Pertanyaan Manusia Tentang Semesta

Pertanyaan semesta, apakah manusia bisa mencari jawaban tentang kebenaran alam semesta? Jawabannya bisa. Dengan menggunakan buah pemikiran manusia, yaitu Sains, manusia dapat menjawab semua pertanyaan mengenai alam semesta. Namun, perlu ditegaskan kebenaran dari sains tidak mutlak. Sebab, kerangka berpikir sains, selalu terbuka untuk gagasan, fakta, dan hipotesa baru.

Pandangan itu diungkapkan Panji Laksamana, mahasiswa prodi Pendidikan Fisika 2018, dalam diskusi buku “Kosmos” karya Carl Sagan di Arena Prestasi Fis, Selasa (21/5). Diskusi ini diadakan Komunitas Literasi UNJ bernama Warung Intelektual atau Warteg pada pukul 16.30 WIB hingga selesai.

 

Sebelum ditemukan sains, lanjut Panji, manusia menolak kenyataan alam untuk menjawab pertanyaan semesta. Menurut Panji, hal itu karena manusia mengekang pikiran, membunuh nalar, dan dipaksa menerima kenyataan dari segelintir orang. Meski begitu, tetap ada keinginan dan hasrat manusia untuk menemukan jawaban itu.

Kemudian, saat pemikiran Sains berkembang, manusia mulai menerapkan ilmu ini untuk menjawab pertanyaan semesta. Bagi Panji, Sains adalah kreasi besar manusia, setelah bahasa, tulisan, dan matematika. Oleh karena itu, Sains mampu menjawab beberapa pertanyaan manusia.

Perjalanan Carl Sagan menjelajah Semesta
Saat ditemukan teleskop, manusia dimungkinkan melihat benda-benda langit. Kemudian, manusia bisa melihat permukaan Planet Mars. Mereka dengan samar, melihat kanal-kanal yang dianggap mencermikan peradaban makhluk hidup.

Kemudian, wahana Viking memfoto permukaan Mars. Nyatanya, tidak ada kanal modern di Mars. Namun, hal itu mendorong hasrat ilmuwan mencari tahu tiap hal tentang semesta.

Hal ini yang membuat Carl Sagan ikut dalam proyek Voyager dan Voyager 2. Proyek ini bertujuan mengamati benda-benda di luar angkasa, tidak hanya mengamati Mars saja.

“Wahana Voyager berhasil mengamati planet raksasa di tatasurya kita dari jarak dekat. Dalam orbi jupiter, Voyager berhasil memberikan gambaran mengenai permukaan jupiter dan bulan galilean miliknya,” kata Panji.

Menanggapi Panji, Rizky Suryana, mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah, sepakat dengan Panji. Rizki mengatakan tanpa ada Sains, manusia tidak akan mampu berkembang ke arah yang lebih baik. Dengan Sains, manusia dapat berfikir rasional dengan menekan emosi yang dimiliknya dalam mengambil keputusan. “Sains membuat manusia menggunakan nalarnya,” kata Rizky.

Penulis: Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.