Drama Sumira Berjuang Mencari Air

 

 

 

Sumira terkejut, pegunungan, rumah-rumah, dan tanah yang subur sudah lenyap. Ia memandang hamparan lingkungannya  penuh kecewa. Di ujung renungannya ia bangkit, dan segera mencari air. Dari air lah kehidupan dimulai. Kita butuh air.

 

Hendrik Yap,

Pegasan itu merupakan bunyi narasi prolog pementasan drama berjudul Lir Ilir oleh mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Kamis 7 Februari 2019, di Gd. S, UNJ. Pementasan berlangsung pada pukul 19:00 WIB hingga kelar. Sebuah tontonan yang murah untuk pentas drama yang berkualitas. Para pengunjung cukup membeli tiket seharga Rp 10 ribu.

Pentas teater lakon Lir Ilir ini diselenggarakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Apresiasi Drama prodi Pendidikan Bahasa Indonesia. Adit selaku sutradara mengatakan dibutuhkan waktu 3 bulan untuk mempersiapkan teater ini. Awalnya, tim teater membentuk berbagai divisi, seperti divisi acara dan divisi produksi. Kemudian, beberapa orang ditunjuk untuk membuat naskah drama. Naskah terbaik akan dipentaskan.

Akhirnya, dipilih naskah karya Warenggasatiyo, dengan Judul Lir Ilir. Menurut Adit, teater ini mengambarkan perjuangan seorang perempuan bernama Sumira untuk memulihkan desanya dari akhir peradaban. Desa dapat dipulihkan dengan cara mencari air. Bagi Adit, air menandakan tanda kehidupan.  “Air dibutuhkan untuk menghidupkan masyarakat desa,” kata Adit.

Ia menambahkan, konflik batin Sumira juga digambarkan dalam pementadan. Melalui pertemuan Sumira dengan berbagai orang ketika mencari air. Pernah suatu ketika, Sumira bertemu dengan seorang pria. Pria itu memberikan air kotor kepada Sumira. Lantas, Sumira bingung. Dalam pikiranya, ia bertanya tujuan dan maksud pria itu.

Adit sebagai Sutradara mengambarkan tokoh Sumira sebagai orang pendiam. Sumira juga digambarkan memiliki sikap tegas. Hal itu didapatkan dari pengalamannya bertemu orang lain. Tiap berkomunikasi dengan orang lain, Sumira tidak langsung menerima argumen mereka. Sumira, mencoba untuk mencerna serta menelaah perkataannya. Kemudian, Sumira dapat mengambil keputusan. “Sumira juga punya sisi tegas,” kata Adit.

Bagi Adit, menggelar pementasan drama merupakan hal baru baginya. Sebab, beberapa anggota tidak terlalu menyukai pementasan. Mereka mengerjakan itu karena tugas dari dosen.

Meskipun begitu, Adit tetap mengajak teman-temanya bersama menyelesaikan tugas ini. Bila ada anggota yang tidak hadir latihan, ia akan mengajaknya mengobrol. Tujuanya memberikan semangat kepada anggota itu.

Andika, salah satu penonton pementasan, menyukai pementasan ini. Apalagi dengan syair-syair lagu yang ditampilkan dalam pementasan. “Saya suka teater ini, karena syairnya menarik,” kata mahasiswa prodi Ilmu Agama Islam ini.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.