Diskusi Penindasan dan Diskriminasi atas Kaum Hawa

Perempuan memegang peran penting dalam gerak sejarah. Ide-ide Kartini tentang kebangsaan sungguh menginpirasi.

 

Hendrik Yap

Setelah menggelar Pameran Pakaian untuk memperingati International Women’s Day. Rabu, 20 Maret 2019, Bem Prodi Pendidikan Sejarah dan Study and Peace (SPACE) UNJ mengadakan diskusi publik bertema Penindasan dan Diskriminasi Terhadap Perempuan Indonesia di RSG, Fakultas Ilmu Sosial. Penyelenggara mengundang Nina Nurmila (Komisioner Komnas Perempuan), Nadya Karima (SGRC Indonesia), dan Syaldi Sahude (Founder Laki-laki Baru). Diskusi dimulai pukul 15.30 WIB hingga selesai.

Diskusi dimulai dengan menjelaskan peran penting perempuan dalam sejarah Indonesia oleh Nadya Karima. Menurut Nadya, Kartini menjadi salah satu tokoh perempuan yang memiliki peran dalam sejarah gerakan perempuan di Indonesia. Kartini mencetuskan ide-ide kebangsaan. Ide itu ditemui dari berbagai tulisannya.

Bagi Nadya, tulisan Kartini mengutamakan ide-ide kebebasan. Dalam konteks itu, kebebasan yang dimaksud ialah lepas dari belenggu feodalisme dan kolonialisme. “Tujuannya kebebasan,” kata Nadya.

Setelah Kemerdekaan, lahir pula partai perempuan Indonesia, yaitu Partai Wanita Rakyat. Sebagian pendiri partai ini merupakan murid dari Taman Siswa. Partai Wanita Rakyat menolak berlangsungnya feodalisme di Indonesia. Bahkan, dalam memanggil pun, para perempuan menolak dipanggil Raden Ayu. Sebab, sapaan itu mencerminkan perbedaan status sosial dengan masyarakat.

Kini, perempuan mengalami ketidakadilan. Menurut Nina Nurmala, ada tujuh bentuk ketidakadilan yang dialami perempuan. Diantaranya, diskriminasi, marginilisasi, kekerasan, dan penindasan.

Menurut Nina, perilaku diskriminasi bisa ditemui di kehidupan sehari-hari. Misalkan, sebuah perusahaan membuka lowongan pekerjaan. Tiap orang bisa mendaftar bila memenuhi syarat perusahaan. Saat itu, pelamar yang ada terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan. Hasil ujian menyatakan pelamar perempuan berhak untuk menjadi pegawai perusahaan, karena mendapat nilai lebih tinggi daripada pelamar laki-laki. Namun, karena alasan tertentu, pihak perusahaan lebih memilih laki-laki. “Padahal, perempuan lebih membutuhkan pekerjaan itu,” kata Nina.

Selain itu, perempuan juga kerap kali mengalami penindasan. Menurut Nina, banyak buruh perempuan yang mengalami kondisi tidak nyaman di tempat kerja. Seperti, kondisi kamar mandi yang kotor, sering digoda oleh buruh laki-laki, dan bahkan dipegang bagian tubuhnya. “Itu namanya penindasan,” kata Nina.

Dengan adanya fakta ini, Nina berharap penerima ketidakadilan dapat melaporkan masalahnya ke komnas perempuan.

Setelah itu, Syaldi mulai berbicara. Ia mengatakan sebagian besar pelaku kekerasan seksual ialah laki-laki. Sebab, dalam masyarakat, laki-laki memiliki kesempatan lebih besar melakukan kekerasan.

Namun, Syaldi tidak ingin laki-laki melakukan kekerasan seksual. Ia ingin laki-laki juga membantu siapapun yang menerima kekerasan seksual. Jadi, Syaldi mengajak laki-laki tidak tinggal diam melihat ketidakadilan. “Jangan diam saja,” kata Syaldi.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.