Hari Ini FDP IKA UNJ Diskusikan Ki Hadjar Dewantara

 

 

 

 

Pedagogik Kritis Ki Hadjar sedang diuji perkembangan zaman. Masihkah relevan bila disandingkan dengan teori pendidikan kontemporer barat ?

Abdullah Taruna

Di tengah paceklik ilmu pendidikan (pedagogik) yang khas Indonesia, hari ini Forum Diskusi Pedagogik (FDP) IKA UNJ mendiskusikan “Pemikiran Pendidikan Bapak Bangsa”. Pertama mendiskusikan  “Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan Pendidikan Kontemporer Barat”, yang dibawakan oleh Jimmy Philip Paat Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta. Sub  tema satunya lagi adalah “Pemikiran Pendidikan Bung Karno”, yang dibawakan Dosen Universitas Bung Karno (UBK), Yana Priyatna.

“Ki Hadjar Dewantara itu pedagogik tersendiri,” kata Prof.Dr. Conny R. Semiawan saat kami menyebut nama Bapak Pendidikan Nasional di tengah diskusi FDP IKA UNJ di rumah Rektor IKIP Jakarta Dua Periode 1984-1992 Edisi Juni lalu.

Tentu apa yang dikatakan Prof Conny tidak berlebihan. Ki Hadjar Dewantara memang seorang Pedagog yang mumpuni. Bahkan Prof. Dr. HAAR Tilaar menyebut Ki Hadjar Dewantara sebagai pelopor pedagogik kritis (Ki Hajar Dewantara: 2014). Karena  paradigma dan konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara sangat kritis.

Menurut Tilaar KHD pantas disebut pelopor pedagogik kritis. Paulo Freire sohor dengan predikat teori itu, namun pedagog dari Brazil  tersebut baru mengungkapkan konsep pemikirannya tentang pedagogik kritis pada 1970. Sebaliknya, Ki Hadjar Dewantara sudah menyampaikan konsep pedagogik kritis sejak mendirikan Taman Siswa Tahun 1922, saat mana Freire lahir pada 1921. Ini berarti Ki Hadjar tidak pernah bersentuhan dengan narasi teori Freire alias berbeda zaman.

Paulo Reglus Neves Freire menjadikan pembebasan sebagai tujuan dan hakikat dari pendidikan. Hal itu dilatarbelakangi situasi kehidupan di Brazil yang dikuasai rezim otoriter. Bahkan Freire mengalami kemiskinan dan kelaparan saat ekonomi dunia dalam depresi 1929.

Freire mengkritik konsep pendidikan konvensional yang disebutnya sebagai sistem bank. Sistem pendidikan model ini membatasi kebebasan peserta didik dan memasukkan pengetahuan secara paksa kepada siswa. Peserta didik diberi ilmu pengetahuan agar kelak apat mendatangkan hasil berlipat ganda. Anak didik dipandang sebagai obyek investasi  dan sumber  deposito potensial. Murid diperlakukan sebagai obyek yang penurut dalam proses pembelajaran  sehingga tidak kritis terhadap ilmu pengetahuan yang diajarkan guru, termasuk kurang pekah terhadap realitas sosial.

Sebenarnya ada lima langkah yang dalam pedagogik kritis Freire untuk mengatasi penindasan dalam pendidikan itu. Kelima langkah itu esensinya berupa perlakuan yang memanusiakan murid dari semula obyek dalam proses pembelajaran menjadi subyek aktif dengan proses dialog yang dialektis dengan Guru. Relasi guru dan peserta didik yang setara itu membuat pendidikan menjadi alat pembebasan.

Tujuan pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah memerdekakan peserta didik untuk membangun kesadaran kritis, dan menjadi manusia merdeka. Ia kemudian merumuskan metode among dalam mencapai  tujuan itu. Bagaimana relasi antara guru dengan murid serta dengan ilmu pengetahuan alam konsep pedagogik kritis Ki Hadjar Dewantara? Lalu bagaimana cara kerja sistem among? Lalu seberapa relevan pedagogik kritis Bapak Pendidikan Nasional bila dibandingkan pemikiran pendidikan kontemporer barat? Mari kita ikuti paparan kajian Jimmy Philip Paat dalam Reboan Pendidikan yang diselenggarakan oleh Forum Diskusi Pedagogik IKA UNJ Rabu siang hari ini di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Ruang 104.

 

   

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.