Intan Ahmad: Mahasiswa Harus Melihat Masa Depan

Di tengah tantangan masa depan yang kompleks, para mahasiswa perlu menghapus kesan dosen tahu segalanya. Berinteraksi dengan dunia luar yang positif untuk kehidupan pasca mahasiswa.  

 

Hendrik Yap,

Sore itu, hujan cukup lebat. Di ruang rektorat, jam 16.00 WIB, saya berkesempatan mewawancarai Plt Rektor UNJ,Intan Ahmad. Ptl Rektor UNJ bersedia ditanya tentang Peraturan Rektor No. 7 Tahun 2018, mengenai Peraturan Akademik Mahasiswa UNJ. Terutama soal kian ketatnya syarat pengambilan jumlah SKS perkuliahan.

Berdasarkan peraturan itu mahasiswa dapat mengambil 24 sks bila memperoleh IPS lebih dari 3,50. Lalu mahasiswa yang memperoleh IPS dari 2,75 hingga 350 hanya dapat mengambil 22 sks. Kemudian, 20 sks harus mendapat IPS dari 2,00 hingga 2,75. Sedangkan, IPS di bawah 2,00 hanya diperbolehkan mengambil 12 SKS.

Saat saya masuk, Intan sedang menyeduh kopi hitam. Saya pun ditawari untuk membuat kopi, “silahkan buat kopi dahulu,” kata Intan. Setelah selesai membuat kopi, kami pun duduk di meja rapat berbentuk oval.

Kemudian saya mengajukan pertanyaan. Menurut Intan, peraturan itu diterapkan agar mahasiswa siap menghadapi dunia kerja. “Mahasiswa perlu memiliki kesadaran akan masa depan,” kata Intan.

Baginya, ruang kelas hanya cukup mengembangkan kemampuan Kognitif Mahasiswa. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan lain. Sebab, industri tidak hanya membutuhkan kognitif saja. Ada kemampuan lain yang harus dimiliki mahasiswa, seperti contextual thinking, problem solving, writing, dan creativity.

Oleh karena itu, peraturan itu memberikan pilihan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan lain di luar kelas. Seperti mengikuti organisasi dan membuat acara.

Ada tiga poin yang saya ajukan kepada Intan Ahmad.Berikut jawaban dari hasil wawancara.

Di media sosial, banyak mahasiswa yang bertanya mengenai Peraturan Rektor No. 7 Tahun 2018 mengenai Peraturan Akademik Mahasiswa UNJ, terutama pasal memgenai syarat mengambil sks. Apa pertimbangan menerapkan peraturan itu?

Sebelum menjawab hal itu, saya ingin bercerita. Saya sudah lama menjadi dosen, jadi memang untuk sukses itu ada minimum standar, yaitu indeks prestasi (IP). Dan orang harus bagus, meskipun bagus itu relatif.

Nah, kita bisa tanya semua perusahaan di dunia ini, apa pertimbangan mereka menerima mahasiswa. IP dapat menjadi salah satu standar. Namun, mahasiswa harus melihat masa depan.

Sekarang, ada mahasiswa yang ingin lulus cepat-cepat. Kemudian ketika ia lulus, ia akan ditanya perusahan. “Selama ini, anda masa studi ngapain aja?” Oh saya belajar pak, tidak ada yang lain.

Kalau anda jawab seperti itu. Artinya anda hanya jadi orang yang pandai kognitif saja. Tapi, tidak ada waktu untuk belajar hal lain. Kalau anda melihat ke depannya. Maka, mahasiswa akan berpikir lagi.

Dan, sebagian mahasiswa menerima dari dosen nilai IP yang tinggi. Tetapi, realitasnya, ketika lulus, apalagi lulus dalam waktu yang pendek, kalau tidak dibarengi dengan kemampuan lain selain kemampuan kognitif, mahasiswa tidak akan kompetitif. Jadi ini untuk masa depan mahasiswa.

Ketika masih Dekan di ITB, saya mendengar dari mahasiswa tidak niat malakukan praktikum selama 3 bulan. Karena masuk tidak masuk, mereka mendapat B. Waktu itu saya bilang, bila tujuan anda mendapat nilai, silahkan. Tetapi untuk ilmu dapet apa?

Karena itu, saya bilang sama mereka, cari tempat praktik yang susah. Saya minta kepada mereka cari tempat kerja yang harus datang sebelum jam 8. Dan juga harus ada presentasi, tiap mengerjakan sesuatu harus ada laporann. Cari yang begitu dong. Urusan nilai urusan nanti, yang penting you dapet sesuatu. Supaya masa depan lebih baik. Tujuanya melatih kepercayaan diri.

Mahasiswa mengambil sks maksimum juga tidak masalah. Yang masalah adalah, anggapan modal saya untuk hebat ialah IPK tinggi. Tapi ketika wawancara ke perusahaan tidak ada kemampuan lain. Oleh karena itu, mahasiswa perlu berdinamika dalam kampus.

Contoh anda menjual barang. Kalian jual barang belum tentu barangnya bagus. Yang penting cara anda meyakinkan pembeli. Ada ilmu komunikasi di situ. Nah, dunia tuh seperti itu. Jadi, ilmu komunikasi yang perlu dipelajari.

Untuk melatih itu, makanya dibutuhkan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Misalkan di UNJ, di Fakultas Bahasa dan Seni, mengadakan kegiatan seni segala macem, ini bukan hal yang mudah. Duit tidak ada. Tapi mereka bisa mendatangkan orang, membuat perencanaan yang matang, itu satu latihan yang luar biasa. Termasuk yang ikut olahraga. Urusan menang kalah itu biasa. Tapi belajar olah latihan dan menyempatkan waktu, ialah hal yang tak dapat di lakukan di ruang kelas.

Nah, jadi kembali kepada itu. Pernah waktu itu, ada yang bilang kenapa di Indonesia ada skripsi dan Amerika tidak ada skripsi. Pertanyaan saya adalah, paham ga konsep skripsi itu? Di Amerika, meskipun tak ada skripsi, tiap semster mahasiswa diwajibkan menulis paper. Jadi pinter nulis. Nah di Indonesia kalau skripsi ga ada, tugas ga ada. Gimana mau berpikir kritis?

Orang bisa berpikir kritis dengan  menulis paper. Browsing segala macem, berpikir mau nulis apa, ini berpikir kritis. Itu tidak bisa diajari kalau anda tidak melakukanya.

Kembali ke masalah sks, itu simple sebenernya. Tapi yang menjadi salah kalau institusi…. Kan ada satu kampus yang mahasiswanya komplain tidak ada waktu untuk main. Tapi di kampus lain, banyak waktu untuk main. Sksnya sama 144. Misalnya, mahasiswa ITB, mereka banyak yang komplain. Aduh tidak ada waktu untuk main, tapi di kampus lain ada. Pas rapim saya bicara, berikan waktu yang cukup untuk mahasiswa. Semua masa depan mereka lebih terjamin. Itu filosofinya.

Berdasarkan data dari 8000 universitas di 20 negara. Jadi kalau ditanya kampus. Ditanya rektornya apakah anda mempersiapkan mahasiswa anda untuk kerja, 72% Rektor mengatakan kami mempersiapkan mahasiswa dengan sebaik-baiknya. Tapi lihat ketika di industri, hanya 42% yang pantas untuk kerja. Sisanya harus dilatih lagi. Nah kampus yang bagus harus berpikir ke situ. Kalau tidak, kita menghasilkan lulusan yang tidak dibutuhkan dunia kerja. Ini masalah dunia. Karena apa yang diperoleh di kampus berbeda dengan dunia kerja. Kemampuan komunikasi dilatih tidak? Kan engga kan?

Di ITB saja, kalau IP di bawah 3,00 tidak bisa ngambil 24 sks. Jadi sebenernya ini pilihan. Saya bilang ke mahasiswa saya, bener you mau ngambil segitu? Itu tidak masalah. Tapi dia tidak punya kegiatan lain. Saya suruh ikut kegiatan. Ini bukan buat saya. Buat future. Buat masa depan mahasiswa.

Ini yang perlu dibicarakan kepada mahasiswa. Pengangguran saja ada 700 ribu orang untuk sarjana. Apalagi ada fenomena, di salah satu kampus, mahasiswanya punya IP tinggi tapi susah banget cari kerja. Tapi kampus lain, yang mahasiswanya IP nya biasa biasa saja, jarang tuh ada yang nganggur. Jadi untuk sukses itu, IP menjadi salah satu indikator dan mahasiswa harus memiliki kompetensi lain. Karena kalau kerja bukan kognitif lagi. Jadi jangan sampai meninggalkan kegiatan kegiatan ekstrakurikuler, jadi yang suka seni, yang suka olahraga. Dan keberhasilan orang itu bukan sekarang, tapi nanti.

Banyak mahasiswa yang ingin cepat lulus, tanpa mencari kemampuan lain. Menurut bapak, mengapa seperti itu?

Kita hidup di zaman yang kompleks. Sama juga masa depan. Mahasiswa harus berpikir soal masa depan. Pendidikan yang bagus itu ada interaksi yang bagus. Jangan berpikir dosen tahu semua. Cuma perlu diingatkan. Apalagi ada tantangan. Tantangan abad 21, itu yang harus bicarakan. Untuk mencapai hal itu apa yang harus kita kerjakan.

Mahasiswa perlu ada proses, bertanya kepada ahli, bikin seminar, tidak bisa hanya di ruang kelas saja. Sebagian dari mahasiswa perlu diingatkan masa depannya memasuki era digital. Kita ini berpikir masa depan urusan nanti.

Terus banyak mahasiswa yang masuk kuliah bukan karena keinginannya tapi orang tuanya. Padahal yang mau sekolah anaknya, bukan orang tuanya. Jadi mahasiswa harus tanggung jawab terhadap masa depan. Jadi lebih survive.

Seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya tanya mahasiswa kenapa ikut KKN. Dia bilang karena wajib. Saya bilang anda mengambil KKN untuk diberi kesempatan mencoba meyakinkan orang. Apalagi meyakinkan orang tidak mudah yang berbeda latar pendidikannya. Kalau sesama mahasiswa mungkin mudah. Selain itu, ada hal lain yang penting dalam KKN, yaitu kemanusiaan.

Jadi filosofi pendidikan itu jangan terpaku dengan kognitif. Tapi harus melihat kompleksitas kehidupan. Jadi harus berpikir kritis.

 

Jadi, bukan untuk manaikan akreditasi?

Sekarang akreditasi ya akreditasi. Saya selalu bilang akreditasi itu hanya salah satu aspek.

Di Kanada mahasiswa yang lulus harus menunda kelulusannya karena bekerja di industri. Banyak mahasiswa yang kuliahnya cepet, tapi lama di industri. Agar setelah lulus, ia bekerja kembali ke industri itu. Jadi lama di industri.

Di kita itu yang kurang kesadaran soal masa depan. Di kampus tertentu, ada mahasiswa yang tak mau mengambil mata kuliah tertentu. Karena satu kelas dapet nilai A semua.

Menurut saya, dosen yang baik ialah dosen yang baik memberikan penilaian. Mana mahasiswa yang pantas untuk mendapat nilai A, dapet B, dan mahasiswa yang ga lulus. Itu fair, karena akan ada mahasiswa yang kerja keras dan kurang kerja keras.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.