Perjalanan Gadis Kecil Mengejar Cita-Cita

Bengkel Sastra menggelar Konser bertema “Konser Kesunyian: Satu Hari Bersama Puisi” di Gedung Ki Hadjar Dewantara Lantai 9 (3/5). Konser ini berlangsung dari pukul 13.00 WIB hingga selesai.

Rundown kegiatan Konser ini, diawali dengan diskusi buku “Puisi-Puisi yang Melepuh di Mataku” karya Helvy Tiana Rosa, lalu pemutaran film pendek “Gadis Kecil”, dan musikalisasi puisi dari Bengkel Sastra dan Jumpakustik.

Di sesi diskusi buku, Helvy Tiana Rosa, penulis buku ini sekaligus Dosen Fakultas Bahasa dan Seni, mengatakan, buku ini terdiri dari kumpulan puisi yang ditulisnya. Tema besar yang diangkat mengenai kemanusiaan dan cinta. “Puisi tentang Palestina hingga puisi mengenai keadaan Indonesia. Hasil refleksiku menatap Indonesia,” kata Helvy.

Selain itu, dalam buku ini terselip karya Helvy yang ditulis saat duduk di sekolah dasar. Waktu itu, ia anak orang miskin yang gemar menulis sastra. Meski kondisinya seperti itu, Helvy kecil memiliki cita-cita tinggi menjadi penulis. “Mimpi seorang anak miskin saat itu,” kata Helvy.

Kehidupan kecil Helvy terangkum dalam pemutaran film pendek berjudul “Gadis Kecil”. Film ini menceritakan perjalanan hidup Helvy saat duduk di sekolah dasar. Dia sering mengirim puisinya ke majalah anak, tetapi selalu ditolak. Alasannya, pihak majalah hanya menerima naskah yang di tik. Sedangkan, Helvy mengirimkan naskah dengan tulisan tangan.

Helvy kecil tak patah semangat meski selalu ditolak. Malah ia berpikir untuk mendapatkan mesin tik. Akhirnya, ia rela menjadi pengamen untuk membeli mesin tik.

Menanggapi buku karya Helvy, Adhin Abdul Hakim, artis Geogle, mengapresiasi buku ini. Menurutnya puisi-puisi Helvy membuka pandangan kita mengenai kemanusiaan.

“Salah satu puisinya yang menceritakan saudara kita di Palestina sangat menggugah hati. Kita di sini, mungkin berpikir makan apa nanti. Tapi, saudara-saudara kita di negara yang sedang berperang, harus berpikir bagaimana makan untuk besok. Bahkan, ada seorang anak di Palesltina yang harus menghemat sebuah roti untuk makan pagi dan malam, ” kata Adhin.

Setelah diskusi buku dan pemutaran film pendek, ditampilkan musikalisai puisi oleh Bengkel Sastra dan Jumpaakustik.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.