Prof.Dr. Sutjipto: Idealnya Guru Sudah Terjun Mengikuti Pembelajaran Murid Sejak Semester I

“Jadi kalau kita mendidik guru SD, maka sejak semester awal harus sudah berkecimpung di SD. Jadi kayak kita mendidik seorang dokter mesti sejak semester I sudah bau rumah sakit”.  

 

Abdullah Taruna

Pernyataan tersebut disampaikan Prof.Dr. Sutjipto, Rektor IKIP Jakarta/UNJ Dua Periode 1997-2005. Beliau menjawab pertanyaan bagaimana metode pendidikan guru yang ideal agar para pendidik terampil memanajemen proses pembelajaran.

Saya mengajukan pertanyaan itu karena banyak kejadian guru mengalami kegagapan dan kesulitan saat menjalankan proses belajar mengajar (PBM) di kelas. Buku pintar micro teaching pun gagal menjawabnya. Bahkan dalam peristiwa terakhir seorang guru di Gresik dipukuli muridnya. Kasus tersebut menambah banyaknya kasus serupa kekerasan di dalam kelas, baik oleh guru, maupun oleh siswa.

“Jadi di situ bukan hanya pengetahuan, tapi juga kecintaan, jiwanya, orientasinya itu sudah dibangun sejak semester pertama. Kalau sekarang kan setelah mendapat sekian SKS, baru praktek, mungkin pengetahuannya oke, tapi jiwanya itu loh? Kata Prof.Dr. Sutjipto menjelaskan manfaat pendekatan kepada para murid sedari awal.

Jadi bila menginginkan guru-guru terampil dan sabar dalam mengelola pembelajaran, kata Prof.Dr Sutjipto, mereka sudah semestinya sedari awal terjun di sekolah.  “Iya dari semester awal, paling tidak observasi dulu, lihat sekian jam dihargai untuk pengalaman di sekolah,” kata Prof.Dr. Sutjipto.

Konsep ini turut meneguhkan, bahwa menjadi seorang guru terampil mengelola proses belajar mengajar yang tanpa mematikan proses kreatif siswa itu tidak sekonyong-konyong bisa diperoleh hanya dengan PPL 1 semester. Praktik model lama itu betul-betul garing tidak menyentuh jiwa para pembelajar.

Bila kita cermati, tentu pola pendidikan guru yang menurut Prof.Dr. Sutjipto merujuk konsep Professional Teacher itu, tentu kita bisa bersetuju sebagai pendekatan yang ideal. Kita pun kemudian bertanya, kenapa dari sejak masih IKIP hingga sekarang pola itu belum juga diterapkan? Hal inilah yang perlu kita mendengar langsung dari Prof.Dr. Sutjipto sebab musababnya. “Dulu saat mendesign universitas itu, kita merencanakan itu” katanya.

“Jadi dulu itu di universitas (UNJ: RED.) ada kelompok program studi seperti universitas lain. Kemudian ini ada fakultas ilmu pendidikan yang menggarap bagaimana mengembangkan ilmu, kemudian pertemuan antara program studi ini dengan fakultas ilmu pendidikan. Itu kan lain, namanya yang saya usulkan : professional teacher education. Itu satu bagian khusus. Jadi ada tiga bagian yang di UNJ yang seharusnya sangat dominan. Jadi ini oke, tapi begitu dia masuk akan menjadi guru, maka dari awal sudah di-design untuk masuk di dalam program professional teacher education. Tapi itu kan tidak terjadi,” ungkap Prof.Dr. Sutjipto.

Sampai di sini tentu para pembaca masih bertanya-tanya apa sebab musabab hal itu tidak bisa direalisasikan? Jawabannya, mari kita simak pemaparan Prof.Dr. Sutjipto dalam Diskusi Pendidikan dengan tema “Historisitas IKIP ke Universitas: Perspektif Pedagogis”. Hari Rabu, Tanggal 27 Februari 2019, Pukul 14:00 WIB s.d. selesai.  Narahubung: Bung Satrio, Hp: 0898 8188 262.

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.