Lody F. Paat: Saya Tidak Ingin Seperti Pak Tilaar

Memiliki kedekatan tidak membuat Lody Ingin Seperti Pak Tilaar? 

H.A.R. Tilaar (paling kanan) saat menjadi pembicara diskusi pedagogik dan praktik pendidikan pada 5 Februari 1983 yang diselenggarakan UKM Fodim IKIP Jakarta.

Abdullah Taruna,

Pernyataan Pegiat Pendidikan Lody F. Paat itu tentu saja  mengejutkan.  Penulispun mengejar jawabannya saat berbincang melalui akun WhatsApp, sebab Lody memiliki kedekatan dengan Prof. Dr. Tilaar. Ayah Lody pernah belajar di  sekolah yang sama dengan Prof Tilaar.

“Bapak saya masuk sekolah guru di sekolah pak Tilaar, di kelas 2 bukan mulai dari kelas 1 karena ayah saya sudah jadi guru. Ayah lebih tua cukup jauh dari pak Tilaar. Ayah pak Tilaar kepala sekolah di tempat ayah saya mengajar,” kata Lody.

Ketika  Lody mengambil kuliah di IKIP Jakarta, dan menjadi dosen  di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) IKIP Jakarta, kedekatan itu pun terjalin karena Prof Tilaar mengenal Ayah Lody. “Secara etnik, saya mencoba memposisikan diri seperti keponakan. Secara intelektual saya memposisikan  sebagai murid yang mempelajari pemikiran pak Tilaar melalui bukunya, dan menyimak presentasinya di seminar, ” ungkap Lody.

Salah satu buku karya Prof. Dr. H.A.R. Tilaar.

Beberapa kali, lanjut Lody, dirinya diajak oleh Prof Tilaar untuk menghadiri presentasi di  Jakarta dan Bandung. Dari pengalaman Lody  dalam mengenal pemikiran gurunya, dan cerita bagaimana  prestasi di masa sekolah guru, ia tidak berani  bercita-cita menjadi orang seperti Prof Tilaar.

“Saya sendiri tidak ingin seperti pak Tilaar walaupun saya dekat dengan pak Tilaar,” kata Pensiunan Dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNJ, Lody F. Paat.

Cerita kepandaian Prof Tilaar bagi Lody bukan hanya terbukti dari karya intelektual Prof Tilaar, namun memang sejak masa Sekolah Guru Christelijke Normal School Kuranga, Tomohon, sudah sangat cerdas. Ayah Lody dan H.A.R. Tilaar tinggal sekamar di sekolah guru sistem asrama itu.

Prof. Dr. Tilaar dan Lody F. Paat dalam momen seminar pendidikan.

“Saya tidak bisa karena pak Tilaar menurut bapak saya yang pernah satu kelas, pak Tilaar murid pandai. Semua mata pelajaran rata-rata 10. Bapak saya bilang hanya menyanyi pak Tilaar dapat 8 karena praktik menyanyi 6 tapi teori musik 10,” ungkap Lody menceritakan kesaksian ayahnya tentang kecerdasan Prof Tilaar.  Di asrama sekolah di Kuranga, Tomohon, ayah Lody dan Tilaar tinggal sekamar.  

Walaupun Lody membaca buku-buku pak Tilaar, dia jarang sekali bertanya hal-hal yang ada di buku-buku pak Tilaar.  “Pemikiran pak Tilaar saya pertanyakan melalui pemikiran pendidik yang lain,” ungkap Lody.

Jadi Lody tidak pernah mempertanyakan langsung isi buku Prof Tilaar.  Sekali-kalinya bertanya, pernah dilakukannya saat buku masih dalam bentuk draft yang belum dibacanya. Hal itu terkait penggunaan kata “manifesto” yang dikhawatirkan oleh Lody dapat membuka celah untuk disalafahami atau digoreng oleh kalangan tertentu.

“Ketika pak Tilaar selesai menyusun draft buku Manifesto Pendidikan Nasional, saya diminta membaca draft buku itu.  Sebelum saya membacanya,  saya bertanya apakah bapak sudah memikirkan penggunaan kata manifesto, dia jawab sudah. Saya bertanya hal ini karena kata manifesto ini bisa dihubungkan dengan Manifesto Komunisme Karl Marx,” ungkap Lody F. Paat.

Suatu ketika buku berjudul “Manifesto Pendidikan Nasional” diluncurkan oleh Prof Tilaar. “Saya menjadi moderator, sedang pembahasnya adalah pak Sutjipto, pak Surya,  ibu Conny, dan Jimmy,” kata Lody tentang buku karya Prof Tilaar yang ditinjau dari perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural.

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.