Memanfaatkan Bonus Demografi

Bem Fakultas Ekonomi mengadakan Kuliah Pendidikan dengan tema Dapatkah Indonesia Melewati Bonus Demografi? Atau Menjadi Bencana Demografi? di Gedung N ruang 111 Fakultas Ekonomi (25/4). Kuliah ini mengundang Ruspita Putri dari Kemendikbud RI. Acara dimulai pukul 16.30 WIB hingga selesai.

Ruspita mengawali presentasi dengan membuat analogi untuk bonus demografi. Menurutnya, bonus demografi bisa menjadi pisau bermata dua. Jika bonus demografi dapat dimanfaatkan dengan baik maka bisa memberi manfaat bagi Indonesia. Namun, akan menjadi masalah bila tidak bisa dimanfaatkan.

Menurut Ruspita, Bonus Demografi ialah jumlah usia produktif yang mampu membuat Indonesia menjadi negara maju. Ruspita memaparkan data usia produktif di Indonesia. Sekitar 180 juta penduduk Indonesia merupakan usia produktif, sedangkan 60 juta penduduk masuk kategori usia non produktif. “Oleh karena itu, masyarakat usia produktif akan menjadi tulang punggung bangsa, “ kata Ruspita.

Selain itu, Ruspita juga menjelaskan negara-negara yang berhasil memanfaatkan bonus demografi, yaitu Jepang dan Cina. “Negara itu bisa menjadi negara maju karena memanfaafkan bonus demografi, dengan cara mendorong masyarakatnya untuk memiliki jiwa usaha,” kata Ruspita.

Berdasarkan keberhasilan negara maju itu, menurut Ruspita, kemendikbud berupaya menanamkan jiwa usaha kepada peserta didik.

Namun, lanjut Ruspita, keinginan itu akan sulit dicapai. Sebab, masih banyak masalah-masalah pendidikan baik dari faktor kuantitas maupun kualitas.

Tantangan Pendidikan Versi Pemerintah

Berdasarkan UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah mengupayakan akses pendidikan untuk masyarakat. Atas dasar itu, pemerintah berupaya mempercepat wajib belajar 12 tahun.

Akan tetapi, pemerataan pendidikan tidak cukup. Pemerintah juga perlu meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, hal itu sulit dilakukan. Sebab, Ruspita mengatakan berdasarkan hasil PISA dan TIMMS, kualitas pendidikan selama 10 tahun terakhir tidak kunjung membaik. Berdasarkan urutan TIMMS di 1998, Indonesia peringkat 34 dari 38 negara. Kini, Indonesia peringkat 35 dari 45 negara lain,” kata Ruspita.

Di sisi lain, Infrastruktur pendidikan juga belum maksimal. Padahal, menurut Ruspita, Infrastruktur yang mumpuni dapat membuat suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan.

Masalah lain yaitu soal guru. Menurut Ruspita, perbandingan antara guru PNS dengan Guru bukan PNS menjadi masalah. Guru bukan PNS lebih besar daripada Guru PNS. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas guru.

Melihat berbagai masalah itu, Ruspita menyampaikan program pemerintah untuk mengatasinya. Salah satunya ialah membekali anak dengan kemampuan abad ke 21. Kemampuan ini memungkinkan manusia untuk memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan kreativitas, literasi, dan karakter. “Menurut UNESCO, kemampuan itu mempengaruhi kehidupan anak di masa depan,” kata Ruspita.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.