Kebangkitan Nasional, Refleksi Perjuangan Kaum Pelajar Memperjuangan Pendidikan untuk Semua

Mei menjadi bulan yang sibuk bagi aktivis pendidikan. Sebab, ada empat tanggal penting yang diperingati, yaitu Hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional, Reformasi 1998, dan Hari Kebangkitan Nasional. Tidak salah bila bulan Mei disebut para aktivis sebagai bulan pergerakan.

Di UNJ, empat tanggal penting itu, disambut mahasiswa dengan membuat berbagai kegiatan. Khusus memperingati Kebangkitan Nasional, ada mahasiswa yang melakukan demontrasi maupun mengadakan seminar. Terlepas dari bentuk peringatannya, tujuan mahasiswa melakukan itu, untuk menghormati dan bersimpati terhadap perjuangan aktivis pendidikan di masa lalu. Selain itu, simpati ini berguna sebagai refleksi bagi kaum terpelajar (mahasiswa). Dengan harapan bisa memperbaiki berbagai masalah yang ada di Indonesia.

Pernyataan itu diutarakan Romdhani Nur Sidiq, alumni mahasiswa Pendidikan Sejarah, dalam diskusi publik berjudul “Refleksi Kebangkitan Nasional dan Reformasi” di Plaza UNJ, Senin (20/5). Kegiatan ini dimulai pukul 16.00 hingga selesai.

Peristiwa Kebangkitan Nasional maupun reformasi, lanjut Sidiq, perlu dipahami sebagai gerakan kaum pelajar untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kaum pelajar, di kedua keadaan sejarah itu, berupaya melepaskan rakyat Indonesia dari belenggu ketertindasan dan kemiskinan.

Menurut Sidiq, kebangkitan Nasional identik dengan perjuangan kaum pelajar STOVIA untuk memerdekakan rakyat Indonesia melalui pendidikan. Awalnya, Wahidin Soedirohoesodo mengamati banyak rakyat Hindia Belanda – non priyayi – yang tidak dapat merasakan pendidikan di bangku sekolah. Atas dasar itu, muncul ide agar semua rakyat bisa merasakan pendidikan di bangku sekolah. Ide itu direalisasikan dengan membentuk lembaga dana pelajar (Studiefonds). Tujuannya untuk membiayai pemuda maupun pemudi yang cerdas namun tak mampu membiayai pendidikan.

“Saat Wahidin Soedirohoesodoe melakukan kampanye itu, ia bertemu Dr. Soetomo, pelajar STOVIA. Dr. Soetomo tertarik dengan gagasan Wahidin, akhirnya ia memberitahu ide itu kepada teman-temannya di STOVIA. Kemudian, terbentuklah organisasi Boedi Oetomo yang berlandaskan rasa empati kepada rakyat kala itu, ” kata Sidiq.

Begitu pula yang diupayakan oleh aktivis 1998. Bedanya, Boedi Oetomo berjuang dalam ranah pendidikan. Sedangkan, aktivis 98 tidak hanya bergerak dalam dunia pendidikan, tetepi bergerak pula dalam ranah politik. “Aktivis ’98 memperjuangkan nasib bangsa agar bebas dari belenggu rezim otoritarian Ord Baru,” kata Sidiq.

Aktivis’ 98 mampu menggulingkan pemerintahan Orde Baru. Sebagian besar aktivis ’98 berasal dari kaum terpelajar. Kaum pelajar ini mampu membaca konteks ketertindasan rakyat. Kemudian, merumuskan keresahan bersama dan mengembangkan kesadaran kolektif.

“Salah satu pengamatan aktivis ’98 ialah, mereka menganggap pemerintah Orde Baru adalah pemerintah yang korup,” kata Sidiq.

Bagi Sidiq, baik gerakan kebangkitan nasional maupun gerakan reformasi, perlu direfleksikan hari ini. Gerakan mereka belum sampai ke titik akhir. Perjuangan agar semua rakyat merasakan pendidikan belum usai.

“Proklamasi 17 Agustus bukanlah titik final bagi Boedi Oetomo. Reformasi 1998 juga bukan titik akhir perjuangan aktivis ’98. Lebih tepat mengatakan itu adalah sebuah contoh. Karena perjuangan agar masyarakat Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak belum usai,” kata Sidiq.

Fafa, mahasiswa Pendidikan biologi UNJ, sepakat perjuangan itu belum usai. Namun, Fafa menegaskan, mahasiswa jangan asal melakukan kritik kepada pemerintah. Mahasiswa juga perlu menawarkan pandangan alternatif mengenai pendidikan. Harapannya masalah pendidikan bisa ditemukan solusinya. “Perlu ada riset khusus mengenai ini,” kata Fafa.

Penulis : Hendrik Yaputra

Written by 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.