Mau Maju Pendidikan Harus Jadi Persoalan Hidup Mati

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof. DR Hafidz Abbas mengatakan kemunduran Indonesia karena pendidikan tidak dianggap sebagai persoalan hidup mati.

Hal ini disampaikan mantan Dirjen Hak Azasi Manusia Kementerian Hukum dan HAM dalam seminar nasional “Menggagas Pendidikan Nasional” oleh Ikatan Alumni UNJ di kampus Rawamangun Jakarta.

Prof. Hafidz mencontohkan kemajuan negara tetangga, seperti Malaysia. “Malaysia sukses memperbaiki sistem pendidikannya karena bagi Malaysia, education adalah persoalan hidup mati. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia terpuruk karena persoalan pendidikan tidak dianggap persoalan hidup mati,” katanya.

Anggota Komnas HAM ini menyoroti sistem pendidikan nasional dengan pemberlakuan UU Sisdiknas tahun 2003. Seolah-olah dengan menerapkan 20 persen APBN untuk pendidikan, langsung bisa menyulap mutu.

Padahal, masalahnya tidak sesederhana itu. Menurut Prof. Hafidz, “Dengan 20 persen anggaran, pendidikan kita masih yant terjelek di dunia”, katanya.

Persoalan mutu pendidikan Indonesia, dikaitkan dengan anggaran sudah diteliti oleh Bank Dunia. Hasilnya, dengan 20 persen anggaran belum membuahkan capaian pendidikan.

Dari hasil penelitian Bank Dunia yang diterbitkan tahun 2013 dan dilanjutkan dengan penelitiqn 2018 yang menyebutkan out put pendidikan berupa peringkat Human Capital Index manusia Indonesia masih yang terburuk di kawasan Asean.

Bank Dunia menyebutkan adanya salah sasaran dalam penggunaan anggaran 20 persen APBN bidang pendidikan.  Salah satu cerminannya adalah mubazirnya rasio guru dengan siswa. “Anggaran pendidikan yang besar hanya mengurangi beban kerja guru yang rangkap,” katanya.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.