Sejarah itu Masa Depan, Bukan Masa Lalu

 

Masa lalu dan masa depan hanya dipisahkan masa kini. Periodisasi dibuat untuk menjaga agar tidak anakronik. Bagaimana mencegah PBM Sejarah supaya tidak counter productive?

 

Abdullah Taruna,

Setelah puluhan tahun mengajar di Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta hingga pensiun, Drs. Setiyadi Sulaeman, M.Pd, dosen  dan penulis buku mata pelajaran sejarah SLTA di era 1990-an mengajak para alumni Prodi Sejarah UNJ merenung. Sudahkah lulusan LPTK  mampu mengajar sejarah secara baik?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengusik Setiyadi Sulaeman beberapa tahun belakangan ini. Puncaknya, semua kegelisahan akan kesenjangan harapan dan kenyataan itu ditumpahkan saat para alumni dan pengurus Ikatan Alumni Mahasiswa Sejarah (IKASA) UNJ berkumpul di Kafejadi, Sabtu, 16 Februari 2019.

Menurut Setiyadi Sulaeman, Pembelajaran Sejarah sejauh ini masih belum mengena, karena lebih mengandalkan kognisi, dan angka-angka periodisasi. “Idealnya seorang guru sejarah mengajarkan kajian sejarah masa lalu untuk menangkap gejala-gejala masa depan,” kata Setiyadi dengan ekspresi khas  serius dan nada suara melengking.

Setiyadi mengajukan dalih bahwa sejarah itu bukan masa lalu. “Pemikir Pembaharuan Islam Iran Ali Syari’ati bilang, bahwa sejarah adalah masa depan. Tapi kenapa masih banyak yang mengajarkan sejarah sebagai masa lalu? Ungkap dosen senior pendidikan sejarah di Prodi Sejarah UNJ yang kini sudah pensiun ini.

Akibat buruk dari model pembelajaran sejarah di ruang kelas seperti itu, bukan hanya membuat para siswa bosan, melainkan juga guru juga tidak bisa mengembangkan imajinasinya dalam mengajar. Lalu bagaimana mungkin mengembangkan imajinasi murid-muridnya.

Setelah guru memahami hakikat sejarah adalah masa depan perkembangan masyarakat, lanjut Setiyadi, maka guru perlu memahami konsep-konsep pendukung yang dipinjam dari berbagai ilmu. “Kita tidak perlu menguasai semua ilmu, tapi cukup memahami apa itu konsep politik, konsep ekonomi, sosiologi, antropologi, geografi, Psikologi, untuk membantu guru dalam mengajarkan materi pembelajaran sejarah,” papar alumni dan dosen Prodi Sejarah UNJ yang dikenal piawai dalam mengenalkan konsep-konsep ilmu pengetahuan ini.

Kalau kita tidak menguasai konsep-konsep interdisipliner itu, tambah Setiyadi, ya sulit untuk mengembangkan pembelajaran sejarah di ruang kelas, apalagi untuk membuat para murid memahami mata pelajaran yang kita sampaikan,” terang Setiyadi.

Selain Setiyadi Sulaeman, rekan sejawat Dra. Budiyarti, M.Pd, juga memberikan analisis perkembangan terkini PBM Prodi Sejarah, dan pergulatan pemikiran di Prodi tersebut. Dosen yang dikenal hampir oleh seluruh angkatan Prodi Sejarah, juga di Prodi Pariwisata UNJ itu mengingatkan agar para alumni tidak berpangku tangan melihat stagnasi yang terjadi di Prodi Sejarah.

Berikutnya yang bicara adalah Doktor Rahmat Edi Irawan, yang membahas pentingnya pembelajaran sejarah melalui metode audio visual. Kemudian, Edy Budiyarso, jurnalis yang matang di jagad jurnalisme televisi sebagaimana Rahmat Edi Irawan juga urun rembuk tentang pentingnya penggunaan teknologi audio visual untuk memudahkan pencapaian tujuan pembelajaran sejarah.

Rapat IKASA UNJ yang dipimpin oleh Doktor Juri Ardiantoro itu, dihadiri sejumlah alumni dan Pengurus IKASA,  di antaranya: Dra. Budiarti Chudlori, M.Pd, Drs. Setiadi Sulaeman, M.Pd, DR. Rahmat Edi Irawan, Edy Budiyarso, S.Pd, M.Hum, Ahmad Faridi (guru/pendidik), Sigit Kurniawan (jurnalis radio elshinta), Sri Lestari Werdiningsih (Manajemen Pasar Modal),Rahmat Akbar,  DR. Dirgantara Wicaksono (dosen Pascasarjana UNJ), Satrio Prio Utomo, S.Pd, M.Hum, dan Wage Wardana.

Selain nama-nama tersebut di atas, rapat IKASA Prodi Sejarah UNJ juga dihadiri beberapa orang peninjau dari Fakultas Sastra UNJ (FPBS: dahulu). Di antfaranya Cak Joko, alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Anton Cekov_alumni Bahasa dan Sastra Perancis, dan alumni Bahasa dan Sastra Arab, Yana Priyatna.

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.