Melalui ADit, 31 Anak Papua Bisa Kuliah di UNJ

Sejak 2012, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti, membuka Program Afirmasi Perguruan Tinggi atau ADik. Program ini memberikan beasiswa untuk putra dan putri Asli Papua. Pada 2013, sasaran ADik diperluas hingga menjangkau putra dan putri asal daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).

Mengutip www.news.okezone.com berjudul Kenalan dengan Program Beasiswa ADik, pada 2016, Intan Ahmad mengatakan, esensi program ADik ialah memberikan kesempatan kepada putra dan putri Asli Papua dan asal daerah 3T untuk bisa menempuh pendidikan tinggi. “Agar mampu mensejajarkan diri dengan saudara-saudaranya yang lain, sebangsa dan se-Tanah Air,” kata Intan Ahmad.

Mereka yang ingin mendaftar ADik perlu mengikuti seleksi lokal yang dibuka sekolah bersama Dinas Pendidikan kab/kota. Kedua pihak itu akan mempertimbangkan kemampuan akademik dan non akademik pendaftar. Peserta yang lolos seleksii lokal akan mengikuti seleksi nasional. Kemudian, setelah dinyatakan lolos seleksi nasional, peserta bisa menempuh kuliah di perguruan tinggi pilihannya.

Tahun ini, Belmawa meluluskan 1877 peserta yang akan menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi Indonesia. Salah satu perguruan tinggi itu ialah UNJ. UNJ menerima 31 anak Papua. Mereka akan diberikan beasiswa Bidikmisi oleh UNJ.

Ahmad Ridwan Wakil Rektor 4 Bidang Kerjasama mengatakan sudah lama UNJ menjalankan program ADik. Bagi Ridwan, hal itu bertujuan mempertahankan keberagaman budaya di UNJ. “Jelas Multi Kultur kita pertahankan,” kata Ridwan.

Selain itu, UNJ memiliki cita-cita untuk mencerdaskan semua anak bangsa. Ridwan sadar kualitas pendidikan di Papua cukup tertinggal dengan pendidikan di Jakarta. Oleh karena itu, ia berharap anak Papua bisa mengikuti pembelajaran di UNJ dan mengembangkan kemampuannya. “Supaya mereka – putra dan putri Papua – bisa mengembangkan daerah asalnya,” kata Ridwan.

Menanggapi hal itu, Lutfia Harizuan, selaku mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial mendukung program ini. Lutfia mengatakan kualitas pendidikan di Jakarta memang berbeda dengan di Papua. Lantaran, akses pengetahuan serta fasilitas tidak memadai. Lutfia berharap dengan adanya beasiswa ADit, orang Papua mampu memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan kualitas masyarakat Papua. “Apalagi UNJ pencetak guru, semoga setelah kembali kekampung halaman, mereka bisa mengembangkan kualitas pendidikan di sana,” kata Lutfia.

Penulis: Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.