Penyampaian Visi dan Misi Balon Rektor UNJ (Bagian II)

“Mas Sadik dari UNHAS, bisa jadi rektor di UNHAS. Bu Paulina dari UT, bisa jadi rektor di UT. Kalau rektor UNJ dari UNJ aja lah, “ kata Dr. Komarudin, M. Si. yang disambut tepuk tangan meriah dari penonton. 

Pernyataan itu memeriahkan suasana penyampaian visi, misi, dan program delapan bakal calon rektor yang sebelumnya cukup hening. Padahal, Komarudin mendapatkan urutan terakhir dalam penyampaian visi dan misi menjadi Rektor UNJ.

Setelah itu, Komarudin mulai menyampaikan visi, misi, dan programnya. Ia ingin menjadikan UNJ bereputasi Asia dengan cara memperbaiki dulu masalah yang ada di UNJ, seperti masalah tata kelola. “Jujur saja masalah tata kelola yang membuat UNJ turun akreditasnya dari A menjadi B,” kata Komarudin.

Bagi Komarudin, semua aspek penting untuk diperbaiki dan ditingkatkan. Sebab, UNJ memiliki banyak potensi untu menjadi universitas terbaik di Asia. Namun, ia mengingatkan potensi UNJ tidak bisa dilakukan seorang diri, perlu adanya kerjasama antarlembaga untuk mencapai tujuan itu. “Semua orang bekerja, fokus, terstruktur. Insyaalllah bisa dilakukan,” kata Komarudin Optimis

Untuk menjadikan UNJ bereputasi Asia, Komarudin menyampaikan programnya bernama E-FINE (electronic Five in One). Tujuan utama E-Fine ialah meningkatkan reputasi Akademik UNJ, dengan cara memperbaiki infrastruktur, mengefisienkan tatakelola, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan.

Berdasarkan lima hal ini, hal pertama yang dilakukan ialah meningkatkan kualitas pendidikan dan perkuliahan. Hal ini juga berpengaruh untuk meningkatkan akreditasi jurusan yang belum A. Komarudin yakin semua program studi di UNJ dapat memiliki akreditasi A dengan menerapkan pembelajaran e learning. “Di UNJ, baru empat kelas yang menerapkan e-learrning itu pun di PPG. Ke depan harus diujikan ke semua prodi. Kita targetkan di 2020,” kata Komarudin.

Selain itu, UNJ harus meningkatkan penelitian yang inovatif. Tahun ini, UNJ baru memiliki 15 penelitian inovatif. Komarudin yakin, ke depan UNJ bisa menghasilkan banyak penelitian yang inovatif.

Ivan Hanafi

Selain Komarudin, Prof. Dr. Ir. Ivan Hanafi, M. Pd. juga menyampaikan alasan menjadi rektor. Ia ingin UNJ bereputasi Asia, dengan cara memperkuat sistem yang berpacu kepada undang-undan perguruan tinggi.

“Saatnya UNJ dikelola secara sistematik, adaptif, dan inovatif dengan memperhatikan sumber daya manusia yang hal itu diawasi penjamin mutu. Hal ini tidak bisa dihindari karena kita masuk sistem,” kata Ivan.

Baginya, kualitas pendidikan di UNJ perlu ada standarnya. Tugas memberikan standar dilakukan oleh Sistem Penjamin Internal (SPI). “SPI menjadi landasan untuk rencana ke depan,” kata Ivan.

Ivan juga mengatakan UNJ harus memiliki perspektif dan strategi yang sama. Hal ini bertujuan supaya bisa menghasilkan lulusan yang bermutu.

Awaluddin

Tak jauh berbeda dengan bakal calon lainnya, Dr. Awaluddin Tjalla, M. Pd. ingin membuat UNJ bereputasi Asia. Ada dua hal agar bisa mencapai itu. Pertama, UNJ harus memiliki karakter. Karakter ini bisa ditanamkan dari identitas dan sejarah UNJ sabagai lembaga pendidikan. Selain itu, perlu ditanamkan karakter kebangsaan dan anti radikalisme.

Kedua yaitu kemanpuan berdaya saing di Asia. UNJ ke depan perlu memiliki perspektif Asia. Hal ini dibutuhkan unntuk meningkatkan kompetisi mahasiswa dan dosen UNJ. Atas dasar kedua hal itu Awaludin mencetuskan program Adaptif, Juara, Integritas, dan Bereputasi (AJIB).

Adaptif perlu dilakukan untuk peningkatan kompetisi mahsiswa melalui pembelajaran kreatif dan inovatif dengan melibatkan stakeholder. Sedangkan, Juara diartikan sebagai peningkatan produktivitas impact research. Lalu, peningkatan kerangka kerja yang berintegritas serta perlindungan hak cipta. Terakhir, membangun brand image UNJ melalui Education 4.0.

Endry

Tujuan Prof. Dr. Endry Boeriswati, M. Pd. Pun tak jauh berbeda, yaitu menjadikan UNJ bereputasi Asia. Namun, ia menekankan perlu ada keyakinan bersama bahwa UNJ bisa mencapai hal itu.

Akan tetapi, keyakinan tidak cukup. Bagi Endry untuk bisa bereputasi Asia, UNJ perlu membenahi masalah UNJ saat ini, seperti memperbaiki sistem data di UNJ.

Bagi Endry, sistem data di UNJ berantakan. Ia menginginkan UNJ memiliki pusat data yang bisa diakses satu pintu. “Belum ada kantor data, pusat data, data di Fakultas belum sinkron. Ini yang harus kita benahi,” kata Endrik.

Pernyataan itu disampaikan saat Dialog Interaktif Delapan Bakal Calon Rektor UNJ di Aula Latifhendradiningrat, Gedung Dewi Sartika (15/8).

 

Penulis: Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.