Dr. Komarudin: Akademisi Harus  Buang Semangat Palu Gada

 

 

Dasar utama untuk menjadi akademisi kelas wahid itu adalah fokus dan setia mendalami bidang keahlian. Namun itu perlu didukung 3  modal lainnya.­­

Abdullah Taruna,

Untuk bisa melahirkan orang-orang besar “Tokoh”, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) perlu membantu  peserta didiknya agar memiliki 4 syarat. Demikian dikatakan Dr. Komarudin, M.Si.,Calon Rektor  Universitas Negeri Jakarta yang saat ini menjabat Wakil Rektor II UNJ. Dalam Diskusi Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu  bertema “Mengembangkan UNJ Masa Depan”, IKA UNJ juga menghadirkan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Dr. Sofiah Hartati, M.Si, yang juga saat ini menjadi salah satu dari tiga Calon Rektor.

Keempat syarat itu, kata Komarudin  adalah : 1.Fokus pada bidang keilmuan yang didalami, 2. Memiliki modal Mentalitas  Kewirausahaan,  3. Modal Sosial (jaringan),  4. Modal Finansial.

“Kalau kita  fokus pada kompetensi keahlian, maka produk-produk kita (karya:Red.) akan  dilihat orang lain,”kata  Komarudin.

Dosen PPKN UNJ tersebut menambahkan,bahwa tak jarang akademisi memberikan komentar apa saja, termasuk meriset, dan menulis apa saja sehingga tidak fokus pada  kompetensinya.

Kepada para dosen, dan pengurus IKA UNJ, Komarudin mengajak agar fokus pada bidang keahlian masing-masing.  “Sehingga kalau dari luar mencari (pakar:Red.) itu ada di UNJ,” kata Wakil Rektor II UNJ yang menjadi Calon Rektor dengan meraih suara mayoritas Senat UNJ.

Jadi Komarudin mengingatkan, agar akademisi UNJ membuang jauh-jauh semangat palu gada, yaitu semangat menerima pesanan  di luar bidang keahlian demi mendapat banyak uang. Menurut Komarudin, kesetiaan menggeluti bidang pengetahuan telah ditunjukkan para tokoh senior UNJ sehingga mendapat pengakuan nasional dan internasional.

“Kalau senior-senior kita, beberapa fokus, seperti Bu Conny Semiawan,Pak Tilaar,Pak Winarno, Pak Jusuf Hadimiarso yang fokus di Teknologi Pendidikan sampai menjadi dewanya Teknologi Pendidikan,” terang Komarudin.

Untuk mendukung hal itu, Komarudin mengingatkan akan pentingnya para dosen sejak awal menjajaki minat dan orientasi pengetahuan para  mahasiswa. “Kita dari awal harus bisa men_talenting mahasiswa-mahasiswa. Keahliannya di mana terus dikembangkan, terus diasah. Kalau demikian, maka akan lahirlah cikal bakalnya orang-orang hebat di masa yang akan datang,” jelas Komarudin tentang langkah pedagogik yang perlu dilakukan.

Syarat kedua, modal Mental Kewirausahaan. Ini yang mesti dikembangkan, karena masih  langkah di UNJ.    “Menurut saya modal mental itu, mentalitas kita memang bukan kewirausahaan, hanya mental, menjadi tukang-tukang. Coba bimbel, gurunya siapa? Dari UNJ.Pemiliknya siapa? UGM,” ungkap Komarudin seraya menyebut bila jumlah pemilik bimbel maupun lembaga kursus dari UNJ masih dalam  hitungan jari.

Ketiga, Modal Sosial alias jaringan. Setelah fokus dan memiliki modal kewirausahaan, maka akademisi UNJ dan alumni perlu memiliki jaringan yang kohesif. Sampai di  sini, Komarudin mengajak semua akademisi, dan alumni untuk membesarkan  UNJ dengan menjauhi polarisasi.

Keempat, Modal  Finansial. Finansial, itu kelemahan kita. “Mohon maaf di IKIP (UNJ generasi 80-90-an: Red.) kebanyakan kalau sudah lulus jadi sarjana sudah Alhamdulillah. Jadi guru diangkat PNS (ANS) Alhamdulillah. Kan kebanyakan begitu,”  katanya.

Komarudin pun menambahkan, untuk mengatasi kelemahan itu, perlu para wirausahawan lulusan UNJ yang sudah ada bersinergi dengan para  alumni dengan kompetensi masing-masing. “Saya yakin di UNJ akan banyak alumni yang menjadi orang besar,” pungkas Komarudin.

 

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.