Menghadapi Revolusi Industri 4.0 UNJ Wajibkan Mata Kuliah Big Data dan Coding

Pesatnya kemajuan teknologi menjadi tanda lahirnya Revolusi Industri 4.0. Kemajuan ini berpengaruh terhadap perubahan cara berpikir dan perilaku masyarakat. Melihat hal itu, Perguruan Tinggi (PT) memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas masyarakat supaya bisa mengantisipasi perubahan zaman.

Salah satu upaya PT menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan membekali mahasiswanya memiliki keahlian khusus. Upaya ini yang dilakukan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). UNJ membuka mata kuliah pengantar Big Data dan Pemrograman (Coding). Rencananya, kedua mata kuliah ini wajib diambil seluruh mahasiswa baru UNJ.

Intan Ahmad, Plt Rektor UNJ, mengatakan kedua mata kuliah ini punya peran penting untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0, terutama keahlian literasi data. Intan menyampaikan mata kuliah ini bermanfaat untuk berbagai bidang ilmu di UNJ. “Era Industri ini, semua bidang ilmu terkait dengan data. Misalnya, program studi olahraga tentu membutuhkan data untuk analisis prestasi sebelumnya,” kata Intan saat memberikan sambutan di acara Wisuda UNJ 2018/2019 (24/3).

Saat ini, mata kuliah Big Data dan Pemrograman diajarkan pada Dosen dari Fakultas FMIPA.

Manfaat untuk Mahasiswa
Khusus untuk program studi pendidikan, Intan mengatakan mahasiswa pendidikan UNJ harus menguasai kedua mata kuliah ini. Sebab nantinya, mahasiswa UNJ sebagai calon pendidik harus mengajarkan ilmu pemrograman dan Big Data kepada siswanya.

“Jadi you sebagai guru, saat ditanya murid harus bisa menjawab. Pak ini cara menggunakanya gimana? Harus bisa menjelaskan. Guru tak perlu ahli yang penting bisa menjelaskan. Saya pernah lihat anak sd sudah belajar programing membuat robot. Ini kan masalah coding, ” kata Intan saat ditemui di Ruang Rektorat (16/7).

Selain itu, mahasiswa harus memiliki empat kemampuan untuk menghadapi pengaruh Revolusi Industri 4.0.

“Pertama, dengan cara meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kalau ada masalah yang terjadi kita harus berpikir kritis untuk keluar dari masalah ini. Kita jangan menganggap semua yang dikatakan itu benar. Kamu kan bisa melakukan check and recheck. Kedua, kolaborasi. Kita harus belajar bekerja tim. Ketiga, Kreatif. Entrepreuner itu kreatif, karena bisa memanfaatkan peluang. Terakhir komunikasi yang jelas, kata Intan.

Intan menekankan mahasiswa UNJ jangan sampai saat lulus tak bisa mengikuti perkembangan teknologi. Sebab, Revolusi Industri 4.0 membutuhkan berbagai keahlian khusus.

“Pas mau kerja, ga ada yang sesuai dengan dia. Karena kemampuanya ga sesuai dengan dia. Jadi sekarang harus bisa,” kata Intan.

Menanggapi hal itu, Uly Mega, mahasiswa Fakultas Bahasa Indonesia mengatakan meski perkembangan teknologi semakin pesat, tapi peran guru untuk menanamkan moral manusia tak bisa digantikan.” Kita harus bersikap kritis terhadap teknologi. Jangan sampai kemanusiaan digantikan teknologi. Teknologi sebagai pembantu saja,” kata Uly.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.