagogik di UNJ (Bagian 1)

Perubahan IKIP menjadi universitas telah mengaburkan ilmu pendidikan.

 

Hendrik Yap,

Rabu, 27 Maret 2019, Forum Pedagogik IKA UNJ kembali mengadakan diskusi publik bertajuk Historisitas IKIP ke Universitas Bagian II. Kali ini, IKA UNJ mengundang Rektor UNJ Periode 2004 – 2014 Prof.Dr. Bedjo Sujanto untuk menjadi pemantik diskusi. Diskusi dimulai sekitar pukul 13.40 WIB hingga selesai di Sekretariat IKA UNJ, Gedung Pascasarjana.

Abdullah Taruna sebagai moderator mengawali diskusi dengan mengajukan dua pertanyaan kepada Bedjo Sujanto, yaitu bagaimana menumbuhkembangkan pendidikan di UNJ, dan bagaimana tanggapan tentang rendahnya peringkat UNJ dengan kampus-kampus lain?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Bedjo menjelaskan latar belakang perubahan IKIP ke Universitas. Bedjo mengatakan perubahan IKIP menjadi UNJ lantaran saat itu IKIP Jakarta tidak pede dengan keilmuannya. Masyarakat menganggap mahasiswa IKIP Jakarta hanya memiliki ilmu yang sedikit.

Pada konteks itu juga, pemerintah memberikan peluang kepada mahasiswa kampus non-IKIP untuk bisa menjadi guru. Mengetahui hal itu, akhirnya ada keinginan untuk merubah IKIP menjadi Universitas agar mahasiswa IKIP bisa bersaing. “Dari situ, awal mula ide untuk mengubah IKIP menjadi Universitas,” kata Bedjo.

Namun, saat menjadi universitas, ilmu pendidikan mulai menurun. “Ciri keguruan mulai kabur,” kata Bedjo.

UNJ tidak ingin ciri keguruannya menghilang. Maka dari itu, UNJ merumuskan kurikulum yang lebih adaptif. Namun, porsi antara pedagogik dan materi tak seimbang. Bedjo mengaku porsi pedagogik lebih sedikit ketimbang materi. “Berbeda di masa IKIP, porsi pedagogik dan subtansi materi itu 50 banding 50,” kata Bedjo.

Meski ilmu pedagogik memiliki porsi sedikit, UNJ tidak ingin menghilangkan marwah pedagogiknya. UNJ mengantungkan harapan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan untuk mengembangkan pedagogik. Selain itu, Bedjo berharap Mata Kuliah Dasar Kependidikan (MKDK) mampu mengajarkan kepada mahasiswa cara dan strategi mengajar dan mendidik yang baik. Di sisi lain, MKDK juga mengajarkan mengenai psikologi pendidikan yang baik.

Lody Paat, pensiunan dosen program studi Pendidikan luar Biasa UNJ, menanggapi pernyataan Bedjo bahwa ketidakpedean IKIP yang akhirnya memutuskan berubah menjadi Universitas. Menurut Lody, bukan karena hal itu UNJ berubah menjadi universitas. Namun, karena ingin merestruktur IKIP. Argumen itu diperoleh Lody dari H.A.R Tilaar.

Setelah itu, di tahun 2000 setelah IKIP menjadi Universitas, Lody kembali bertemu dengan Tilaar, dan bertanya tanggapan Tilaar mengenai perubahan IKIP menjadi Universitas. Untuk menjawab hal itu, Tilaar memberikan dua tulisannya mengenai IKIP. Dari situ, Lody mengetahui tujuan perubahan IKIP menjadi universitas untuk membangun Ilmu Pendidikan. “Dan yang membangun Ilmu itu ialah Fakultas Ilmu Pendidikan,” kata Lody.

Bayangan Tilaar saat itu, Ilmu pendidikan dan non pendidikan dapat terintegrasi. Pemikiran itu diolah Tilaar, saat melihat pengembangan ilmu Pedagogik di Universitas Chicago, Amerika. “Tilaar ingat betul dia belajar Ilmu pendidikan dari orang Biologi, dia belajar pendidikan ekonomi dari ahli ekonomi,” kata Lody.

Akan tetapi, saat itu, Lody berkata ke Tilaar hal itu hanya cocok di Amerika dan di Indonesia pasti berbeda. Menurut Lody, di Indonesia memahami istilah atau term saja masih kacau. Ahli Indonesia masih menyatukan definisi pedagogik dengan teaching. Padahal hal itu berbeda.  “Pedagogik itu lebih rumit, karena harus dianalisis dari berbagai disiplin ilmu. Sedangkan, teaching seperti strategi belajar mengajar,” kata Lody.

Untuk memahami hal itu. Lody menjelaskan perbedaan pengembangan pedagogik di Amerika dan Eropa. Di Amerika, pengembangan pedagogik disebut Foundation of education. Itu merupakan interdisiplin ilmu. Amerika juga punya empat dasar pendidikan, yaitu filsafat pendidikan, sosiologi pendidikan, sejarah pendidikan dan psikologi pendidikan. Sedangkan di Eropa, pedagogik itu ialah ilmu yang berdiri sendiri.

Sayangnya, Indonesia tidak mengikuti dua-duanya. Oleh karena itu, Lody menyarankan untuk mengumpulkan ahli-ahli di bidang pendidikan. Tujuanya agar bersama sama membangun ilmu pendidikan.

Selain itu, Lody berharap forum IKA UNJ dapat membangun kesadaran mengenai pentingnya pedagogik. Jangan sampai, istilah pedagogik dan teaching itu disamakan.

Budiarti, dosen program studi Pariwisata sepakat perlu adanya penguatan pedagogik. Sebab, banyak lulusan mahasiswanya setelah menjadi guru honorer atau PNS, tidak memiliki semangat mengajar dan mendidik. Padahal, saat mereka masih praktek kerja mengajar (PKM), mahasiswa itu baik dan benar dalam mendidik dan mengajar.

Budiarti tak mau hal itu terulang. Oleh karena itu, selain mengajar subtansi materi, Budiarti juga mengajarkan pentingnya menanamkan moral guru serta sifat kepemimpinan kepada mahasiswa. “Oleh karena itu, mahasiswa perlu ditanamkan leadership yang baik,” kata Budi.

Saat ini, Budi mengajar mata kuliah Teori Belajar Pembelajaran. Harapan ia mengajar agar mahasiswa yang diajarkan tak menggunakan ceramah dalam mengajar. Biasanya ia mengajar mahasiswa Pendidikan Sejarah. Oleh karena itu, ia selalu menekankan sejarah sebagai proses berpikir, bukan menghafal. Tentu saja, tujuan Budi mengajarkan itu agar mahasiswa bisa mencerdaskan anak muridnya.

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.