Kebiasaan Membaca Bisa Melahirkan Pemimpin Bangsa

“Kita butuh mental pemimpin, bukan mental pejabat. Pejabat memikirkan diri sendiri, sedangkan pemimpin memikirkan kepentingan bersama,” kata Anhar Gonggong dalam seminar Refleksi 74 Tahun Pasca Kemerdekaan Indonesia di Aula Bung Hatta UNJ (3/8).

Pria berambut panjang ini melanjutkan, pemimpin mementingkan orang lain karena memiliki kemampuan melampaui. Hal ini yang membuatnya mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya.

Anhar tidak melihat jiwa pemimpin dalam diri pejabat. Bagi Anhar, pejabat hanya mementingkan kepuasan pribadi. Ia juga berpikir dan bertindak hanya untuk mempertahankan posisinya. Bahkan, sebagian dari mereka mengambil hak orang lain. “Pejabat banyak yang korup, pemimpin tidak akan melakukan itu,” kata Dosen Universitas Indonesia ini.

Untuk melahirkan pemimpin, lanjut Anhar, tujuan pendidikan perlu ditambahkan. Tujuan pendidikan tidak cukup sekedar mencerdaskan murid, tetapi menerangkan pula. “Tanpa ada lembaga pendidikan yang mencerdaskan dan menerangkan, tidak akan ada pemimpin yang mementingkan kepentingan bersama,” kata Anhar.

Senada dengan Anhar, JJ Rizal mengatakan, di Indonesia jarang ada pemimpin, yang ada hanya pejabat. Hal ini menjadi masalah, sebab pejabat tidak mengetahui cita-cita para pendiri bangsa.”Mereka tak tahu sejarah, ini masalah. Seharusnya mereka paham cita-cita berdirinya negara ini,” kata pemilik penerbit buku Komunitas Bambu ini.

Menurut Rizal, pejabat tidak banyak berpikir, justru sering membuat kericuhan. Padahal, diam sejenak untuk berpikir diperlukan.” Pramoedya Ananta Toer mangajarkan, kita butuh kesunyian bukan hanya ribut saja,” kata Rizal.

Supaya bisa membuat Indonesia berubah, Rizal mengingatkan generasi muda untuk meniru kebiasaan yang dilakukan para pendiri bangsa. Tiap waktu luang, para pendiri bangsa melakukan refleksi untuk menemukan dasar masalah. Refleksi mereka tidak sekedar merenung, tetapi juga membaca dan menulis. Kegiatan ini bisa menimbulkan pertanyaan kritis. Jawaban dari pertanyaan itu berfungsi untuk kemajuan bangsa.

“Tahun 1901, ada siswa sekolah dokter Jawa Abdul Rivai, dia orang pertama yang meletakkan akar dasar Nasionalisme. Ia bertanya Siapakah kita? Siapa bangsa Indonesia. Pertanyaan ini lahir setelah ia membaca buku.
Saya menyimpulkan, kalau kita engga punya bacaan, tidak bisa menimbulkan imajinasi dan memiliki kreativitas untuk membangun negara,” kata Rizal.

Ia juga mencontohkan kebiasaan Muhammad Hatta.

“Hatta pernah bilang dia bisa hidup di mana saja, asal dengan buku. Dia pernah menulis pernyataan ini di penjara Glodok tahun 1934. Surat ini dikirimkan kepada Sekretaris Dewan Pimpinan pusat Pendidikan Nasional Indonesia. Tulisan ini dimuat di koran Daulat Rakyat pada 10 Mei 1934. Dalam penjara, ia mengemban imannya sebagai pemimpin. Mereka bisa hidup di mana saja dengan buku. Ini menjadi titik sejarah kita, ” kata Rizal.

Kebiasaan para pendiri bangsa ini, akhirnya mampu merumuskan salah satu tujuan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagi mereka, kata mencerdaskan memiliki nilai perjuangan untuk menolak proses pembodohan yang dilakukan kolonialisme.

“Di dalam pembukaan UUD, tujuannya adalah menjelaskan kecerdasan bangsa. Mereka menentukan mencerdaskan, karena bagi mereka mencerdaskan adalah bentuk Nasionalisme. Dan Nasionalisme adalah anti tesis dari kolonialisme. Kolonialisme ialah proses pembodohan, ” Kata Rizal.

Bagi Rizal, kebiasaan membaca dan menulis, tidak timbul di generasi saat ini. UNESCO mengatakan dalam satu tahun masyarakat Indonesia hanya membaca satu buku. Padahal, kebiasaan membaca bisa melahirkan pemikiran untuk membangun bangsa.

” Soekarno, saat masih muda. Senang sekali, mengetahui ada perpustakaan di dekat tempat tinggalnya. Dia menganggap buku-buku di sana seperti peti harta kartun yang ia sendiri bisa menyelam. Soekarno berkata, dengan membaca saya ketemu orang-orang besar. Buah pemikiran mereka menjadi pemikiranku. Buah cita-cita mereka menjadi cita-citaku. Serta menjadi pendirian ku. Kalau kita seperti ini saja, kita bisa membangun Indonesia,” kata Rizal.

Diskusi ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan Hysteric yang diselenggarakan Bem Pendidikan Sejarah.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.