Menghadapi Hoax di Era Milenial

Berita Palsu atau hoax bisa menyerang siapa saja. Apalagi Hoax menyebar melalui media sosial. Kaum Milenial sebagai pengguna aktif media sosial rentan menerima hoax. Untuk menangkal hal itu, kaum millenial perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, Sigma TV, Era FM, dan KMPF UNJ mengadakan Pekan Jurnalistik (Pekjur) bertema Millenial dan Hoax di Aula Daksinapati, Fakultas Ilmu Pendidikan (25/6). Kegiatan Pekjur diadakan tiap tahun. Tahun ini, Pekjur berlangsung tiga hari, dari 25 Juni – 27 Juni 2019, pukul 09.00 WIB. Sebagai pembuka Pekjur, Indra Gunawan – Periset Respublika Institut – diundang untuk menyampaikan materi tentang Peran Persma Melawan Hoax.

Indra mengatakan di era kemajuan tekonologi informasi dan komunikasi, masyarakat tidak lagi kekurangan informasi, tetapi kelebihan informasi dari media online. Misalnya, media online detik.com, tiap menit mampu memproduksi berita baru. Tetapi, kecepatan berita itu memiliki pengaruh buruk, salah satunya ialah penyebaran berita palsu atau hoax.

Awal kemunculan Berita palsu atau hoax dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi. Media sosial menjadi tempat berbagai informasi, keadaaan itu dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan informasi palsu.

Belum lagi Indra mengatakan berita palsu bisa diterima berbagai kalangan. Mahasiswa, dosen, petani, atau elemen masyarakat lain bisa dipengaruhi hoax. Namun, yang paling rentan terpapar informasi palsu adalah kaum milenial. Sebab, kaum millenial paling banyak menggunakan media sosial. “Tak peduli mereka sudah sarjana atau tidak,” kata Indra.

Indra mengatakan kaum millenial menghabiskan banyak waktu dengan gadgetnya. Hingga hari ini, sekitar 150 juta penduduk indonesia aktif menggunakan media sosial atau internet. Menurut Indra, media sosial menjadi sarana penyebar berita palsu. Bayangkan, tiap orang bisa memberikan pendapatnya. Dan tidak ada yang mengetahui pendapat yang disampaikan sesuai fakta atau tidak. “Banyak pengguna terlalu bebas menyampaikan pendapat,” kata Indra.

Apalagi media sosial memiliki sistem algoritma. Sistem algoritma mampu membuat pengguna media sosial terkena hoax dengan mudah. Karena, sistem ini bisa membaca aktivitas pengguna media sosial.

“Misal saya sering mengakses suatu tokoh, nantinya akan update terus soal ini. Hal ini membuat informasi menjadi homogen. Oleh karena itu, alangkah baiknya kita mematikan personal aktivity di settingan aplikasi. Supaya kita mendapatkan informasi yang heterogen. Tujuanya suapaya tidak menerima hoax terus menerus, ” kata Indra.

Untuk mahasiswa Indra menyarankan mereka harus betul-betul menyaring informasi sesuai kaidah-kaidah ilmiah untuk menghindari berita palsu. Selain itu, Mahasiswa harus membedakan cara berpikir mereka dengan masyarakat awam. “Kita harus berpikir kritis. Jadi jangan menarik kesimpulan tanpa cara berpikir ilmiah,” kata Indra.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.