Mendidik Tidak Cukup Dengan Naluri dan Insting

 

Pendidikan bagi Ki Hadjar Dewantara ialah proses menuntut manusia mengembangkan kodratnya. Oleh karena itu, fungsi pendidikan ialah mempertajam, memperbaiki, serta meninggikan derajat anak.

 

Hendrik Yaputra,

Hal ini disampaikan Jimmy Philip Paat_Dosen Pendidikan Bahasa Perancis UNJ dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) IKA UNJ bertema “Pemikiran Pendidikan Bapak Bangsa”. Sesuai dengan tema besarnya, FDP IKA UNJ sengaja menyelenggarakan Reboan Pendidikan khusus untuk Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan R.I., yang ke-74. Kegiatan diskusi dimulai pukul 14.40 WIB hingga selesai, di Ruang 104 Gedung Pascasarjana UNJ, Rabu, 21 Agustus 2019.  Koordinator FDP IKA UNJ Abdullah Taruna menjadi moderator diskusi yang menghadirkan dua narasumber: Jimmy Philip Paat (Dosen Bahasa Perancis UNJ yang menyajikan sub tema “Ki Hadjar Dewantara Bersama Pemikiran Pendidikan Kontemporer”, dan Yana Priyatna (Dosen Universitas Bung Karno) yang membawakan sub tema “Pemikiran Pendidikan Ir. Sukarno”. Beberapa alumni UNJ,  sejumlah mahasiswa  Program Strata 1 dan sejumlah mahasiswa Pascasarjana UNJ turut hadir dalam diskusi ini.

Beberapa hal yang dianggap kodrat manusia, lanjut Jimmy, ialah naluri dan insting. Tanpa menempuh lembaga pendidikan, tiap manusia memiliki naluri dan insting. “Seorang ibu, dia karena nalurinya dia bisa mengajar anaknya. Naluri itu bawaan. Dalam mendidik, orang tua mendidik anak dengan naluri pendidikan,” kata Jimmy.

Jadi, naluri dan insting merupakan bawaan manusia sejak lahir. Namun, Ki Hadjar mengatakan mengajari anak dengan naluri dan insting saja tidak cukup. Perlu ada ilmu pendidikan – pedagogik – yang saintific supaya mempertajam naluri dan insting manusia.

Ki Hadjar Dewantara menganggap pendidikan perlu dibantu disiplin ilmu lain. Saat itu, ia merumuskan ilmu pendidikan perlu dibantu oleh ilmu hidup batin (psikologi), ilmu hidup jasmani (fisiologi), ilmu keadaan (etika), ilmu keindahan (estetika), dan ilmu tambu (sejarah).

Melihat hal itu, Jimmy mengatakan hingga hari ini, ada dua konstruksi pedagogik yang berkembang di dunia. Pertama, kontruksi pedagogik aliran Kontinental yang diikuti Jerman, Belanda, dan negara-negara Nordik. Paham ini menegaskan bahwa ilmu pendidikan merupakan disiplin ilmu yang berdiri sendiri.

Kedua, aliran Anglo Saxon yang diikuti negara-negara Inggris. Ilmu pendidikan aliran ini merupakan bagian dari interdisiplin, seperti Psikologi Pendidikan, Sosiologi Pendidikan, Sejarah Pendidikan, dan Filsafat Pendidikan.

Jimmy Paat sendiri melihat, pengembangan ilmu pendidikan KI Hadjar Dewantara hampir sama dengan aliran Anglo Saxon. Namun, Jimmy sendiri belum mengetahui sebab ilmu pendidikan rumusan Ki Hadjar Dewantara lebih dekat dengan Anglo Saxon. “Belum ada bukti tertulis, saya juga bingung padahal Ki Hadjar pernah belajar di Belanda yang alirannya Kontinental,” kata Jimmy.

Namun, di tulisan H.A.R Tilaar mengenai perkembangan ilmu pedagogik di Indonesia, Jimmy mengatakan di era kolonial salah satu tokoh pedagogik ialah Montessori. Pendekatan teori pendidikan Montessori membutuhkan bantuan disiplin ilmu lain untuk mengembangkan ilmu pendidikan. “Saya kira, Ki Hadjar paham soal ini,” kata Jimmy.

Sedangkan sekitar 1944 hingga 1955, salah satu tokoh yang berpengaruh ialah MJ. Langeveld. Langeveld menganggap ilmu pendidikan sebagai ilmu yang berdiri sendiri. “Bahkan, saya kira Langeveld masih dipelajari mahasiswa 80an,” kata Jimmy.

Akan tetapi, Jimmy tidak melihat perkembangkan kedua konstruksi pedagogik itu saat ini. Jimmy mengatakan baik pedagogik yang berdiri sendiri maupun yang interdisipliner tidak berkembang di Indonesia.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.