Membudayakan Tertib Lalu Lintas di Kalangan Millennial

Mahasiswa UNJ mengikuti kuliah umum road safety untuk millennial

Data Laka Lantas tahun 2018, menunjukan dari 6.931 ribu korban kecelakaan, 4.071 (59%) ialah kaum muda. Oleh karena itu, Polda Metro Jaya mengadakan Millennial Road Safety Festival  untuk membangun kesadaran tertib lalu lintas bagi kaum millennial.

Jumat, 1 Februari 2018, Polda Metro Jaya berkerjasama dengan UNJ mengadakan kuliah umum bertema Generasi millennial sebagai Agen Perubahan dalam Mewujudkan Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, dan Kelancaran Lalu Lintas. Kegiatan ini berlangsung pukul 09.00 WIB hingga 11.30 WIB di Aula Maftuhah Yusuf, Gd. Dewi Sartika.

Kuliah umum menjadi salah satu rangkaian dari Millennial Road Safety Festival yang akan diadakan di tiap kota dan beberapa kampus. Kegiatan tersebut berlangsung dari 1 Februari hingga 31 Maret 2019.

Menurut Yusuf S selaku Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol, tujuan kegiatan ini mengingatkan kaum millenial akan bahaya melanggar lalu lintas. Sebab, berdasarkan, data Laka Lantas tahun 2018, dari 6.931 ribu korban kecelakaan lalu lintas, 4.071 (59%) ialah kaum milenial, “dan 25 persennya berstatus mahasiswa,” tegas Yusuf.

Selain itu, bagi Yusuf melanggar kecelakaan menjadi salah satu penyebab kemiskinan. Yusuf mencontohkan, seorang Bapak sebagai tulang punggung keluarga mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang dialami seorang bapak, akan menghentikan siklus ekonomi keluarganya. Sebab, bapak itu tidak dapat bekerja menafkahi keluarganya.

Maka dari itu, Polda Metro Jaya dengan mengikuti saran WHO, melakukan strategi untuk mengendalikan dan mengurangi korban kecelakaan lalu lintas. Salah satu strategi itu memaksimalkan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE).

Biasanya sistem ETLE dipasang di dekat lampu rambu lalu lintas. Pelanggaran  pengendara seperti melaju ketika lampu merah, tidak mengenakan helm, dan melewati garis pemberhentian lampu meran akan terekam oleh sistem ETLE. Secara otomatis, pelanggar akan menerima pemberitahuan dari no handphone yang sudah didaftarkan.

Dengan adanya peraturan itu, Yusuf mengharapkan masyarakat tidak menganggap remeh tata tertib lalu lintas. Sebab, baginya tertib lalu lintas, menjadi cermin masyarakat yang bertanggungjawab dan sadar kedisiplinan.

Sepaham dengan Yusuf, Marilutua Sijabat, Kepala Bidang  Pengendalian Operasional Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, mengatakan masyarakat perlu memiliki kesadaran tertib lalu lintas dengan menhilangkan kebiasaan negatif ketika berkendara.

“Penggunaan hp ketika bekendara, melawan arus, parkir sembarangan, menjadi kebiasaan yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas,” kata Marilutua.

Marilutua juga menghimbau kaum millennial untuk menggunakan kendaraan umum daripada kendaraan pribadi. Tujuanya mengurangi kemacetan dan kecelakaan.

Agar kaum muda nyaman menggunakan transportasi umum, Marilutua berupaya terus melakukan peremajaan transportasi agar layak di tumpangi.

Anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta, Ellen Tangkudung, mendukung upaya Polda mengurangi kecelakaan dengan cara memberikan kesadaran kepada kaum millenial.

Apalagi kaum millenial lebih mudah menyebarkan konten positif melalui gadget mereka. Sebab, tak dapat dipungkiri, Generasi millenial yang berjumlah 67% (70-80 juta orang) dari populasi nasional, mampu menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga peraturan berkendara.

Bagi Ellen, manusia menjadi faktor utama penyebab utama kecelakaan lalu lintas.

“Oleh karena itu manusia harus menjaga peraturan yang ada, serta mengendalikan keinginannya untuk melanggar lalu lintas,” ujar Dosen Universitas Indonesia ini.

Ahmad Ridwan selaku Wakil Rektor 4,, mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Polda Metro jaya.

Selain itu, Ridwan mengatakan mahasiswa harus paham tata cara berlalu lintas dengan benar. Pemahaman itu diperlukan untuk mencegah kecelakaan. Ridwan mengatakan itu tidak tanpa alasan. Ia menceritakan, beberapa waktu lalu, ada mahasiswa UNJ mengalami kecelakaan karena melanggar lalu lintas di Jalan Pemuda. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, ia berharap mahasiswa lebih berhati-hati.

“Semoga ke depan, tidak ada kecelakaan karena melanggar lalu lintas,” kata Ridwan.

Pada sesi tanya jawab, Gendis Rhamadan, angota Racana UNJ, bertanya soal distribusi ETLE yang tak merata. Menurut Gendus, ETLe tidak terpasang di daerah pinggir Jakarta. Padahal, daerah tersebut banyak dilewati kendaraan besar. Karena itu, daerah tersebut paling membutuhkan sistem ETLE. “Kontainer banyak, dan itu sangat rawan kecelakaan,” kata Gendis.

Menjawab hal itu, Yusuf, mengakui ETLE memang belum terdistrubusi dengan baik, karena anggaran yang kurang. Namun, ia berencana akan menambah 81 ETLE tahun ini, di 21 titik kota.

Selain itu, Yusuf mengatakan pemasangan ETLE di pusat kota lebih diprioritaskan daripada di pinggiran kota. Sebab, pusat dapat menjadi cerminan ketertiban lalu lintas di seluruh kota. “Agar rapih, dan ketika ada tamu dari negara lain, Indonesia tidak malu-maluin,” kata Yusuf.

Kuliah Umum diakhiri dengan pembacaan sikap dari puluhan mahasiswa UNJ mendukung kegiatan Millennial Road Safety Festival .

Penulis: Hendrik Yaputra

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.