Teater Hingga Senja: Konflik Anak Kehilangan Ayah

Pemain drama “Hingga Senja” selfi usai pagelaran

Keharmonisan ayah dan ibu sangat penting untuk mendukung pembentukan kepribadian anak. Kerukunan kedua orangtua tak ternilai dengan harta semewah apapun.

Hendrik Yap,

Setelah sukses memanggungkan lakon drama “Lir Ilir”, mahasiswa program studi Pedidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kembali menggelar teater di Gd. S, Fakultas Bahasa & Seni UNJ akhir pekan lalu. Kali itu judul yang dipentaskan adalah “Hingga Senja”.

Hingga Senja menceritakan kehidupan sehari-hari sebuah keluarga. Drama ini mengambarkan hubungan batin antara orang tua dan anak-anaknya. Konflik batin mulai dirasakan ketika sang ayah meninggalkan ibu dan anak-anaknya.

Keluarga ini terdiri dari empat anak perempuan dan sepasang suami istri. Ketika Ibu mengandung anak keempat, ayahnya pergi entah kemana.

Perubahan perilaku terjadi ketika anak keempat lahir. Ali Topan selaku Sutradara teater ini mengambarkan perubahan sikap anak-anaknya ketika ditinggal ayahnya. “Di sini lah konflik batin terjadi,” kata mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Indonesia 2016 ini.

Ia mengatakan sikap anak pertama yang paling menunjukan perubahan itu. Anak pertama menjadi nakal. Ia sering melawan ibunya. Anak ini juga membenci ayahnya. Sebab, ia pernah merasakan hidup bersama dengan ayahnya. “Anak pertama jadi pembenci,” kata Ali.

Konflik berlanjut ketika anak pertama ingin menikah. Sebagai anak perempuan, ia harus mendapat restu dari ayahnya. Namun, ibunya melarang. Sebab, ibunya selalu menanamkan janji suaminya bahwa ia akan kembali ketika senja datang. Akhirnya, anak pertama disuruh menunggu ayahnya oleh ibu.

Perbedaan sikap juga dialami oleh kedua adik anak pertama. Anak kedua lebih mengikuti kakaknya. Ia membenci ayahnya karena pengaruh kakaknya. Namun, sebetulnya ia sudah tidak peduli masalah keluarganya. Sedangkan, anak ketiga digambarkan tidak terlalu membenci ayahnya. Kemudian, anak keempat yang tidak merasakan kasih sayang ayahnya menjadi anak pemanja.

Menurut Ali, tema dipilih karena mengambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat. Terlebih pemilihan tema ini lebih manantang. Sebab, bagi Ali tema ini masuk ke dalam aliran realisme. Oleh karena itu, pemain harus memperhatikan detail-detail secara rinci. “Pemain harus memahami emosi para tokoh, layaknya sebuah keluarga,” kata Ali.

Biaya Penyelenggaraan

Sebetulnya, banyak tema menarik ketika pemilihan naskah, seperti tema fantasi dan trhiller. Namun, kedua tema itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. “Besar dananya,” kata Ali.

Ali mengaku membutuhkan dana sekitar dua juta untuk memproduksi gelaran teater ini. Dana tersebut dibutuhkan untuk menyewa kain, sound, dan perlengkapan lainnya. Untuk kostum pemain, Ali tidak terlalu bingung. Sebab, para pemain yang menyiapkan kostumnya.

Ali juga menceritakan masalah yang dilalui ketika mempersiapkan drama. Hari ke lima sebelum teater dimulai, seorang pemain terkena penyakit DBD. Beruntung, Ali sudah mengantisipasi kejadian ini. Ia memasangkan para pemain dengan pemain cadangan. Pemain cadangan itu harus selalu mengawasi serta memahami peran pemain. Tujuanya bila sewaktu-waktu pemain mengalami kendala untuk tampil, pemain cadangan segera menggantikan pemain itu.

Ali berharap penonton menyukai drama ini. Ia akan bangga ketika ada penonton yang menangis melihat pergelaran ini. “Ini menandakan pementasan sukses,” kata Ali.

Amalia Puspita, mahasiswa prodi manajemen pendidikan mengatakan teater ini memberikan ia inspirasi menjalani hidup. Selain itu, ia merasa beruntung masih memiliki ayah dan ibu. “Ini membuat saya terharu,” kata Amalia.

 

 

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.