Beragam Cerita Di Balik Konversi IKIP Menjadi Universitas

 

Sebelum menjadi universitas, LPTK benar-benar dihinggapi permasalahan. Kecintaan kepada LPTK saja malah bisa menimbulkan sakwasangka.

Abdullah Taruna

Dua penumpang bus kota duduk bersebelahan di kursi bus kota P.11 rute Pulo Gadung – Grogol. Saat laju bus warna putih itu sudah tiba di Jalan Jenderal Sudirman, gadis di sebelahnya bertanya. “Kuliah di mana Bang? Tanya gadis yang naik dari Pasar Pramuka. “Saya kuliah di IKIP Jakarta,” jawab mahasiswa yang tetap bersikap biasa. “Kalau kamu kuliah juga kan? Tanya mahasiswa di samping gadis itu. Gadis itu tidak menjawab. Hanya tersenyum tipis. Lalu mahasiswa IKIP Jakarta itu penasaran dan kembali memberanikan bertanya ulang. “Jadi kuliahnya di mana ? Tanya mahasiswa. “Di Trisakti,” jawab mahasiswi dengan hanya satu kata.

Karena berkali-kali bertanya hanya mendapat jawaban pendek. Esok hari berceritalah calon guru itu kepada teman sekampus yang dua tingkat lebih tua semesternya.  Kontan teman-temannya pada tertawa ngakak. “Ya iyalah, masa kenalan ngaku mahasiswa IKIP. Jadi jangan nyesel, kalau tuh cewek jawabannya jadi nggak resep,” kata para sahabatna berkomentar.

Rektor IKIP Jakarta/UNJ 1997-2005, Prof.Dr. Sutjipto menanggapi humor masa lalu itu sebagai petunjuk ada persoalan di kampus LPTK yang perlu ditangani. “Waktu itu sebetulnya IKIP itu dianggap perguruan tinggi nomor sekian, karena mahasiswanya dianggap tidak menguasai bidang studi yang diajarkan,” kata Prof.Dr. Sutjipto.

Departemen Pendidikan & Kebudayaan kemudian membuat kebijaksanaan dengan mengirim guru untuk mendapatkan pendidikan ke kampus ilmu murni seperti ITB dan IPB. Langkah ini, menurut Prof.Sutjipto tidak menjawab persoalan. “Yang didik itu bukan ilmuwan, tapi yang didik itu guru, yang bisa menerjemahkan pikiran ilmuwan itu menjadi pengalaman yang berarti buat anak-anak. Masalahnya, belum tentu ilmuwan itu bisa mengajar dengan baik. Dia harus tahu bagaimana cara anak berpikir,  alurnya bagaimana, dia harus melakukan intervensinya di mana? Terang Prof. Sutjipto.

Hal itu sama artinya bila IKIP tidak dikonversi, kata Prof.Dr. Sutjipto, bisa semakin inferior. Pendek kata, transformasi IKIP ke Universitas dapat berdampak positif.

“Pendidikan itu adalah salah satu cabang ilmu yang harus dihargai seperti Cabang ilmu lain. Jadi kalau itu di-merg di dalam universitas, itu secara psikologis akan meningkatkan kepercayaan diri. Dari segi profesi dapat terjadi proses saling memperkaya pengalaman antara yang guru dengan yang bukan guru (prodi ilmu murni:RED.),” paparnya.

Prof.Dr. Sutjipto lalu menyebutkan sisi lemah lembaga pendidikan guru seperti IKIP yang kemudian membentuk anggapan institusi guru sebagai kelas bawah. Menurutnya status IKIP itu membuat pemerintah membuat kebijakan yang pas bandrol untuk LPTK. Sebut saja pada spesifikasi laboratorium. “Lab misalnya, yang disediakan oleh pemerintah untuk kita adalah lab pendidikan. Jadi lab untuk mengajar guru-guru itu hanya standar untuk mengajar di laboratorium sekolah. Padahal harusnya labnya sejajar dengan universitas, untuk menemukan sesuatu untuk research. Jadi perbedaannya besar sekali,” ungkap Prof.Dr. Sutjipto.

Kendatipun konversi menjadi jalan keluar dari persoalan kelemahan yang menghinggapi LPTK, namun selaku orang pertama yang menjadi arsitek transformasi  IKIP Jakarta menjadi Universitas harus benar-benar sabar. Prof.Dr. Sutjipto mengaku sering ditentang para dosen sepuh, yang merupakan Begawan pendidikan IKIP Jakarta.

“Transformasi IKIP ke Universitas pun dicurigai,” ungkapnya. Prof.Dr. Sutjipto tentu harus mau mendengarkan dengan sabar semua kecurigaan itu. Hasil studi banding di sejumlah negara atas kampus produsen guru yang mengkonversi diri bisa menjadi modal untuk meyakinkan para dosen sepuh yang menentangnya. Tokoh ilmu pedagogik yang pernah menjadi murid Pakar Pendidikan Sekolah Dasar Prof.Dr. Pakasih Supartina ini tak menampik pula bila konversi di sejumlah negara menimbulkan gap kultural.

“Sebelum Transformasi IKIP menjadi Universitas, saya kan ditugaskan untuk pergi ke mana-mana, satu tim, membandingkan transformasi beberapa lembaga pendidikan guru menjadi universitas. Di Monash University, di Amerika Serikat, kita lihat, memang terjadi gap kultural sementara. Ini memang harus diatasi,” kata Prof.Dr. Sutjipto.

Di Amerika Serikat, tambahnya, orientasi guru sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi di luar sekolah. “Kalau di Amerika antara guru dengan pekerja yang di luar kan ditentukan oleh perkembangan ekonomi. Jadi kalau ada resesi, maka banyak yang dipecat, banyak yang jadi guru. Tapi kalau perekonomian maju, guru-guru banyak yang pindah ke perusahaan,” ungkap Prof.Dr. Sutjipto.

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.