Mahasiswa UNJ Menjadi Perwakilan Pemuda Indonesia ke Jepang

Pada 19 – 26 Maret, Jepang mengadakan kegiatan pertukaran budaya untuk Negara-negara ASEAN bertajuk JENESYS 2019 26th Batch Inbound Program ASEAN – Timor Leste Youth Leader Exchange. Jepang mengundang mahasiswa dari Negara – negara ASEAN dan Timur Leste untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang diadakan.

Kegiatan bertujuan mempererat hubungan baik antara Jepang dan Negara ASEAN, khususnya hubungan dalam bidang ekonomi. Selain itu, Jepang juga ingin mempromosikan budaya serta tempat wisata mereka.

Indonesia mengirim 10 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Salah satunya Farhan Nugraha, mahasiswa program studi Pendidikan Sejarah 2016 UNJ. Desember 2018, ia diterima menjadi delegasi Indonesia setelah mengikuti ujian administrasi dan pengetahuan yang diadakan Kemenpora.

Dua hari sebelum keberangkatan ke Jepang, Deputi Pengembangan Pemuda Kemenpora mengumpulkan 10 mahasiswa untuk ikut pembekalan awal. Mereka menjelaskan teknis keberangkatan dan saat hendak pulang. Selain itu, Deputi menyarankan 10 Mahasiswa itu menunjukan kemampuan mereka. “Dalam orientasi itu, pemerintah menyarankan menjadi yang terdepan,” kata Farhan.

Saat tiba di Jepang, panitia membagi peserta menjadi 4 kelompok sesuai kemampuan, seperti kelompok Food and Tourism dan kelompok Teknologi dan Manufaktur. Farhan ditempatkan di kelompok Sejarah.

Kegiatan pertama yang dilakukan ialah berkunjung ke salah satu kampus Jepang. Di sana, tiap delegasi melakukan presentasi tentang sejarah dan budaya negara mereka.

Dalam hal ini, Farhan menjelaskan tentang Warisan Budaya Indonesia. Menurut Farhan, Budaya dapat dibagi menjadi dua, yaitu berwujud dan abstrak. Pertama, budaya berwujud dapat dilihat dari bukti sejarah Candi Borobudur. “Lebih besar dari milik negara Buddha, Thailand,” kata Farhan.

Farhan mengaku tidak banyak menjelaskan mengenai warisan budaya berwujud. Meskipun begitu, Farhan ingin menunjukam bahwa budaya Indonesia sangat beragam. Keberagaman itu dapat dilihat dari bukti sejarah. “Meskipun mayoritas Islam, namun banyak peninggalan Hindu dan Buddha,” kata Farhan.

Kedua, lanjut Farhan, mengenai warisan budaya Abstrak. Menurut Farhan, mengutip Pramoedya Ananta Toer, warisan utama budaya Indonesia ialah membaca dan menulis. “Bangsa Indonesia lahir dari gagasan dan ide,” kata Farhan.

Setelah masing-masing delegasi mempresentasikan sejarah dan budaya masing-masing, peserta diajak melihat tempat wisata di Jepang, seperti Kuil Jepang. Para delegasi juga diundang menginap di rumah warga.

Belajar Menghargai Waktu

Sebetulnya, menurut Farhan, sulit membedakan identitas negara tiap peserta. Sebab, baik pemikiran maupun tingkah laku mereka, tidak mencerminkam budaya negara asal. Perbedaan hanya bisa dilihat saat peserta mengenakan baju adat. “Mungkin karena Milenial dan efek globalisasi. Jadi terlihat sama,”  kat Farhan.

Terlepas dari itu, Farhan menceritakan pengalaman yang tidak terlupakan. Di hari pertama datang, peserta menginap di sebuah Hotel. Di hari berikutnya, peserta diwajibkan untuk bangun pukul 06.00 WIB. Namun, Farhan tiba sekitar pukul 06.15 WIB.

Kemudian, Delegasi Singapura menegur Farhan. Farhan mengatakan kepadanya, ia terlambat karena mencari kupon sarapan yang hilang. Delegasi Singapura mengatakan kepada Farhan, kupon hilang masih bisa diatasi asal tidak datang terlambat. “Dia mukanya Merah Banget, Orang Singapura itu,” kata Farhan. Akhirnya Farhan minta maaf kepada Delegasi Singapura dan berjanji tidak mengulangi hal itu.

Meskipun begitu, Farhan merasa bangga menjadi delegasi dari Indonesia. Baginya, tiap hasil menunjukan seberapa besar proses yang dilewati. Sebelum ke Jepang, Farhan menjabat sebagai Ketua Bem program studi Pendidikan Sejarah. Pengalaman menjadi ketua Bem yang menempa dirinya.

Di sisi lain, Farhan ingin membagikan pengalamannya kepada mahasiswa lain. Ia ingin membuat mahasiswa sadar, bahwa pengalaman organisasi itu penting. Pengalaman dan pengetahuan yang didapat di organisasi dapat melatih mahasiswa untuk mengejar cita-citanya.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.